Makna Berjamaah
Secara psikologi, manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup sendirian. Jiwa haus akan keterhubungan. Abraham Maslow menempatkan belongingness—kebutuhan diterima dan menjadi bagian dari kelompok—sebagai inti kesejahteraan. Tanpa kebersamaan, hati rapuh dan cemas.
Islam memberi obat hati: berjamaah. Rasulullah bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar bahas pahala, tapi juga kesehatan jiwa. Dalam shalat berjamaah, seseorang melepaskan ego, larut dalam gerakan dan doa yang sama. Secara psikologis, ini menciptakan kesatuan batin yang menenangkan, meredakan stres, dan memperkuat rasa memiliki. Itulah makna 27 derajat: dalam jamaah, kebaikan tumbuh dan berlipat ganda.
Sosiologi pun menyingkap hal serupa. Emile Durkheim memang tidak bicara shalat, tapi dalam The Elementary Forms of Religious Life ia menunjukkan bahwa ritual kolektif melahirkan social solidarity—kohesi yang menjaga masyarakat. Ritual menciptakan “letupan energi kolektif” (collective effervescence) yang membuat manusia merasa bagian dari kekuatan bersama.
Para ulama Islam juga menekankan hal ini. Al-Ghazālī dalam Kitab Ihya menulis bahwa ibadah berjamaah melatih hamba keluar dari individualisme menuju solidaritas. Di masjid, sekat dunia runtuh: kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, semua sejajar di satu saf.
Puncaknya adalah shalat Jumat. Sekali sepekan, umat dikumpulkan dalam satu barisan, mendengarkan khutbah yang mengingatkan persoalan hidup, lalu menutupnya dengan doa bersama. Allah berfirman:
“apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. al-Jumu‘ah [62]: 9)
Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan urusan ekonomi harus berhenti sejenak demi Jumatan. Jangan takut rugi bila engkau tinggalkan sebentar. Justru saat itu tumbuh solidaritas, memperkuat persaudaraan, dan menghubungkan hatimu dengan sesama serta dengan Allah. Dari jamaah inilah keberkahan hidup bisa 27 kali lipat.
Sayang, kita hanya berjamaah dalam shalat. Di luar masjid, kita berantakan, mencaci, dan merasa lebih suci 27x dari yang lain.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Trump merasa lebih pintar dari penasihat Harvard-nya.
Ia naikkan tarif impor China dari 2% jadi 54%, abaikan peringatan mereka.
Akibatnya, rakyat AS sekarang harus bayar ekstra $3.800/tahun.
Berikut kesalahan sombong Trump menghancurkan ekonomi Amerika: 🧵
Alangkah bedanya anak2 Presiden Gus Dur dengan anak2 Presiden Jokowi.
Yg pertama mandiri, cerdas, punya kepedulian kpd keadan tanahair, dan tak akan naik jet pribadi sekeluarga utk bersekolah.
Anak Jokowi — semuanya — hanya menonjol karena dijinjing bapaknya yg sedang jadi presiden. Bahkan sbg pebisnis, ternyata mereka ditopang orang2 kaya koneksi ayah mereka.
Kasihan sebenarnya. Meskipun hidup mereka gilang gemilang.
Mau sepuluh Gus Mus, ratusan Goenawan Muhammad, atau beribu2 lagi yg mengaku tokoh bangsa, ndak akan ngefek apapun atas yg sudah terjadi. Percaya saja tidak mungkin rakyat.
Lebih layak dihormati perjuangan prof @dennyindrayana. Ini soal hukum, maka jalur hukum menyelesaikannya
Ada anak2 perempuan, siswa, yg rambutnya dipotong sampai nyaris gundul oleh guru mereka karena tak mengenakwn jilbab.
Hukuman atas nama agama.
Begitu banyak orang dianiaya utk Tuhan. Saya tak tahu di mana ucapan “tak ada paksaan dalam agama”? Di mana pula hak asasi?
Sinting rasanya baca berita gini pagi2: Kepala Bazarnas Marsdya Henri Alfiandi kentit Rp 88 M. Caranya, meminta 10% dr proyek2 dilembaganya. Anjir. Tp seluruh planet tahu praktek ini merata di semua lembaga negara. Ayo @KPK_RI, ayo @KejaksaanRI.
Jawa Barat juara investasi 5 tahun berturut-turut karena konsepnya, kita harus rajin menjemput bola bukan menunggu bola. Karena rejeki itu harus dicari bukan ditunggu.
Itulah kenapa kami mendatangi markas Wuling Motor di Kota Liu Zhou, Guangxi.
