Berkata-katalah,
namun harus menyertakan kesadaran,
bahwa,
kata-katamu berkait-erat
dengan perasaan orang lain.
Rekso,
jogo,
pertimbangkan,
sebelum kata-kata itu
meluncur deras.
Jangan sampai,
menusuk keras,
meski kau cabut,
tapi masih berbekas.
Besok di akhirat, ada kejadian unik nih...
Allah SWT bertanya kepada setan dan konco²nya,"Kalian yang membuat mereka itu tersesat yah?"
Setan dan konco²nya jawab,"Ya Allah, mereka itu udah sesat sendiri tanpa kita sesatin. Kita aja sampai geleng-geleng kepala lihat kelakuan mereka."
Kira-kira kelakuan apa nih yg sampai setan aja heran dengan apa yang dilakukan manusia??
Saldo tabungan bokap gw tiap bulan kepotong Rp 50 ribu otomatis. Di mutasi cuma tertulis: "Premi".
Pas bokap meninggal, gw ke bank mau tutup rekening. CS mau cairin sisa saldo Rp 10 juta. Gw hampir setuju.
Tapi gw iseng tanya soal potongan premi itu. CS langsung berubah muka. Ternyata saldo yang harusnya gw terima Rp 100 juta.
Manfaat ini sering terlupa ahli waris. Namanya: A****** P*********.
"Maksudnya potongan Rp 50 ribu itu asuransi jiwa?" tanya gw kaget.
CS itu ngejelasin sambil narik napas panjang. "Iya Pak, ini adalah produk asuransi mikro yang melekat pada tabungan. Jika nasabah meninggal dunia, ahli waris berhak atas santunan tunai di luar saldo tabungan."
"Masalahnya, sistem bank gak otomatis 'tahu' kalau nasabah meninggal untuk urusan asuransi. Kalau ahli waris gak klaim, uang santunan itu selamanya bakal nginep di perusahaan asuransi."
Dia ngerendahin suaranya pas proses tutup buku rekening dilakukan.
"Banyak bank punya program bundling tabungan dengan asuransi jiwa. Preminya kecil, tapi manfaat santunannya bisa puluhan sampai ratusan kali lipat dari premi bulanan."
"Bank gak akan proaktif nawarin pencairan asuransi ini pas lo mau tutup rekening. Mereka cuma fokus di saldo tabungan. Kalau lo gak teliti liat mutasi, hak lo bakal angus gitu aja."
"Serius santunannya bisa sebesar itu?" gw gak percaya.
Dia ngangguk, lanjut kasih rincian gimana "Saldo Tersembunyi" ini bisa jadi penyelamat keluarga:
Premi Rp 50.000/bulan: Santunan bisa mencapai Rp 50-100 juta.
Santunan Kematian: Cair 100% jika nasabah meninggal karena sakit atau kecelakaan.
Ahli Waris: Wajib diajukan oleh keluarga yang terdaftar dalam Kartu Keluarga.
"Uang Rp 50 ribu yang lo kira biaya admin itu sebenarnya investasi bokap lo buat ninggalin warisan buat anaknya."
"Yang paling gak adil yang mana?" tanya gw lemes.
"Masa kedaluwarsa klaim. Biasanya klaim asuransi jiwa di bank punya batas waktu 60-90 hari setelah nasabah meninggal."
"Kalau keluarga baru sadar setahun kemudian, asuransi punya alasan legal buat nolak klaim karena sudah lewat masa pelaporan."
"Ini keuntungan 'laba mati' bagi perusahaan asuransi dari ribuan nasabah yang ahli warisnya gak paham isi mutasi rekening."
"Cara cek asuransi di tabungan keluarga?"
CS kasih 4 langkah:
1. PRINT REKENING KORAN. Cari potongan rutin 'Premi', 'Insurance', atau kode khusus bank.
2. TANYA PRODUK TABUNGANNYA. Beberapa tabungan otomatis dapet proteksi jiwa tanpa daftar.
3. CEK POLIS DIGITAL di m-banking. Ada menu 'Asuransi Saya' yang jarang diklik.
4. JANGAN LANGSUNG TUTUP REKENING. Urus semua manfaat asuransi sebelum hapus akun.
"Senjata paling simpel satu aja?" tanya gw.
Dia kasih satu tips maut biar gak kecolongan hak warisan.
"Setiap urus penutupan rekening orang meninggal, selalu tanya: 'Apakah almarhum memiliki produk asuransi atau proteksi saldo yang melekat pada akun ini?'"
"Begitu lo tanya spesifik, CS wajib ngecek database asuransi partner bank. Jangan biarin mereka cuma cek database saldo tabungan doang."
