Heeeii sekarang aku beneran udah berani nyetir weeeee hahaha. Tapi sepertinya aku perlu memperbanyak jam terbang. Karena udah merasa bisa jadi tau ternyata lebih enakan duduk di kursi samping aja bak princess. Ditinggal main hp tau2 udah sampe hahaha. Ayooo semangat lg belajarnya
Wahai rumah, kita harus saling mengikhlaskan & melepaskan. Tolong segera cari penghuni baru, tolong aku agar berkurang hisabku. Kudoakan engkau mendapatkan penggantiku yg sholih, bersih, rajin dan amanah. Teruslah mnjd peneduh yg memberikan rasa aman dan nyaman.
Syg kamu byk2โค๏ธ
Surat cinta untuk rumahku
Berat kali rasanya mau pindahan ini.
Antara mager beresin barang dan perkakas sama berat ninggalin rumah perjuangan ini. Rumah pertama kami yg dibangun dgn cinta, semangat dan tekad. Rumah yg menjadi saksi bisu perjuangan cinta dan cita kami.
Walau sempat berlinang air mata dan kecewa karena rumah ini sempat ditinggal kabur tukang saat proses finishing, tapi terima kasih sudah menjadi tempat singgah & teduh kami. Bukan hanya tempat berteduh dari hujan & panas, tp jg menjadi peneduh dari mereka yg memandang kami rendah
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
@kangminlee Ah elah si white wannabe ini. Eh tong, we wash with water, you wape with paper, guess who is dirtier anjir? ๐คข
Membasuh burit pakai tisu aja belagu ๐คฎ
@bestiekylie@Sassy1063439784@trindhl@updatesjekeyti Ngapa jadi sekarang baru mau satukan suara ngajak2 guling lagi. Telat ege. Klo mau satukan suara tu noohh pas pemilu kemarin pilih yg jelas2 keberpihakannya kpd rakyat. Ini yg visi misinya udah jelas2 mau naikin gaji pejabat tetap lu pilih ya elu yg b3go
๐ต๐ธ๐ฎ๐ฉ โThe wall of Affan Kurniawanโs house, who was run over and killed by a police vehicle in Indonesia. He was a supporter of Palestine.โ
@fatwarakjat @toetakovic Omong kosong. Nakut2in aja kali. Klo udah prepare duluan ya kali ijazah, sertifikat tanah, jam RM yg gampang dibawa ga diumpetin dulu