Salah satu biang kerok utama mengapa kok rasa-rasanya cari uang makin susah dan perputaran ekonomi kita kayak lagi seret banget ?
Uang hasil korupsi yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah itu ternyata SAMA SEKALI GAK BERPUTAR di masyarakat.
Alih-alih masuk ke sistem perbankan atau digunakan untuk pembangunan yang memicu roda ekonomi, uang-uang ini justru ditumpuk mati di dalam safe house atau safe deposit box milik para koruptor.
Setelah Mahasiswa, Masyarakat Sipil, Dosen, Guru, PDI Perjuangan sekarang JK dan para Ekonom meminta agar ada relokasi Anggaran salah satu nya adalah dengan mengevaluasi MBG !!
Jika anda setuju Evaluasi MBG mari bantu share video ini.
PAPUA PEGUNUNGAN 0%. ADILKAH INI?
Data ini harusnya bikin kita malu. Data tidak bisa berbohong. Di balik angka-angka capaian nasional, ada saudara kita di Papua Pegunungan yang mendapatkan angka 0% dalam berbagai indikator capaian kesehatan. Mulai dari obat diabetes hingga pencegahan TB. Konsistensi "Rapor Merah" di Papua Pegunungan bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan pola yang harus segera diputus.
Ini bukan sekadar "anomali geografis", ini adalah alarm bagi keadilan sosial kita. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, bukan hanya kesehatan yang terancam, tapi juga kepercayaan rakyat terhadap pemerataan pembangunan kesehatan.
Kita bicara tentang akses obat TB hingga layanan diabetes. Jika angkanya terus berada di dasar klasemen, artinya ada yang salah dengan cara kita mendistribusikan keadilan.
Kita tidak boleh merasa sehat, selama saudara kita di Timur masih kesulitan bernapas.
Mereka adalah saudara kita yang sedang bertaruh nyawa karena keterbatasan akses dan fasilitas.
Keadilan kesehatan adalah hak konstitusional.
Kenapa Surat Ar-Rahman
mengulang ayat yang sama
sampai puluhan kali?
Karena hati manusia mudah lelah.
Secara mental,
manusia lebih cepat mengingat
yang menyakitkan
daripada yang membahagiakan.
Masalah 1,
nikmat 10,
yang diingat tetap masalah.
Maka Al-Qur’an
melatih jiwa dengan pengulangan:
“Nikmat Tuhanmu yang mana
yang kamu dustakan?”
Bukan untuk menghakimi,
tapi menenangkan.
Syukur bukan sekadar adab iman.
Syukur adalah
terapi hati.
Ia menggeser fokus
dari “apa yang kurang”
ke “apa yang masih ada”.
Orang yang bersyukur
bukan berarti hidupnya ringan.
Tapi jiwanya
Surat Ar-Rahman
datang sebelum ancaman.
Allah mendahulukan
penyembuhan batin
sebelum peringatan.
Pengulangan ayat itu
seperti napas pelan
di tengah sesak hidup:
tenang,
ingat nikmat,
lalu lanjutkan langkah.
Kalau hari ini pikiran berat,
jangan jauh-jauh.
Buka Ar-Rahman,
dan biarkan Al-Qur’an
menata ulang jiwamu.
tidak runtuh oleh beratnya hidup.
#MorningVibes
ICW bongkar MBG.
Program Makan Bergizi Gratis yang katanya demi anak-anak, ternyata dapurnya dikelola yayasan-yayasan dengan afiliasi politik, bisnis, birokrasi, militer, sampai relawan kampanye Pilpres 2024.
Angkanya bukan recehan:
• 28 yayasan terafiliasi partai politik
• 18 yayasan terafiliasi pebisnis/swasta
• Sisanya nyambung ke birokrasi, aparat, dan tim sukses
Dan juaranya?
Gerindra paling banyak.
Disusul PKS dan PAN.
Bonus round: ada 4 anggota legislatif aktif ikut nimbrung.
Lebih bonus lagi: ada nama yang pernah tersangkut kasus korupsi.
Jadi pertanyaannya sederhana, tapi bikin panas:
Ini program gizi anak…
atau program bagi-bagi akses APBN dengan baju amal?
Kalau dapur umum diisi kepentingan politik, yang kenyang siapa?
Anaknya, atau jejaring kekuasaannya?
Sebenarnya semua pekerja lebih pentingkan:
• Gaji yang setimpal
• Leadership yang bagus
• Appreciation
• Work-Life balance
• Flexibility
• Boleh grow
• Kepercayaan
• Bonus
Dari:
• Office yang fancy
• Free snacks
• Family day
Setuju tak?