Luar biasa bang @briankhrisna
"Semua orang akan menyakitimu, yang membuatnya berbeda adalah kamu punya kemampuan untuk memilih siapa saja yang pantas menyakitimu."
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
"Apakah benar Persib bukan bagian dari budaya dan identitas masyarakat Sunda dan cuma sekedar klub bola biasa?"
Menurut Koentjaraningrat melalui bukunya dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diwariskan secara sosial dalam kehidupan bermasyarakat dari generasi ke generasi. Definisi ini penting sebagai titik awal, karena dari sinilah kita bisa mulai mempertanyakan "apakah Persib memenuhi syarat itu?"
Sebagai klub, Persib yang lahir di tanggal 14 Maret 1933 ini merupakan peleburan dari BIVB (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond, 1919) yang dibentuk di era kolonial Belanda sebagai salah satu wadah sepakbola Pribumi (bumi putera) di Bandung.
Fakta historis ini yang membuat Persib tidak bisa disebut sekadar klub bola biasa dan secara tidak langsung menjadikan Persib menjadi simbol perlawanan dan persatuan melawan penjajah di era itu yang mencerminkan "nilai & kepercayaan" serta "perilaku kolektif" dalam definisi budaya.
Suka tidak suka, pada akhirnya dukungan dan rasa yang muncul untuk Persib (lewat Bobotoh) ini sudah menjadi warisan keluarga untuk mayoritas warga Jawa Barat.
Dari kakek ke ayah, ayah ke anak, anak ke cucu, rasa yang diturunkan sudah menjadi seperti adat. Dari buku PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda menyebut Persib sebagai "episentrum kebudayaan" dan "warisan yang terus beregenerasi".
Klaim ini juga bukan klaim yang berlebihan, mengingat betapa dalam Persib tertanam dalam rutinitas sosial mayoritas masyarakat Jawa Barat yang bukan hanya saat pertandingan, tapi dalam bahasan sehari-hari, dalam mural, dalam lagu, bahkan dalam pilihan warna baju.
Lalu secara akademik, jurnal karya Tisna Prabasmoro (2020) dan penelitian lain melihat Persib sebagai medium pembentukan identitas kolektif Sunda yang mirip bagaimana Clifford Geertz bicara soal "sistem makna dan simbol" yang hidup dalam masyarakat.
Pada akhirnya hal-hal tersebut membuat Persib bukan hanya olahraga, tapi cara mayoritas orang Sunda mengekspresikan diri, melepas penat, dan menjaga harga diri daerah.
Dari sini, dengan sejarah yang begitu panjang, rasanya sulit untuk tidak menganggap Persib sudah menjadi bagian dari Budaya mayortias masyarakat Sunda pada umumnya, dan Jawa Barat pada khususnya.
Perihal konvoi dan sebagian masyarakat yang kelewat batas dalam melakukannya memang tidak bisa dihindarkan. Pun untuk hal-hal yang amat merugikan dan menuju anarkis, amat sangat tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
Makannya, saya bilang di awal kalo hal-hal kaya gini tuh sudah masuk ranahnya pihak keamanan. Karena penertiban dan pencegahan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, yang memang tugasnya menjamin agar ekspresi kolektif seperti ini tidak melebar ke arah yang merugikan.
Dan jangan dilupakan kalau ada bagian yang sering luput dari diskusi perihal konteks ini. Di mana banyak dari mereka yang turun ke jalan adalah bagian dari kelompok rentan. Orang-orang yang tidak punya banyak pilihan hiburan yang terjangkau yang menjadikan Persib jadi salah satu dari sedikit hal yang mereka punya. Dan itu bukan sesuatu yang seharusnya dikriminalisasi begitu saja.
Terlalu banyak variabel di sini untuk bisa disederhanakan dalam satu narasi yang sejalan.
Yang bisa kita sepakati pada akhirnya adalah...
"Persib bukan sekadar klub bola. Ia adalah bagian dari cara masyarakat Sunda mengenali dirinya sendiri."
-
Sumber:
1. Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia, 1974.
2. Dadan Kurniawan. PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda. Afdan Rojabi Publisher
3. Tisna Prabasmoro & Randy Ridwansyah. "Fan Culture and Masculinity: Identity Construction of Persib Supporters." Gender Studies, 18(1), 2019
4. Tisna Prabasmoro et al. "Baster dan Identitas Penutur." Metalingua, Vol. 18 No. 1, 2020
5. Clifford Geertz. The Interpretation of Cultures. Basic Books, 1973.
Persib dan warga Jabar
Keterikatan yang tidak bisa terlihat bagaimana tim ini menjadi budaya dan nadi bagi warga Jabar khususnya suku sunda. Setiap kemenangan yang selalu dirayakan, kekalahan yang diterima dan rentetan keadaan lainnya kita membuat sejarah, legacy, threepeat.
OpenAI baru aja ngerilis ChatGPT images 2.0.
Dan jujur… ini udah level designer mahal.
Gue nemu 3 prompt yang bisa langsung dipakai buat bisnis lu (tanpa skill desain).
Jangan lupa di-save🧵
Kalau gua designer sih gua juga bakal panik jujurrr, poster sebagus ini di generate kurang dari 30 detik
Sebenernya bukan cuman designer yang harus panik, kita juga harus panik kalau masih gabisa ngegunain AI ini sebaik-baiknya.
Mangkanya berkali-kali gua bilang update skill apalagi skill per AI an ini pasti akan berguna kalau ditekunin terus. Gua lagi mulai mau coba-coba nih untuk bikin akun di ig yang isinya carousel-carousel edukasi tapi di generate sama AI langsung...
Kira-kira rame apa engga, kita coba lihat yaa nanti gua update kalau udah gua buat...
IZIN IKUTAN MAS HANIF WKWKWKKWKW @hanifproduktif
Pangeran Diponegoro adalah penggemar wine, Grand Constantia. Meski Islam mengharamkan alkohol, Diponegoro berdalih bahwa anggur itu adalah obat. Termasuk selingkuh dengan gadis pemijat keturunan Cina sebelum maju perang
Penceramah di Masjid Gedhe Kauman tadi punya pertanyaan menarik.
"Salah satu pintu surga adalah kerelaan menerima bahwa tidak se semua berjalan seperti yang kita inginkan.
Bapak², istri kalian itu yg dulu kalian inginkan bukan?
Ibu², suami anda apa orang yg anda cintai?"
Deg!