Selamat malam Twitterland..!!
Gw pengen nawarin jasa lukisan hitam putih. Bisa berupa wajah org maupun selain itu, yg penting ada contoh foto acuannya. Utk hrg langsung DM yah, krn tergantung kerumitan. Cocok utk hadiah/pajangan. Hasil terbaik utk org terbaik!!!
๐จ I WARNED YOU. A BIG STORM IS COMING!!
Everyone's staring at red numbers this week. Almost nobody's noticing the thing that actually matters: they're all red at the same time.
Korea down 10% in a day. Japan, Europe, US futures all sliding together. Crypto rolling over. Gold off its highs. Different countries, different asset classes, different storiesโฆ one direction.
Here's what that means, in plain terms.
In a healthy market, things disagree. Stocks zig, bonds zag, gold does its own thing - because each is pricing its own reality.
But when everything starts moving as one block, that's not a bunch of separate markets anymore. That's a single, giant, leveraged bet wearing a hundred different tickers.
And we've seen what happens when that bet unwinds:
โ 2008 - correlations went to 1, and "safe" and "risky" fell together. Nowhere to hide.
โ 2020 - every screen turned red in the same week, until the Fed flooded the system.
โ Right now - the same convergence is showing up again. Quietly. Across borders.
When markets fuse like this, individual analysis stops working. You're no longer holding "stocks" and "crypto" and "gold." You're holding one trade - and it only takes one shove to move all of it at once.
Look underneath the surface and the pressure is obvious:
โ Bond yields flashing stress
โ Liquidity tightening in the background
โ A Fed boxed into a corner - ease and reflate the bubble, or tighten and crack an overextended market
Either path leads to the same place. Something breaks.
That's the part people miss. A crash doesn't announce itself with one scary headline. It announces itself when correlation goes to one - when the market stops being a market and becomes a single, fragile thing that all moves together.
That's what just started this week.
Most people will call it "a normal pullback" right up until it isn't. I've spent 10 years watching turning points form, and this is exactly how they look from the inside.
When everything moves as one, the only question left is which way and this week, it picked down.
Don't be the last one still treating it like business as usual.
Guys, ada satu pengakuan dari akademisi yang menurut gue paling penting dan paling jarang diungkap secara terbuka tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan ekonomi Indonesia.
Setiap tahun kita merayakan data bahwa Singapura adalah investor terbesar di Indonesia.
Tepuk tangan.
Bangga.
Wah, investor asing makin percaya sama kita.
Tapi ada satu kemungkinan yang jarang dibahas:
sebagian besar uang itu bukan uang Singapura.
Itu uang kita sendiri yang pulang
kampung pakai kostum bule.
Modusnya bernama round trip investment.
Begini caranya:
pengusaha super kaya Indonesia eksploitasi sumber daya alam nikel, batu bara, sawit.
Operasionalnya pakai rupiah. Gaji buruh pakai rupiah. Semua biaya produksi pakai rupiah kita.
Tapi keuntungannya disisihkan dan ditransfer ke perusahaan cangkang di Singapura.
Di sana uang itu "dicuci" jadi modal asing.
Lalu dibawa balik ke Indonesia sebagai investasi asing alias FDI.
Lima taipan terkaya Indonesia menurut riset yang dikutip narasumber menguasai lebih dari 40% perputaran uang di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Big Five-nya:
Sinarmas Group, Indofood Group milik Antoni Salim, Sukanto Tanoto, Wilmar, dan Adaro milik Garibaldi Thohir.
Dan ini bagian yang paling bikin emosi:
produksi mereka pakai rupiah, tapi mereka jual hasilnya ke luar negeri dibayar dolar.
Kalau kita mau beli balik dari mereka kita juga harus bayar dengan dolar.
Artinya begitu dolar naik dari Rp17.000 ke Rp18.000 mereka otomatis untung.
Tanpa kerja tambahan apapun.
Sementara rakyat menjerit karena harga naik ada kelompok yang justru tepuk tangan karena keuntungan mereka otomatis melonjak.
Kenapa Singapura jadi surga buat mereka?
Pajak rendah.
Identitas pemilik dilindungi tidak akan pernah diungkap siapa pemiliknya.
Kepastian regulasi dikunci puluhan tahun.
Dan yang paling penting tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
Logikanya sederhana:
cari duit sebanyak-banyaknya dari Indonesia, bawa ke Singapura, dan di sana kamu dilindungi.
Selama ini tidak diubah Singapura akan terus jadi investor nomor satu di Indonesia sampai kiamat.
Kelompok ini juga melakukan political funding ke partai-partai politik.
Tidak ada bukti tertulis tapi semua orang yang paham ekonomi politik tahu denyutnya ada.
Itulah kenapa kalau pemerintah mau pajaki mereka dengan pajak besar selalu ada yang namanya ewuh pekewuh.
Dan kelompok ini paling masif dan paling makmur justru di era pasca-SBY, terutama era Jokowi.
Kenapa? Omnibus Law.
Undang-undang yang cacat dari awal dan kecacatan itu yang mereka manfaatkan untuk ekspansi kapital ke seluruh Asia Tenggara.
Bedanya dengan era Soeharto:
dulu konglomerat diasuh oleh kekuasaan.
Mereka dikendalikan, dipagari, tidak bisa seenaknya.
Pasca reformasi terbalik.
Konglomerat yang mengasuh pemerintah.
Era Orde Baru, konglomerat masuk istana tapi masih di pagar. Pasca reformasi, mereka sudah di dalam, bikin pagar sendiri, ngatur semuanya.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan untuk situasi sekarang:
ketika pemerintah mulai serius dengan agenda transparansi audit tambang, NGO minta data, mahasiswa minta keterbukaan itu mengganggu rasa aman kelompok ini.
