Malam ini aku menyadari sesuatu, istriku beberapa kali terjaga dr tidurnya, gelisah, hingga akhirnya memilih pindah kamar. Mungkin ranjang ini sudah tak lagi terasa miliknya. Kupersilakan dengan tenang, sambil bertanya sendiri "Apa yang sebenarnya tersisa dari pernikahan kami?"
Satu hal yang Saya sadari malam ini, istri saya beberapa kali terjaga dr tidurnya, saya mengetahuinya, rupanya dia ingin pindah kamar, mungkin karena tidak terbiasa tidur di samping saya, saya mempersilahkan sambil merenung "Apa yang tersisa dari pernikahan kami sebanarnya?"
Saya masih ingat istri saya menyebut teman laki-lakinya dengan sebutan besti, beb dst...
Di sisi lain di saat bersamaan dia sungguh tidak memperlakukan saya sebagai suami dengan baik, sungguh setiap kali membayangkan saat itu, hati saya seolah teriris, sakitnya bukan main.
Usiaku sudah hampir 41 tahun, makin hari makin berkurang jatah bahagiaku, aku tidak lagi mau berkompromi dengan cara mengalah dengan alasan apapun. Jika kamu tidak bisa menemaniku, aku sudah membulatkan tekad kita berpisah saja, Bismillah... aku talak ‼️
Hari ini ke rumah kakak ipar, anak laki-lakiku ditanya tidur sama siapa? Mama jawabnya polos.
Papa tidur sama siapa? Sendirian di kamar. Istriku menyahuti "Aku nidurin anakku baru pindah ke kamar suami."
Batinku "Bohong, bertahun2 aku tidur ya sendiri, hampir tiap malam begitu"
Permasalahan kecil yang menumpuk bertahun-tahun akan menjadi bom waktu dalam rumah tangga.
Lucunya saat ditanya "masalahnya apa?*
Laki-laki tidak bisa menjelaskannya.
Isi kepalanya penuh, hatinya bergemuruh, dan tubuhnya lelah kalah. Tidak bisa diwujudkan dalam bentuk kata, diam
Maafkan saya jika sikap diam saya dianggap kekanakan, rentetan pemasalah kecil yang menumpuk bertahun2 membuat saya bingung jika ditanya "apa masalahnya?"
Sudah lelah sekali saya untuk sekedar berdebat. Mungkin ada benarnya jika puncak kemarahan laki-laki adalah diam.
Bukan soal RS hijaunya, tapi karena istri saya lebih memilih menghabiskan waktu hingga larut disana, entah mengejar apa? Pulang lelah lalu mengabaikan saya‼️
Sakit hati sekali tiap kali mengingatnya. Ridho saya hilang sepanjang malam itu, entah para malaikat turun berdoa apa...
Saya masih ingat pernah bertanya, jika kamu sedang rapat atau sibuk, saat direktur menelpon mu apa akan kamu angkat?
Jawabmu: Iyalah, pasti tak angkat!
Lucunya, saat kamu rapat, aku suamimu yang telepon, tidak kamu angkat, mengirim pesan "Nanti saja telpon, masih rapat..."
Kemarin saya bertemu lelaki itu, lelaki yg oleh istri saya dipanggil Beb, Besti, atau sebutan lain yg mungkin saya tdk tahu. Perawakannya tinggi, gagah, lumayan tampan, usianya juga masih muda, gaya komunikasinya juga menarik, termasuk menarik istri saya...
Jgn tny perasaan saya!
Kata orang saya beruntung memilih pasangan yg tepat, dengan segala kehebatan & prestasinya.
Kata saya, Saya kesepian
Kata saya, Prioritasnya bukan saya
Kata saya, Kebahagiaannya juga bukan saya
Kata saya, Nasib saya akan sama seperti ayah mertua saya
Tapi tetap saya yang salah
Hari ini akan saya jalani seperti malam2 sebelumnya, saya tahu akan berakhir sama "kecewa", tapi bodohnya saya masih saja berharap.
Ingin sekali saya meninggalkan rumah, sekedar untuk menenangkan diri, tapi HP selalu berdering...
Tuhan, lelah sekali rasanya.
Seperti malam2 sebelumnya, saya setia menunggu di kamar sendiri, bergulat dengan pikiran dan hati.
Saya lelah mendatangi & meminta, malu sekali rasanya, seolah hanya saya yang membutuhkan.
Berharap pagi cepat datang & menyibukkan diri. Pola bodoh ini yang saya jalani bertahun2
Susah sekali buat saya untuk berkomunikasi secara mendalam dengan pasangan, lebih memilih diam, mengiyakan, bahkan membiarkan sesuatu yang membuat saya tidak nyaman.
Jatah usia dan kesempatan bersamanya semakin sedikit, sesuatu yang masih harus Saya tunggu entah sampai kapan.
Kami memiliki kamar bersama, tapi dia memilih kamar yang berbeda, dengan alasan yang nampak benar menurutnya.
Bertahun2 telah berlalu, model pernikahan macam apa ini sebenarnya? Saya memang tolol, mencintai seseorang, yang bahkan saya juga tidak tahu apa dia masih mencintai saya
Sesakit hati itu saya, sampai setiap kali mengingatnya, saya sangat menyesal tidak bercerai saat itu!
Sebuah keputusan yang seharusnya benar, tapi setiap kali saya mengingatnya, membuat mendidih hati ini, se'tidak punya harga diri itu kah saya di matamu?
Ada momen sampai pada titik di mana saya percaya rumah sakit hijau itu lebih berharga dari pernikahan kami. Sebuah fakta yang sangat menyakitkan, menghabiskan waktu di sana tampak lebih menyenangkan buatnya, daripada pulang ditempat yang kami sebut rumah dan keluarga.