guru tk is here🙋🏼♀️
aku sering dapat ilmu parenting dan ternyata banyak kebiasaan kita saat pacaran atau di relationship berasal dari apa yang kita alami waktu kecil.
contohnya:
• waktu kecil jarang didengerin pendapatnya.
→ sekarang susah speak up ke pasangan dan lebih sering memendam.
Kunjungan Tim Agrinas ke Kopdes di NTT membuka mata:
1️⃣ Karyawan Kopdes cuma gotong royong tanpa gaji, hanya manajernya yg dibayar Agrinas.
2️⃣ 400 KK di Desa tersebut diminta belanja Rp1 juta/bulan, agar omset Kopdes Rp400 juta/bulan.
Inilah program yg membebani warga desa.
Mahkamah Konstitusi (MK) menghapus uang pensiun seumur hidup untuk pimpinan, anggota DPR dan lembaga tinggi negara lainnya.
DPR dan pemerintah diberi waktu dua tahun untuk membuat UU baru. Jika UU baru tidak kelar dalam 2 tahun, hak pensiun DPR otomatis hilang kekuatan hukumnya!
Sutradara film Avatar 2: The Way of Water, James Cameron mengaku dapat inspirasi peradaban maritim Metkayina dari orang-orang Bajo di Nusantara.
Berarti karakter penjahatnya terinspirasi pemerintah Indonesia👇🏽
🚨🚨🚨
pernah denger sidikalang?
ya, salah satu daerah penghasil kopi robusta terbaik di indonesia, kini tanah penghasil kopi ini terancam keberadaan tambang PT Dairi Prima Mineral (PT DPM).
sebagai yang terlahir di Sidikalang, tumbuh besar dari hasil kopi dan dan sekarang setiap butir nasi yang masuk ke perut ini adalah hasil dari kopi sidikalang, jelas menolak keberadaan PT. DPM.
warga dairi jelas menolak keberadan tambang PT. DPM yang berpotensi merusak hasil tani dan merusak alam dairi dapat menimbulkan bencana.
warga Dairi dan organisasi masyarakat sipil telah dan akan akan melaporkan lagi menteri lingkungan hidup ke Ombudsman Republik Indonesia dan ke Komnas Perempuan.
Mohon dukungan kawan kawan sekalian bagi kami warga dairi...
kalau kawan kawan disana berjuang agar pemerintah mengevaluasi perekonomian dan kebijakan indonesia, kami disini berjuang menyelamatkan tanah kelahiran kami.
kita sama sama berjuang, sampai menang.
sc video: Yasasan Diakonia Pelangi Kasih
Guys, ada satu hal yang menurut gue paling jahat dan paling halus yang sedang dilakukan pemerintah ke kita semua sekarang.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan ancaman langsung.
Tapi dengan satu metode yang jauh lebih efektif:
Normalisasi.
Pelan-pelan.
Bertahap.
Sampai kita semua lupa bahwa hal yang sekarang kita anggap "ya begitulah" sebenarnya dulu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Mari kita mulai dari awal:
Dulu Gibran tidak memenuhi syarat usia untuk jadi calon wakil presiden.
Aturan jelas.
Batas usia jelas.
Tidak ada ruang abu-abu.
Lalu tiba-tiba aturannya diubah.
Batas usia digeser.
Dan Gibran bisa maju.
Saat itu semua orang ribut.
Demo.
Kritik.
Headline media penuh dengan kata
"konstitusi dirobek".
Sekarang?
Sudah lewat lebih satu tahun.
Sudah jadi sejarah.
Tidak ada yang ribut lagi.
Yang dulu dianggap pelanggaran konstitusi terbesar sekarang dianggap "ya sudah terjadi, mau gimana lagi".
Itu normalisasi yang pertama.
Lalu janji-janji politik:
Selama kampanye segala macam janji diucapkan.
Yang didengar rakyat: harga akan turun, kesejahteraan akan naik, korupsi akan diberantas habis.