Gw akhirnya dapet santunan Rp 100 juta itu setelah nunggu proses administrasi sebulan. Duit yang bener-bener gak disangka bakal ada.
Gw bilang ke temen gw pas lagi urus nisan bokap: "Gi, gw salah karena gw pikir potongan kecil di bank itu cuma biaya 'sampah'. Ternyata itu 'hadiah' terakhir bokap buat kita."
"Jangan remehkan angka Rp 50 ribu di mutasi. Itu bisa jadi jaring pengaman terakhir keluarga saat tulang punggung udah gak ada."
Pesan buat lo yang punya orang tua atau pasangan yang punya rekening bank:
Minta izin buat cek mutasi mereka sesekali. Bukan buat kepo, tapi buat mastiin gak ada hak asuransi yang terabaikan kalau hal buruk terjadi.
Jadilah ahli waris yang teliti. Uang itu hak almarhum yang harusnya sampai ke tangan lo.
Dan inget, bank itu lembaga profit. Mereka gak akan maksa lo buat ambil duit santunan kalau lo sendiri gak minta.
Makin cerdas lo baca mutasi, makin terjaga aset keluarga lo dari sistem yang seringkali "lupa" ngi
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.
MANDUL YANG SESUNGGUHNYA:
Rasulullah bersabda,
"Bukan itu orang yang disebut mandul, tetapi orang yang punya banyak anak tetapi anak-anaknya tidak ada yang memberi manfaat kepadanya sesudah dia meninggal."
HR. Muslim no.2608
_PENGINGAT DIRI_
Dulu ktika rakyat Syam mengalami krisis, Sayyidina Umar mengambil tindakan preventif. Katanya,
أفر من قدر الله إلى قدر الله.
Aku akan menghindari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.
Shaykh 'Abd al-Qādir al-Jīlānī, melalui reportase Al-Sayyid Ahmad Zaynī Dahlān dlm Taqrīb al-Ushūl Litasĥīl al-Wushūl Lima'rifatillāh wa al-Rasūl, mengatakan,
ليس الرجل من يسلم للأقدار إنما الرجل من يعارض الأقدار بالأقدار!
Bukan dinamakan laki-laki mereka yg pasif akan takdir. Laki-laki adalah mereka yg mereformasi satu takdir dgn takdir yg lain.
Ini sebagian kecil contoh sikap Ahlusunah Waljamaah. Sedangkn di bawah ini, contoh sikap Jabariah.
"Tersenyumlah, tak ada kerugian didalamnya. Tuhanmu ada, rezekimu sudah tertulis, umurmu sudah ditentukan. Jadilah orang yang menyenangkan agar kau selalu melihat orang-orang di sekitarmu bahagia."
- Syaikh Mutawalli Asy-sya'rawi
RINDUNYA BILAL PADA NABI ﷺ
Selepas kewafatan Baginda, Bilal r.a. berpindah ke Syam. Suatu malam, beliau bermimpi melihat Nabi ﷺ dalam tidurnya.
Nabi ﷺ bertanya kepadanya:
مَا هَذِهِ الْجَفْوَةُ يَا بِلاَلُ؟ أَمَّا أَن لَكَ أَن تَزُورَنِي؟
"Sikap keras apakah ini wahai Bilal r.a.? Bilakah engkau akan menziarahiku?"
Bilal r.a. bangun dalam keadaan sedih, kerinduan dan terus menaiki tunggangannya menuju ke Madinah. Sampai di Madinah, dia terus menziarahi makam Nabi ﷺ sambil menangis dengan penuh kerinduan yang amat sangat terhadap Baginda ﷺ.
Selepas itu Beliau menziarahi Sayidina Hasan r.a. dan Sayidina Husain r.a. sambil mencium dan memeluk kedua-duanya. Kedua-duanya meminta agar Bilal r.a. mengumandangkan azan dan dia tidak keberatan melakukannya.
Bilal r.a. lantas naik ke atas bumbung untuk melaungkan azan. Ketika dia mengumandangkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”... Madinah bergema dengan suara tangisan para penghuninya.
Ketika melaungkan: “Asyhadu alla Ilaha illah”, tubuh Bilal r.a. seakan-akan bergetar.
Ketika melaungkan: “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, bercucuranlah air mata mengalir ke pipinya mengenangkan saat-saat sewaktu bersama Rasullullah ﷺ tercinta.
Ketika itu keluarlah gadis-gadis dengan air mata yang mengalir sambil bertanya kehairanan, ‘Rasulullah dibangkitkan lagi?’
Tidaklah dilihat ramainya lelaki dan wanita yang menangis di bumi Madinah selepas kewafatan Rasulullah melainkan pada hari itu.