Hasilnya? Deal investasi 2 trilyun untuk pengembangan industri mobil listrik Wuling di Jawa Barat. Kebetulan Wuling markasnya ada di kota Liu Zhou yg merupakan sister city dengan Kota Bandung. Dan provinsinya Guangxi adalah sister province dengan Jawa Barat.
Di Kota Liu Zhou ini, populasi mobil listriknya sudah mendekati 60% . Tertinggi di dunia. Kotanya bersih dan minim polusi.
Tetap semangat berkhidmat untuk masyarakat Jawa Barat.
APAKAH BUDIMAN ADALAH SEORANG GAME CHANGER, MARI KITA TUNGGU..
.
.
Saat PDI Megawati berseteru dengan PDI Soerjadi yang dibekingi pemerintahan Soeharto, anak muda itu merangsek masuk di tengah gelanggang. Dia dan teman - temannya yang tergabung dalam PRD jadi kambing hitam dan lalu divonis bersalah dengan hukuman bervariasi hingga 13 tahun penjara.
Peristiwa itu memantik perlawanan yang jauh lebih besar, Reformasi 98 hingga partai PDI berubah jadi PDI Perjuangan dan memenangkan Pemilu 1999. PDI Perjuangan meluluhlantakkan Golkar yang selalu perkasa selama 6 kali pemilu adalah tentang permainan yang berubah.
Setelah Megawati kalah dengan SBY dalam Pilpres langsung 2004, PDIP memilih menjadi oposisi. PDIP kembali mencari setengah jiwanya yang hilang, mencari jati diri sebagai partai wong cilik.
Dan itu terjawab. Setelah lima tahun pertama menjalani peran oposisi, pada 2009 Budiman Sudjatmiko masuk menjadi anggota DPR RI. Dia mewujudkan mimpi wong cilik menjadi kenyataan. UU Desa adalah buktinya.
Dengan masuknya Budiman di DPR RI, permainan pun berubah, oposisi tapi punya posisi tawar kuat. Bayangkan saja bagaimana sulitnya berdiri sebagai oposisi tapi diminta untuk bisa menggolkan sebuah UU fenomenal, UU Desa, jelas adalah tentang heroik sebuah kisah.
Itu gak gampang, itu bahkan terdengar mustahil. Butuh kepiawaian diplomasi dan luar biasanya Budiman punya kepiawaian dimaksud. Apakah itu semua bukan tentang dia mampu merubah permainan?
Dan kini, saat ini, ketika sikap pragmatis banyak elit politik terlanjur mengental karena terciptanya banyak kutub pilpres, dia kembali menghentak.
Caranya hadir telah membuat gempa politik. Semua merasakan guncangan itu, semua merasa harus ikut bicara. Tak penting esensial atau tidak….
Pada akhirnya, dalam batas tertentu, dia pantas disebut sebagai seorang game changer. Buktinya, konstelasi perpolitikan di negeri ini pun langsung berubah.
Yang kemudian marah dan lalu ngamuk, mudah kita tebak adalah para pihak yang dirugikan. Halusinasi berlebihan pada masa depannya tiba - tiba lenyap dan mereka tak tahu harus berbuat apa.
Seperti ayam berak di sembarang tempat, mereka NGAMUK dan meninggalkan bau busuk isi kepalanya.
Akankah kehadirannya kembali pada kancah penuh kerumitan itu mampu merubah permainan yang ada, mari sama - sama kita lihat saja. Yang jelas, seorang Budiman Sudjatmiko memang bukan kaleng - kaleng.
.
.
.
Budiman ketemu Ayah, kaget! Budi Arie dilantik jd menkominfo juga kaget. Mbok ya selow aja jangan suka kagetan, kawan. Semua ini bagian dari sajian menu politik, bukan cerita FTV yg sekali tayang slesai.
Lihat aja penghuni warung sebelah, mereka suka kagetan akhirnya halu sampai Abas diklaim sebagai imam Mahdi.
😂😂
Dalam dunia yg berperang, kena wabah & hadirnya wawasan2 baru yg membingungkan, pd 1 bangsa yg harus survive, ada 2 golongan yg harus mulai bicara: aktivis2 & intelejen2 strategis/pasukan elitenya krn biasa hidup mati u/ hal2 strategis
https://t.co/Q7E7EU3QIk
NIK MENJADI NPWP, APA SELANJUTNYA ?
Sudah tau kan, kalau per 1 Januari 2024 nanti Nomor Induk Kependudukan atau NIK akan efektif berlaku juga sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak ?
Artinya seluruh orang Indonesia yang telah memiliki NIK dan melakukan transaksi dengan menggunakan Nomor NIK-nya, maka data transaksi tersebut bisa masuk ke DJP.
