Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sahabat dan Saudara ku semua.....
Semangat pagi.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin, semoga Allah SWT senantiasa menjauhkan dari segala marabahaya dan penyakit, memberi limpahan rezeki
Aamiin yaa robbal'alamiin...🙏☺️
NASIONALISME PALSU RASA ALGORITMA REPUBLIK FUFUFAFA |
Sok - sokan mengecam "penjajahan" di Gaza, tapi menyerahkan kedaulatan data pribadi rakyat, kepada Washington.
Lantang mengutuk genosida, tapi diam - diam jadi "blantik" yg melucuti privasi 284.438.800 jiwa.
Berjubah nasionalisme di depan kamera, lantang menyuarakan anti penjajahan, tapi di ruang gelap negosiasi "menghamba" kepada Trump.
_________
Seperti orang tua yg melarang anak biologisnya disentuh, tapi menjualnya di meja perjodohan demi utang jatuh tempo yg tak bisa dinego.
Seperti orang yang lantang mengharam - haramkan konsumsi daging babi, tapi doyan Jamón ibérico.
Mengenakan baju ala Bung Karno, tapi kelakuan seperti preman pasar Klewer di Solo.
.
.
#IndonesiaGelap
Biadab banget gurunya! Anak diteror dan dipermalukan spt ini gara2 belum bayar Lks 350k!
Kejadian di Kab. Kuburaya, di sebuah Madrasah Tsanawiyah.
Lihatlah kalian koruptor jahanam! Rakyat kecil sampe dipermalukan gara2 duit segini. Tapi kalian hidup mulia di negeri ini!
Pak Kasmudjo kemarin didatangi langsung Mulyono dan menawarkan bantuan hukum, namun ternyata diduga mengalami tekanan..
Sekarang Prof Sofian Effendi mengalami hal yang sama tapi langsung keluar pernyataan tertulis..
#SaveProfSofian
Jenazah Nakes di Jok Motor, Tetesan Air Mata di Tikungan Terjal
(Kisah Nyata dari Pinembani, Donggala, 2025)
Kamu, jangan kaget...
Kalau hari ini bukan cuma air mata yang jatuh,
tapi juga harga diri kita sebagai manusia,
sebagai bangsa yang katanya sudah merdeka.
Ini bukan cerita tentang perang atau politik,
bukan pula kabar reshuffle atau harga BBM.
Ini adalah kisah satu tubuh yang tak lagi bernyawa,
namun masih harus “berjuang” pulang,
melewati tanah yang bahkan tak layak disebut jalan.
Seorang tenaga kesehatan,
ASN BKKBN yang gugur di pelosok Kecamatan Pinembani,
Sulawesi Tengah.
di titik yang mungkin tak pernah muncul di Google Maps,
dan tak masuk agenda kunjungan siapa pun yang memakai dasi.
Ia tidak wafat karena virus.
Bukan karena bom.
Tapi karena kelelahan di medan pengabdian,
di mana puskesmas hanyalah bangunan tanpa sinyal,
dan ambulans menyerah sebelum mencoba.
Tubuhnya dibungkus kain jarik.
Dibonceng di jok belakang sepeda motor.
Diikat dan disangga kayu agar tetap duduk tegak.
Tegak... bahkan setelah mati.
Seolah ia masih ingin jaga wibawa sebagai abdi negara,
meski negara tak sanggup memberinya jalan pulang yang layak.
Satu motor, dua nyawa.
Yang satu bernapas, yang satu sudah kembali.
Tapi keduanya pejuang.
Yang satu mengantar, yang satu memberi pesan tanpa kata.
Pesan tentang negeri yang katanya maju,
tapi masih kalah dari semangat mereka yang hidup dengan sandal jepit dan niat suci.
Dan lihat jalan itu…
tanah becek, berlumpur, seperti luka yang tak sembuh-sembuh.
Aspal hanya mimpi.
Jembatan adalah wacana.
Dan perhatian pemerintah?
Mungkin sedang sibuk update story.
“Sudah 2025, tapi jalan ke kampung kami masih setengah takdir, setengah harapan,”
tulis seorang warga.
“Kalau nggak viral, nggak bakal dibangun,”
sindir netizen lain dengan getir.
Begitulah.
Negeri ini lebih takut masuk FYP daripada masuk neraka.
Lebih gesit membangun plang peresmian
daripada membangun jalan bagi mereka yang mengantar nyawa.
Tapi jangan salah.
Ini bukan hanya kisah duka.
Ini adalah potret keagungan.
Keperkasaan yang tak dipoles kamera.
Sebab di tengah segala kekurangan,
masih ada nakes yang rela berjalan jauh demi imunisasi bayi.
Masih ada yang menggendong harapan, bukan sekadar jabatan.
Dan ketika mereka gugur,
mereka tidak menuntut upacara.
Mereka hanya ingin satu hal:
jalan pulang yang layak.
Namun hari itu, jalan pulang pun harus dititipkan
pada suara knalpot, pada rem cakram yang bergetar.
Tak ada sirine.
Hanya sunyi, dan air mata yang tercecer di setiap tikungan.
Kepada engkau yang duduk di balik meja kekuasaan,
dengarlah jerit dalam diam ini.
Dengarlah suara motor itu—
karena itu bukan sekadar mesin,
itu adalah tangisan bangsa yang tersesat arah pembangunan.
Dan kepada almarhum…
Maafkan kami.
Kami tidak sempat mengantarmu dengan ambulans.
Kami tidak punya karangan bunga.
Tapi izinkan kami menyampaikan ini:
"Terima kasih, karena engkau tetap tegak
bahkan saat dunia telah melepaskanmu.
Engkau bukan hanya tenaga kesehatan.
Engkau adalah nurani kami yang masih hidup—
dan menampar kami yang terlalu sibuk update,
tapi lupa membangun yang paling dasar:
jalan kemanusiaan."
Semoga jalanmu di sana lapang.
Karena di sini,
jalan masih harus numpang viral dulu.