Sekarang janji-janji itu satu per satu menguap.
Harga naik bukan turun.
Subsidi dipotong bukan ditambah.
Dan ketika ditanya jawabannya selalu sama:
"kondisi global", "tidak sesederhana itu", "butuh proses".
Dan kita semua mulai menerima jawaban itu.
Padahal dulu janji itu yang membuat kita memilih.
Itu normalisasi yang kedua.
Lalu MBG:
Program senilai Rp335 triliun.
Korupsi terbongkar sebelum setahun berjalan.
Kepala BGN ditangkap.
Dapur SPPG meledak dari 21.000 jadi 27.000 dengan jual beli titik yang terungkap sendiri oleh Zulhas.
Reaksi pertama kaget.
Marah.
Gila, ini program flagship sudah korupsi dari awal!
Sekarang?
Ya namanya program besar pasti ada yang nyolong. Yang penting programnya jalan.
Itu normalisasi yang ketiga.
Dan ini yang paling licik penangkapan korupsi dijadikan prestasi:
Setiap kali ada pejabat ditangkap karena korupsi pemerintah dan pendukungnya langsung framing:
"Lihat, ini bukti pemerintah serius berantas korupsi!"
Tapi tunggu.
Penangkapan itu bukan prestasi.
Penangkapan itu adalah bukti bahwa korupsi terjadi di program yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah itu sendiri.
Bayangkan rumah kamu kebakaran karena kompornya bocor dan kamu malah dipuji karena berhasil memadamkan apinya.
Padahal yang harusnya dipertanyakan adalah:
kenapa kompornya bocor dari awal?
Itu normalisasi yang keempat dan ini paling berbahaya karena membalik logika sebab-akibat.
Lalu kenaikan BBM:
Dulu waktu dolar tembus Rp15.000 itu dianggap krisis nasional.
Headline besar.
Rapat darurat.
Semua orang panik.
Sekarang rupiah di Rp18.000.
Dan reaksinya?
"Ya begitulah kondisi global, semua negara juga kena."
Pertamax naik. Pertalite ikut terdampak abang ojol harus antri jam 4 pagi sebelum SPBU buka.
Tapi narasinya:
"Pertalite kan tidak naik, jadi rakyat kecil tidak terdampak."
Itu normalisasi yang kelima.
Dan ini yang paling menyeramkan buzer yang menyerang siapapun yang masih kritis:
Connie Rahakundini Bakri sampai harus lari ke Rusia karena nyawanya terancam.
Dino Patti Djalal diserang karena mengkritik biaya perjalanan presiden.
Saiful Mujani dikriminalkan.
Dokter Tifa dipolisikan.
Dan setiap kali ada yang kritis buzer langsung bergerak. Framing langsung dibentuk:
"ini cuma pencari sensasi",
"ini bagian dari konspirasi asing",
"ini orang yang tidak puas karena tidak dapat jabatan".
Pelan-pelan orang-orang yang masih berani bicara jadi makin sedikit.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena ongkos untuk bicara jadi terlalu mahal.
Itu normalisasi yang keenam dan ini yang membuat seluruh proses normalisasi sebelumnya bisa berjalan tanpa perlawanan.
Dan ini yang paling jahat dari semuanya kita mulai lelah:
Setiap normalisasi butuh energi untuk dilawan.
Setiap kali ada yang salah butuh tenaga untuk marah, untuk kritik, untuk turun ke jalan, untuk bertanya "kok bisa begini?"
Tapi ketika hal-hal yang salah ini datang terus-menerus satu demi satu, hampir tanpa henti energi kita untuk marah pun habis.
Dan ketika energi untuk marah habis yang tersisa hanya satu hal: menerima.
"Ya sudahlah."
"Mau gimana lagi."
"Memang begini negaranya."
"Capek juga kalau terus-terusan marah."
