Melihat penampilan lini depan timnas di Piala AFF 2026 ini, jujur bikin pikiran gue langsung melayang ke Rafael Struick.
Menurut gue, sekarang harusnya publik sepak bola Indonesia udah pada sadar kenapa Coach STY dulu selalu ngasih dia tempat utama, walaupun statistik golnya sering dikritik minim gol.
Dulu banyak banget yang cuma fokus sama papan skor dan ngukur kualitas striker murni dari berapa banyak gol yang dia bikin. Padahal di taktik sepak bola modern khususnya skema yang diusung STY, seorang striker tuh fungsinya jauh lebih kompleks dari sekadar eksekutor akhir.
Struick itu pergerakan tanpa bolanya lumayan oke. Dia rajin banget melakukan high pressing buat bikin bek lawan mati kutu sejak dari area pertahanan mereka sendiri. Dia juga rela turun jauh ke tengah cuma buat jemput bola, nahan bola, dan narik bek lawan keluar dari posisinya. Imbasnya? Lini kedua kayak winger atau gelandang serang jadi punya ruang tembak yang terbuka lebar. Peran-peran "kotor" dan capek kayak gini yang sering gak kelihatan di highlight, tapi vital banget buat struktur permainan tim.
Begitu sekarang kita nonton lini depan yang kelihatan pasif, minim pergerakan tanpa bola, dan cuma nunggu disuapin umpan matang alias spam crossing terus, baru deh kerasa bedanya. Jujur, di situ gue makin paham kalau STY dari awal gak pernah salah. Dia butuh kepingan puzzle yang mau kerja keras buat tim, bukan sekadar penyerang yang berdiri nunggu bola.
Sekarang, kalian udah pada paham kan betapa berharganya peran Struick dulu?
🗣️KOCI :"sty sekarang di Persija malah pakai 4 bek ."
Padahal saat menangani Timnas Indonesia, sty lebih identik dengan skema 3 bek.
Berarti bisa kita lihat, dari segi permainan menyerang seperti yang diinginkan Erick Thohir, STY sebenarnya mampu menerapkannya.
STY hanya memanfaatkan pemain yang tersedia saat itu dan menyesuaikan taktik dengan kebutuhan tim. Justru di situlah letak kecerdasannya sebagai pelatih.
Kalau STY dikasih skuad terbaik Timnas saat ini, kira-kira udah juara apa belum?
Keresahan Sebagai Pendukung Timnas Indonesia:
BULAN MADU TELAH PURNA
Kalau ukuran sepak bola adalah HASIL, maka John Herdman memang gagal di AFF 2026. Evaluasi, bahkan kalau perlu dipecat. Itu adalah risiko menjadi pelatih.
Tapi jangan berhenti di BENCH.
Berapa pelatih lagi yang harus dikorbankan sebelum yang benar-benar dievaluasi adalah orang-orang yang memilih mereka?
Yang mimin ikuti, sejak era Nurdin Halid, Djohar Arifin Husin, La Nyalla Mattalitti, Edy Rahmayadi, Joko Driyono, Iwan Budianto, Mochamad Iriawan, hingga Erick Thohir, narasinya hampir selalu sama: reformasi, mimpi besar, target tinggi.
Yang berubah hanya nama ketua dan nama pelatih.
MASALAHNYA TETAP SAMA.
Kompetisi lokal tak kunjung menjadi fondasi yang kuat, pembinaan usia muda berjalan tidak konsisten, polemik perwasitan tak pernah benar-benar selesai, regulasi berubah-ubah, dan tata kelola federasi terus menuai pertanyaan.
Terkini, hang paling ironis justru cara menentukan PRIORITAS.
Turnamen PRAMUSIM dipoles sedemikian rupa hingga terasa hampir setara dengan kompetisi resmi dari sisi branding, eksposur, hingga gaung medianya. Sementara PIALA INDONESIA, yang seharusnya menjadi turnamen knockout bergengsi seperti FA Cup, Copa del Rey, atau DFB-Pokal, justru mati suri.
Federasi juga belum mampu menghadirkan PIALA SUPER, sebagaimana Community Shield di Inggris, Supercoppa di Italia, atau Supercopa di Spanyol yang mempertemukan juara liga dan juara piala setiap musim.
Padahal semakin banyak KOMPETISI RESMI, semakin tinggi jam terbang pemain, semakin luas kesempatan klub berkembang, dan semakin kuat fondasi sepak bola nasional.
Yang diperbesar justru SEREMONI, bukan EKOSISTEM KOMPETISI.
Demi mempercepat prestasi serta CITRA FEDERASI datang proyek naturalisasi.
Salah? Jelas tidak. Karena sudah sesuai regulasi dan peraturan yang ada.
Yang salah, publik dijanjikan jalan pintas menuju level yang lebih tinggi. Seolah kualitas pemain adalah jawaban atas seluruh persoalan. Ketika hasil tak sesuai harapan, pelatih kembali menjadi kambing hitam.
Publik juga belum lupa bagaimana Shin Tae-yong diakhiri. Pelatih yang membawa Indonesia mencatat berbagai pencapaian justru disingkirkan dengan keyakinan bahwa Indonesia membutuhkan sosok yang lebih hebat dan proyek yang lebih menjanjikan.
Setelah Kluivert hacur lebur, Kini Herdman gagal di AFF 2026.
LALU SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?
Kalau setiap kegagalan selalu berhenti pada pelatih, berarti federasi selalu benar.
Yang membuat publik semakin lelah adalah STANDAR GANDA.
Saat tim nasional menang, para petinggi federasi tampil di depan kamera, berbicara tentang keberhasilan proyek dan arah yang benar. Namun ketika tim kalah, narasinya berubah menjadi kesalahan pelatih, pemain, atau faktor teknis.
