@sabtudepan@tulus_aang iya pak, kecuali anak kita yang rebut mainan juga kita harus tegas kembaliin, tp kalo anak kita udah bela-belain sabar buat antri dan main terus dirampas kita harus bantu biar dia pede mempertahankan haknya, supaya gedenya ga jadi people pleaser ๐๐ป๐ญ
@sabtudepan ENGGAK SURUH AMBIL KEMBALI DAN SURUH BILANG KE ANAK YG REBUT HARUS ANTRI KALO MAU MAIN JUGA, kalo misalnya ortu no no no ikut campur, ikut turun tangan juga dan jelasin,
dia jawab ke ibu: "Iya Bu, nanti aku coba."
Tutup telepon. Istri diem. Lanjut kompres
30 menit kemudian. Demam turun. Anak tidur.
istri bilang,pelan:
"Kenapa bilang 'iya nanti aku coba'?"
"Biar ibu gak kepikiran aj"
"Tapi aku UDAH kasih obat yg bener. malah bilang ke ibu,seolah2 aku SALAH."
dia diem."Ini bukan soal kerokan.paracetamol. Ini soal: siapa yg kamu PERCAYA dalam ngurus anak kita?"
Dan dia gak bisa jawab.Karna malam itu, tanpa sadar, udah kasih jawaban. "Iya Bu, nanti aku coba"
@bopo_jodhipati@SeputarTetangga papaku kecanduan dracin, ditengah circlenya pada maen slot syukurnya ga ngerti main slot,rela beli hp jadul bekas yg aku kaget kok pumya hp, ternyata cuma buat nonton dracin gapake kartu kuota cuma pake wifi only dracin wmwm
Sayalah kelas menengah ke bawah yang sudah prepare itu. Sebagai orang tua tunggal yang berada di kubangan kemiskinan struktural dan punya 2 anak dari 2 generasi (Gen Z dan Alpha), ini yang saya lakukan:
1. Anak pertama (perempuan, usia 23 tahun, semester 6 teknik elektro)
- Sudah punya paspor
- Bahasa Korea
- Bahasa Inggris, score TOEFL -nya lumayan
- Bahasa Jepang
- Ngoding
- Software (Ms. Office, Autocad, Photoshop, dll.)
- Menulis (fiksi dan nonfiksi)
Selain itu, saya mengerahkan semua networking yang saya miliki untuk memastikan dia mendapat beasiswa S2 dan S3 serta cabut dari Indonesia.
Oktober nanti dia akan ke Malaysia dalam rangka pertukaran mahasiswa.
2. Anak kedua (laki-laki, 11 tahun kelas 4 SD)
- Ngoding (Python, LUA)
- Software (Ms. Office dan berbagai aplikasi untuk editing foto dan video)
- Bahasa Inggris
- Literasi digital
- Menggambar dan melukis
----
Saya sendiri tahun ini masuk ke UT ambil prodi Sains Data dan sedang belajar bahasa Jepang. Kuliah agar selain mempersiapkan masa depan anak-anak, saya juga mempersiapkan masa pensiun agar tidak menjadi "beban finansial" bagi mereka.
Saya serius ketika mengatakan, "Demi anak-anak, aku siap bertarung melawan dunia." ๐ฅ
Di tengah kondisi begini, saya kepikiran gimana ya mengarahkan anak yang lahir dari kalangan menengah kebawah agar besarnya survive dan naik taraf hidupnya.
Saya kepikiran,
1. wajib sekolah yang bener sampe level SMA/SMK, untuk bekal daya nalar dan analisa berpikir.
2. Sejak SD atau SMP fokus mengasah skill lain. Bisa bahasa Inggris/Jepang/Korea atau video editing atau menggambar.
Harapannya skill tersebut bisa dipelajari secara otodidak dari berbagai sumber yang tersedia di Internet.
Setelah lulus SMA, tergantung minat, kalo ada kesempatan bisa lanjut sekolah. Kalo engga, bisa apply kerja migran di luar negri sambil nabung, sekolah lanjutan dsb. Atau kerja berbasis skill seperti video editing, clipper, jualan hasil gambar digital, dsb.
Atau bisa terjun bisnis kalo ada bakat dan modalnya.
Mungkin ada yang udah pengalaman dan sukses bisa memberikan tipsnya buat adik-adik atau para ortu yang struggle untuk memperbaiki taraf hidup anaknya?
@fajarrusalem alhamdulillah kecil dan gede belom di izinin punya mobil pribadi, tapi ganti-ganti mobil, dari angkot warna biru, kuning, merah, terus pas gedenya dan punya bocil mobilnya ganti-ganti sesuai pick up dari grab/gojek/maxim-nya ~
Gilaaa... ini kelanjutan yang kemarin.