Reaksinya?
Tarik dana yang sudah ditanam di Indonesia.
IHSG turun terus.
Rupiah melemah.
Dan civil disobedience yang muncul di masyarakat bisa jadi termasuk belanja isu yang dikehendaki oleh pemain-pemain besar ini.
Kalau rakyat sudah tidak percaya pada pemerintah, situasi kacau mereka bisa eksploitasi lebih banyak lagi.
Tidak ada keamanan, ambil saja, ambil saja.
Stabil mereka profit.
Rusuh mereka tetap profit.
Itulah kapitalisme super.
Potensi kerugian negara dari praktik ini diperkirakan lebih dari Rp500 triliun itu baru dari estimasi pajak yang mereka bayar di Singapura dibanding yang seharusnya masuk ke Indonesia.
Nilai sebenarnya di belakang jauh lebih besar dari itu.
Solusinya sudah jelas:
investigasi round trip investment, audit berdampak dengan sanksi pengembalian dana, dan ubah undang-undang investasi supaya modal asing harus benar-benar asing bukan uang Indonesia yang dicuci di luar lalu dibawa balik.
Prabowo punya pengalaman hidup di kawasan itu cukup lama dan tahu praktik ini.
Tapi sampai sekarang ini baru sebatas belanja masalah. Belanja isu.
Kapan akan dieksekusi tergantung siapa yang menentukan prioritas.
Dan pertanyaan terakhir yang paling mengerikan: apakah ada kaki tangan kelompok ini di dalam pemerintahan Prabowo sekarang?
Jawabannya: sepertinya tahu karena Prabowo sudah bergaul dengan keluarga Cendana puluhan tahun dan sudah hafal pola-polanya.
Artinya Prabowo mungkin tahu siapa mainin apa.
Tapi apakah dia akan, atau bisa, bertindak itu pertanyaan yang sampai sekarang belum ada jawabannya.
selama Indonesia merayakan Singapura sebagai investor nomor satu tanpa pernah bertanya berapa persen dari uang itu sebenarnya milik orang Indonesia sendiri yang dicuci lewat Marina Bay kita akan terus jadi negara yang dieksploitasi oleh dirinya sendiri.
Bukan dijajah asing.
Tapi dijajah oleh segelintir keluarga sendiri yang lebih nyaman menyimpan kekayaan negara di luar negeri daripada membangun negaranya.
Dan setiap kali rupiah melemah, BBM naik, dan rakyat menjerit ada segelintir keluarga yang justru otomatis lebih kaya tanpa perlu berbuat apa-apa.
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
satu hal yg gw paling malas kalo bahas pajak trus dapat komen:
"percuma aspek penerimaan pajaknya dibenerin, kalo spendingnya masih plenger"
ya gimana, >70% APBN dari pajak
pingin sih ngandelin dari BUMN cuma itu BUMN isinya politisi2 dan jenderal2 plenger ga bisa baca lapkeu
Nurdin Halid , terpidana korupsi distribusi minyak goreng Bulog, merugikan negara lebih dari Rp 169 miliar, vonis MA 2 tahun penjara, bebas 2006.
Setelah bebas: tetap jadi Ketua PSSI, lanjut ke DPR, jadi pengurus Golkar bertahun2.
Pemilu 2024? Lolos ke Senayan lagi dari Dapil Sulsel II dengan 70 ribu lebih suara.
Sekarang Wakil Ketua Komisi VI DPR RI , komisi yang mengawasi BUMN dan perdagangan.
Biar lo paham betapa absurdnya ini: orang yang korupsi distribusi minyak goreng Bulog , sekarang duduk di komisi yang mengawasi Bulog dan sejenisnya.
Mahasiswa bahkan udah laporin dia ke MKD DPR Februari 2025 karena statusnya sebagai eks napi tipikor. Tetap aja masih di sana.
Di negara ini, koruptor nggak cuma bebas , mereka naik pangkat.
Sebenernya salah 1 penyakit kronis banyak WNI itu adalah: oportunis level eksploitasi apapun untuk diri sendiri.
Ini mental koruptor.
โ Pemotor pake trotoar (peduli setan ama hak pejalan kaki toh lagi kosong).
โ Korupsi haji & penggelapan uang umroh (peduli setan udah nunggu ataupun nabung puluhan tahun).
โ Nimbun pembalut gratis di wc dan buat diambil sendiri (peduli setan kalo ada yg mendadak dapet).
โ Jualan kelontong tabung gas di trotoar (peduli setan, toh orang pada pake motor).
โ Hangout di cafe/di sebuah tempat tapi parkirnya di trotoar (gak ada pilihan, adanya itu)
Apalagi ketika kerugian orang lain gak โvisibleโ atau โinstanโ, maka โgak berasaโ dan akan dalih โgak merugikan orang lainโ atau โmereka gak pakeโ atau โkapan lagiโ.
Ini cross level ekonomi dan intelektual.
Ini penyakit kronis dan laten.
Pertanyaannya, ini rootnya dari mana karena kelakuan ini โmasifโ.
@genghiscattt@fxmario Iya juga bang yah. Hebat juga itu ajaran Paulus yang ga pernah ketemu langsung pas Yesus hidup. Cuma modal ketemu dari mimpi aja. Sampe langgeng itu ajaran nya sampe masa depan? Kuasa apa yg bikin Paulus hebat bgt begitu? Btw yg bener agama Kristen bang. Bukan agama nasrani.