Dan itulah tujuan sebenarnya dari seluruh proses ini.
Bukan untuk membuat kita setuju.
Tapi untuk membuat kita terlalu lelah untuk tidak setuju.
Normalisasi bukan terjadi karena rakyat bodoh.
Normalisasi terjadi karena rakyat dibuat lelah secara sistematis satu krisis demi satu krisis,
satu pelanggaran demi satu pelanggaran,
satu janji yang diingkari demi satu janji lainnya sampai titik di mana melawan terasa lebih melelahkan daripada menerima.
Dan ketika seluruh generasi sudah tumbuh dengan menganggap semua ini "normal" tidak akan ada lagi yang bertanya "kenapa harus seperti ini?" Karena bagi mereka memang dari awal sudah seperti ini.
Itulah kenapa melawan kelelahan untuk tetap bertanya, tetap kritis, tetap mengingat bagaimana seharusnya adalah hal paling penting yang bisa kita lakukan sekarang.
Karena begitu kita berhenti bertanya itulah saat normalisasi benar-benar menang.
Jujur ya mahasiswa dan masyarakat sekarang lebih pinter loh, ga lagi berkoar koar di depan gedung politikus yang sudah di setting untuk kosong, tapi memanfaatkan spotlight jalanan ibukota, banyak banget gedung gedung tinggi yang dimana para manusia, orang orang penting, pengusaha pengusaha, bisa melihat langsung kejadian tersebut dari balik jendela, media juga lebih banyak yang datang dan menyoroti, keren 🙌🏻😭🔥
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
SK Kementerian Kehutanan ini akan melepaskan 486.939 hektare kawasan hutan di Papua Selatan (setara 7x luas Jakarta) demi proyek swasembada pangan dan energi dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN).
Sebagian besar proyek itu ditujukan untuk pengembangan bioenergi seperti bioetanol, biofuel, dan biomassa atas nama transisi energi dan pembangunan hijau. Padahal, kebijakan ini justru membuka jalan bagi deforestasi besar-besaran di salah satu bentang hutan paling penting yang tersisa di Indonesia.
Guys lu pada tau gk
Mohammad Hatta pernah lihat iklan
sepatu Bally di koran
Beliau gunting iklannya, lalu disimpan di dompet bertahun-tahun.
Padahal saat itu beliau menjabat
Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kalau mau? Tinggal telepon.
Tinggal suruh staf.
Tinggal pakai fasilitas jabatan.
Tapi beliau memilih menabung sendiri.
Dan tabungannya sering habis karena dipakai bantu orang lain.
Sampai beliau wafat tahun 1980…
sepatu itu nggak pernah kebeli
Yang ditemukan keluarga di dompetnya cuma guntingan iklan sepatu Bally yang sudah kusam dan terlipat rapi selama puluhan tahun.
Bayangin…
dulu ada Wakil Presiden yang mimpinya cuma sepasang sepatu.
Bandingin sama sekarang
Ada pejabat:
- laundry baju keluarga ratusan juta
- mobil dinas miliaran
- anggaran kaos kaki fantastis
- fasilitas mewah pakai uang negara seolah normal
Sementara Bung Hatta bahkan takut memakai jabatan untuk kepentingan pribadi.
Ini bukan soal miskin atau kaya.
Ini soal tahu batas:
mana milik negara, mana milik pribadi.
Zuhud bukan berarti nggak punya keinginan.
Bung Hatta pengen sepatu itu. Tapi beliau menjaga diri agar jabatan tidak merusak hati.
Dan mungkin… garis pemisah itu yang sekarang mulai banyak hilang.
Swiss gak punya laut.
Singapura gak punya sawah.
Jepang miskin sumber daya mineral.
Arab Saudi hutannya minim.
Belanda bahkan gak punya gunung.
indonesia punya semuanya.
Alam lengkap, sumber daya ada, laut luas, tanah subur. Tapi kok UMR masih 5 juta ?