Halo @eigeradventure jujur kaget saya dapat surat begini dari anda.
Lebih kaget lagi baca poin keberatannya.
Saya kan review produk gak anda endorse. Kalau anda endorse atau ngiklan boleh lah komplen begitu.
Lha ini beli, gak gratis, lalu review pake alat sendiri.
Dia “Di Jakarta, lo ngalamin itu setiap saat. Setiap punya urusan, selalu ketemu hal2 yg ngga bisa lo kontrol & prediksi. Lalu terakumulasi tanpa sempat bernafas lega. Sementara di NYC, you’re in control, relatively.”
Semakin merasa terbatas, semakin merasa miskin, semakin merasa ngga mampu ngapa-ngapain,
semakin sempit hati kita, semakin sulit untuk bernafas dan bersyukur.
Syukuri dengan apa yang dimiliki sekarang. Optimalkan apa yang tercukupi sekarang. Jauhkan pola pikir merasa miskin yang membuat sempit taman bermain. Dunia yang besar adalah taman bermain yang sesungguhnya, bukan hanya pekarangan rumah.
Kalau menurut gue, begitu hidup & kerja di luar jadi sadar tentang management waktu, termasuk waktu utk keluarga/personal.
Di NYC sini, kerjaan jauh lebih banyak dibanding saat di Jakarta. Tapi krn tetap dijaga porsinya, jadi ngga berat. Karena: porsi utk istirahat terjaga.
Bukan demi klien, bukan demi perusahaan, tapi demi karya, karir, passion bersama. Semua masalah akan jadi bahan pelajaran bersama. Turut serta sebagai problem solver juga jadi penentu rapor evaluasi kerja.
Pekerjaan by shift seperti rumah sakit, keamanan, news pun ada batas waktu 8-9 jam. Di luar itu, dianggap overtime & mesti flagged by management sebelum jadi kebiasaan.
Selama hidup di Jakarta gue ngga sadar punya masalah dng kesehatan mental & gampang stress.
Begitu merantau, perlahan menyadari itu. Setelah sekian tahun ada dua faktor yg bikin stress selama di Jakarta: traffic Jakarta & jam kerja yang panjang. Dua hal yg gue sepelekan #curcol