Dalam situs https://t.co/jLzmkREENY disebutkan bahwa bayi baru lahir pun langsung memiliki NIK, jadi meskipun ada harta berharga didaftarkan orang tua atas nama anak yang baru lahir tetap terdata oleh DJP. Apalagi DJP secara rutin juga menerima data dari Instansi, Lembaga, Asosiasi, dan Pihak lain (ILAP) sehingga secara teori seluruh data harta berharga di Indonesia akan terekam oleh DJP.
Masih ingat aplikasi Peduli Lindungi ?, dengan aplikasi itu, warga dapat dibatasi ruang geraknya untuk memiliki akses kebanyak tempat dan fasilitas pelayanan publik bila belum melakukan kewajiban vaksinasi.
Semua itu dilakukan karena pelaksanaan vaksinasi mencatat NIK setiap orang.
Apakah ketetapan NIK menjadi NPWP kelak juga akan mengarah pada pembatasan akses dan fasilitas setiap warga negara yang secara subyektif dan obyektif telah memenuhi syarat melaporkan SPTnya namun belum melaksanakan kewajiban perpajakannya ?
Kalau seandainya kelak pembatasan akses dan fasilitas pelayanan itu benar diterapkan, maka setiap orang yang telah memenuhi syarat subyektif dan obyektif namun tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya, bisa saja akan dibatasi memperoleh akses dan fasilitas tertentu seperti memperpanjang SIM, Paspor, memperoleh Surat Bukti Kepemilikan seperti BPKB, Sertifikat dll, memperoleh akses pada layanan publik hingga perbankan.
UU Ketentuan Umum Perpajakan juga telah menetapkan bahwa “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa”, artinya setiap pembatasan akses dan fasilitas pelayanan publik tersebut merupakan bagian dari upaya paksa yang dibenarkan menurut undang-undang.
Apakah benar demikian ? @KemenkeuRI, @DitjenPajakRI, @kemkominfo atau @prastow diharapkan lebih gencar lagi menyosialisasikan soal kebijakan peraturan ini serta dampak ikutannya agar pertanyaan-pertanyaan diatas lebih dapat dipahami oleh masyarakat jawabannya.
Ini penting agar memberi waktu lebih panjang bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri lebih dekat kepada sistem perpajakan nasional.
Disamping itu, alangkah baiknya Dirjen Pajak RI juga mempersiapkan sistem pelaporan perpajakan yang jauh lebih sederhana dari pada yang ada saat ini, eform pelaporan SPT harus mudah diakses lewat aplikasi handphone, jauh dari kerumitan dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Istilahnya tinggal isi jumlah penghasilan, jumlah tanggungan, SPT auto kalkulasi dan siap upload, setor jika ada pajak yang harus dibayar, beres.
Rakyat juga harus menyadari, pembatasan akses dan fasilitas ini tak akan mungkin dapat diakali verifikasinya oleh pihak manapun, karena ketika sudah berurusan dengan Pajak, maka ancaman Pidana dibidang perpajakan akan berlaku dan hukuman penjara atau dendanya juga tak tanggung-tanggung beratnya.
Pimpinan Dirjen Pajak dan Kemenkeu haruslah pejabat yang humanis, sebab dibawah pimpinan pemerintahan yang humanis, rakyat pasti akan dibimbing dan diedukasi untuk melaksanakan kewajibannya secara manusiawi.
Jangan menggunakan kekuatan militer dan polisi untuk melakukan tekanan yang bersifat represif sebagaimana yang pernah terjadi dalam pelaksanaan vaksin dalam mendorong pelaksanaan kewajiban perpajakan.
Bila Kemenkeu dan Dirjen Pajak dipimpin oleh pejabat yang humanis, berintegritas, memiliki intelektual yang teruji, cerdas, santun dan berkepribadian maju, maka ketika memasuki era “Sistem Administrasi dan Pengelolaan Digitalisasi Perpajakan Nasional”, rakyat akan mengartikulasikannya sebagai SIAP DIAJAK KERJA KERAS, bukan merasa SIAP DI PERAS.
Gimana dengan kalian, apakah sudah siap dengan Sistem Administrasi dan Pengelolaan Digitalisasi Perpajakan Nasional ?
Sejak awal saya yakin bahwa RUU Kesehatan ini pasti akan disahkan. Jangankan nakes yg demonya 'gitu2 doang', aksi buruh saja yg jatuh korban kekerasan ga bisa menahan pengesahan RUU Cilaka.
Ini bukan soal hasil; ini tentang saya yg bisa dgn rendah hati berkata: "Saksikan ya Allah, saya sudah lakukan semua yang saya bisa."
https://t.co/h08fYCtQG0