Ada cowok Jepang pedofil sering ke Jakarta nyariin anak kecil untuk seks sambil direkam ๐คฎ๐ญ
Dia ceritain di postingan X-nya kalau 15 Agustus 2025 lalu dia digrebek polisi Indonesia di kamar hotelnya. Bukannya ditangkap malah dilepas (disogok??). Polisi malah bilang โgoodโ sambil ketawa waktu lihat video2nya dia, trus nanya โcewe Jepang harganya berapa?โ ๐คฌ
Tiap bulan dia balik lagi ke sini. Dia ngerasa sedang ngasi sedekah/sumbangan ke anak2 miskin Indonesia dengan bayar prostitusi anak ini ๐คฌ
Dia ga sendirian, banyak banget sekarang pedofil Jepang yang dateng ke sini tiap bulan. Mereka ngerasa aman, kayak lagi di jajahan sendiri. Mereka dengan bangga & terbuka pamer video creampie (ejakulasi di dalam) ke anak2 perempuan kita ๐ญ๐คฌ
Haloooo @DivHumas_Polri@ditjen_imigrasi@KPAI_official@kpp_pa , ambil tindakan serius dong!!
Baca utas kakaknya ini:
@tanyarlfes pun kalo mau coba nyaman di bidan boleh jg konsul pegang 1 bidan, cari tau jg fasilitas rs dari temenโmu yg sudah lahiran di rs di kotamu, semangat nder semoga lancar
@tanyarlfes konsultasiin ama obgyn yg selalu kontrol tiap bulan kak, bisa aja lahiran normal kok di rs dan bpjs, cari tau rs tempat obgynmu praktek dan banyak tanya sistem rs nya gmn ama doktermu, biasa nanti masuknya lewat igd rs, cari obgyn ternyaman dan pegang 2-3 dokter
@tanyakanrl kalo buat anaknya : kalo pake tisu basah beliin banyak nder atau pampers kerasa banget, kalo agak awet handuk kualitas oke buat bayi, atau mpasi chair, kalo buat ibu : daster? alat pijit murah shopee/kalo suka pijit, bra menyusui, makanan enak
@SaulRaja biasa aku sama suamiku bikin lukisan, kebetulan suami bisa gambar, lukisan canvas/gambar gitu pokoknya, kalo berupa barang bingung mau nominal berapa ๐
Katanya cobaan itu sesuai kemampuan kita.. tapi kenapa masih ada yang sampai menyerah?
Aku baca komentar itu dan diam cukup lama.
Karena pertanyaannya jujur.
Dan banyak yang ngerasa hal yang sama tapi nggak berani ngomong.
Jawabannya bukan karena Allah salah takaran.
Tapi karena ada sesuatu yang terjadi di antara ujian itu datang dan kita menanggungnya.
Kita menanggungnya sendirian.
Tanpa cerita ke siapapun.
Tanpa nangis yang beneran.
Tanpa pernah benar-benar minta tolong ke manusia, apalagi ke Allah.
Imam Qurthubi pernah menjelaskan sesuatu yang penting..
Beban yang Allah berikan selalu dalam jangkauan kemampuan hamba-Nya. Tapi kemampuan itu bukan ukuran yang kita hitung sendiri dengan logika kita.
Allah yang tahu takarannya
Dan Allah yang menyiapkan jalan keluarnya
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)
Masalahnya..
Kita sering fokus pada besarnya beban.
Bukan pada besarnya Dzat yang menanggung beban itu bersama kita.
Saat hati jauh dari Allah, beban yang sebenarnya bisa dilewati terasa mustahil.
Bukan karena terlalu berat tapi karena kita menanggungnya tanpa kekuatan yang seharusnya ada
Dan realitanya..
Banyak yang menyerah bukan karena bebannya melebihi kemampuan, tapi karena mereka kelelahan menanggung sendirian
Kelelahan berpura-pura baik-baik saja
Kelelahan merasa tidak ada yang akan mengerti
Kalau hari ini kamu lagi di titik itu..
Kamu boleh lelah
Kamu boleh nggak kuat
Tapi jangan putus dari satu-satunya yang benar-benar tahu seberapa berat yang kamu rasakan. Ceritakan semuanya kepada Allah
Dalam sujudmu
Dalam diammu
Dalam air matamu yang selama ini kamu tahan
Karena Allah tidak pernah salah takaran, dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian di tengah ujian
Bertahanlah!!!!
Bukan karena mudah, tapi karena di balik setiap kesulitan, Allah sudah menyiapkan jalan yang kamu belum bisa lihat hari ini