Erick Thohir dan Arya Sinulingga berulang kali tampil sebagai wajah utama setiap keberhasilan.
Maka sudah seharusnya keduanya juga berdiri paling depan ketika proyek yang mereka bangun gagal mencapai target.
JANGAN HANYA MAU MENERIMA APLAUS SAAT MENANG, TAPI MENGHILANG SAAT KALAH.
Kepemimpinan bukan hanya soal menerima tepuk tangan, tetapi juga memikul tanggung jawab.
Silakan evaluasi Herdman.
Tapi evaluasi juga mereka yang menunjuknya. Evaluasi arah proyek naturalisasi. Evaluasi kualitas liga. Evaluasi sistem kompetisi. Hidupkan kembali PIALA INDONESIA. Bangun PIALA SUPER yang layak. Perkuat pembinaan usia muda. Benahi tata kelola federasi.
Karena semua itu berada dalam kendali federasi, BUKAN PELATIH.
Pelatih hanya mengelola 90 MENIT di lapangan.
Federasi mengelola MASA DEPAN SEPAK BOLA INDONESIA.
Kalau yang terus berganti hanya pelatih, sementara cara mengelola sepak bola tidak pernah berubah, jangan heran jika yang terus berulang bukan prestasi, melainkan kekecewaan.
BULAN MADU TELAH PURNA.
Kini saatnya berhenti menjadikan pelatih sebagai tameng.
KALAU KEMENANGAN SELALU MENJADI MILIK FEDERASI, MAKA KEGAGALAN JUGA HARUS MENJADI TANGGUNG JAWAB FEDERASI.
Sesederhana itu.
Before you get excited about the Rodri news, you should stand up, give this man a standing ovation, and thank him until sunrise.
The moment Hansi Flick took charge of Barcelona, he immediately identified Marc-André ter Stegen as a major problem and told Deco the club needed to sign a reliable goalkeeper straight away, otherwise the team would be heading for disaster.
Deco brought in Joan García, and he turned out to be one of the biggest reasons Barcelona won La Liga. On top of that, Flick made the bold decision to move on from Ter Stegen, something no previous Barcelona manager had dared to do.
Then came Frenkie de Jong. After returning from the World Cup injured once again, Flick reportedly lost faith in him and pushed Deco to sign a proper defensive midfielder.
Whether the Rodri deal happens or not, Flick deserves enormous respect for challenging the long-standing culture of untouchable players at Barcelona. If he stays for many years, he’ll change a lot of things at the club that should have changed long ago.
Nothing but support for a true legend. 💙❤️
اذا اردت اللعب في البارسا يجب ان يكون ذلك بنسبة 100%. اقول هذا الى جميع من يتواجد هنا والى من يكون معنا بالمستقبل
هذه الألوان يجب أن تعيش لأجلها وهذا الذي أريد ان أراه. بالنسبة الى الذين ليسوا مستعدين ذلك فلا أريد أن أراهم
يجب أن يسمع فيران هذا الكلام 😉
Jadi, La Masia dan Barça Academy adalah 2 hal yang berbeda.
La Masia = Tidak berbayar, pure scouting/seleksi
Barça Academy = Berbayar, ribuan orang bisa mendaftar buat ikut Camps-nya.
Cabang Barça Academy untuk Camps ini banyak di berbagai negara, termasuk Indonesia 2 tahun terakhir ngadain Camps juga.
Nah untuk anak Nia Ramadhani ini sepertinya dia ikut Soccer Camps yang emang baru saja diadakan di Amerika selama 6 minggu.
Kalau anaknya Nia emang sebagus itu, mungkin benar dia jadi salah satu yang terpilih, karena biasanya pemain-pemain yang menonjol di Camps dapet kesempatan trial di La Masia, 1-2 minggu biasanya.
Apakah yang abis ikut Camps ini bisa ke La Masia?
Bisa aja, tapi kecil bgt presentase yang dari Camps ini tembus La Masia.
Dulu Camps di Fukuoka diikuti Take Kubo dan Takehiro Tomiyasu, akhirnya Kubo masuk La Masia, Tomiyasu nggak.
Sekelas Tomiyasu aja gak tembus loh..
🚨🎙️𝗚𝗔𝗩𝗜: Many years ago, Johan Cruyff said: “If you have second thoughts about playing for FC Barcelona, you are of no use to FC Barcelona.”
And currently, Ferran is having those second thoughts. I have told him that if that is the case, he can gladly leave for PSG.
At Barça, we need players who are 100% committed to the betterment of this club. ❤️💙
Hansi Flick: Si quieres jugar para el Barcelona, debes dar el 100% con todo tu corazón.
Para todos los que están con nosotros ahora y quizás estarán en el futuro con nosotros, tienen que vivir por estos colores.
El resto, no los quiero…
هانسي فليك: تريد اللعب لبرشلونة؟ يجب أن يكون ذلك بنسبة 100% بقلبك كله
لكل من معنا وربما سيكون بالمُستقبل معنا, عليك أن تعيش من أجل هذه الألوان 🔴🔵
من لا يفعل ذلك.. أنا لا أريده
Lets put all the crazy conspiracy theories aside. Have you ever seen this Argentinian team look this down before a game, mind you this was before the final.
Before the game Scaloni was seen leaving the bus in tears as well.
Messi also repeatedly saying that let’s forget everything and play, that means something indeed did happen we just don’t know what.
The players who are fired up everytime look to be crying such as Enzo and Lisandro. If you’ve seen Messi’s speech before the Copa final you know something in their energy just seems off.
If something did happen we probably won’t get to know about it years later.
It’s just the players body language seems strange and looks like something did happen pre match whether it be something personal to the players or not.