Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
"Ketika orang2 mengukur diri mereka tdk berdasarkan perilaku melainkan oleh aneka simbol status (termasuk uang) yang mampu mereka kumpulkan, mereka bukan hanya orang yg dangkal, namun kemungkinan mereka ini orang2 bangsat."
Mark Manson
Contoh sour grapes. Nyinyir krn jadi pecundang tapi dibungkus dgn analisis ekonomi palsu.
Saat barat menang dan merayakan, narasinya adalah kebanggaan nasional, persatuan bangsa, bla bla bla bla...
Tapi saat negara dunia ketiga menang dan merayakan, narasinya geser jadi miskin, nganggur, nggak punya masa depan.
Pdhl yg merayakan datang dr kelas sosial yg beragam. Mereka merayakan krn menganggap sepak bola adl identitas bukan cuma hiburan. Mereka merayakan bukan indikasi bahwa mereka bangsa pengangguran, tp indikasi adanya solidaritas sosial, kekuatan bertahan dr segala kesulitan.
Justru manusia model gini harus malu, krn sebuah tim yg didukung oleh kapitalisme industri sepak bola terbesar di dunia malah kalah dari tim yg mulanya lahir dr rahim keterbatasan ekonomi.
Lalu cara termudah bagi manusia sayap kanan2 untuk menghibur diri adl menyerang kondisi sosial-ekonomi negara pemenang.
Pecundang!
Guys, episode ini direkam waktu rupiah masih di Rp17.683. Lima hari kemudian hari ini rupiah sudah di Rp17.845. Bergerak ke arah yang sama setiap hari.
Tapi yang tidak berubah:
pesan resmi dari pemerintah bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan tiga ekonom Awalil Rizki, Yanwar Rizki, dan David Adrison dari UI akhirnya buka-bukaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan ini analogi yang paling tepat untuk memahami kondisi kita sekarang:
Kita sakit.
Tapi kita bilang kita sehat.
Kita tidak punya uang.
Tapi kita bilang kita kaya.
Rupiah melemah itu bukan penyakitnya itu gejalanya.
Seperti demam pada orang yang kena infeksi.
Demamnya bukan masalahnya.
Infeksinya yang masalah.
Dan kalau kamu cuma minum paracetamol tanpa mengobati infeksinya demamnya akan terus kembali.
Pertanyaannya: apa infeksinya?
Dan ini diagnosis paling jujur dari tiga ekonom itu:
Masalah pertama denial yang sistematis.
Yanwar Rizki yang sudah di pasar modal sejak krisis 97-98 bilang satu hal yang sangat penting:
kebanyakan negara lain yang mengalami kesulitan mereka mengakuinya.
Mereka menyatakan sense of crisis.
PM Singapura Lawrence Wong langsung ngomong ke rakyatnya:
kita akan menghadapi masa
yang lebih buruk dari tahun 2000.
Bersiap-siaplah.
Indonesia?
Pejabat kita bilang ekonomi tumbuh 5,61%. Fundamental bagus.
Tidak ada masalah.
Purbaya tersenyum sambil bilang rupiah akan ke Rp15.000 dalam 30 hari.
Dan pasar membaca semua itu.
Pasar tidak bisa dibohongi dengan senyuman.
Masalah kedua — fiskal yang bocor dari segala arah.
David Adrison dari UI menyebut angka yang paling mengerikan: 23% dari penerimaan pajak kita habis hanya untuk cicilan bunga utang.
Bukan pokoknya.
Bukan investasi.
Bukan infrastruktur.
Hanya bunga.
Analoginya: kepala keluarga yang gajinya UMR tapi hampir seperempat gajinya langsung keluar untuk bayar bunga pinjaman sebelum bisa beli beras.
Dan keluarga ini masih terus makan di luar, bangun ini-itu yang tidak produktif, dan beli barang-barang yang tidak menghasilkan.
Dan kemampuan Indonesia mengonversi pertumbuhan ekonomi menjadi pajak tax ratio kita hanya sekitar 8-9%.
Artinya dari setiap Rp10 juta aktivitas ekonomi yang terjadi, hanya Rp900.000 yang bisa jadi pajak.
Ini sangat rendah.
Dan terus melemah.
Masalah ketiga — data yang tidak bisa dipercaya.
Ini yang paling mengejutkan.
Awalil Rizki menyebut sesuatu yang sangat fundamental: pertumbuhan ekonomi 5,61% diklaim tapi pajak kontraksi 10%.
Industri manufaktur diklaim tumbuh di atas 5% tapi konsumsi listrik turun hampir 1%.
Secara logika ekonomi dasar ini tidak mungkin.
Manufaktur yang tumbuh pasti
memakai lebih banyak listrik.
Ekonomi yang tumbuh pasti
menghasilkan lebih banyak pajak.
Kalau keduanya tidak terjadi salah satu
angkanya tidak benar.
Dan investor asing punya analis yang jauh lebih canggih dari pejabat kita.
Mereka membaca inkonsistensi ini. Dan mereka pergi.
Dan ini tentang kenapa rupiah melemah bukan karena Soros, bukan karena asing:
Yanwar Rizki yang hadir langsung saat krisis 97-98 — menjelaskan sesuatu yang sangat penting tentang mekanisme tekanan mata uang.
Waktu 1997 Soros menyerang mata uang Asia karena dia melihat perbankan Asia over-exposure.
Dia melihat celahnya dan masuk.
Tapi yang membuat celah itu ada bukan Soros tapi kondisi internal ekonomi Asia sendiri yang sudah bermasalah.
Sekarang 2026 yang menekan rupiah bukan hedge fund asing.
Yang menekan rupiah adalah kepercayaan yang terus turun dari dalam negeri sendiri.
Buktinya: dana pihak ketiga di perbankan yang naik justru dalam bentuk valuta asing.
Artinya orang Indonesia sendiri yang hidup di sini,
yang kerja di sini sudah mulai
menukar rupiah mereka ke dolar.
Bukan orang asing yang melarikan uang.
Tapi rakyat Indonesia sendiri yang tidak lagi percaya pada mata uang negaranya sendiri.
Dan ketika kepercayaan dari dalam sudah mulai goyah kepercayaan dari luar akan jauh lebih cepat hilang.
Dan ini perbedaan paling mendasar antara krisis 1998 dan kondisi 2026:
Tahun 1998 masalahnya ada di sektor swasta. Perbankan dan konglomerat yang over-exposure dengan utang valuta asing tanpa hedging.
Pemerintah dan fiskal saat itu masih relatif bersih.
Sri Mulyani saat itu masih di UI dan para teknokrat bisa meyakinkan dunia bahwa pemerintah bisa dipercaya.
Tahun 2026 masalahnya justru ada di fiskal pemerintah sendiri. Sektor swasta relatif baik.
Tapi ketika masalahnya ada di pemerintah siapa yang akan dipercaya untuk memperbaikinya?
Tidak ada pihak ketiga yang bisa masuk melalui pemerintah seperti 1998.
Karena justru pemerintahlah sumber masalahnya.
Dan ini yang paling miris paralel dengan Argentina:
David Adrison menyebut Argentina 1980-an.
Rasio utang terhadap PDB Argentina waktu itu hanya 33% jauh di bawah standar berbahaya.
Tapi Argentina gagal bayar.
Indonesia sekarang: rasio utang terhadap PDB 40%.
Pemerintah terus bilang ini aman karena jauh di bawah 60%.
Tapi yang menentukan apakah kita bisa bayar bukan rasio utang terhadap PDB.
Yang menentukan adalah kemampuan membayar dari penerimaan pajak.
Dan debt service ratio kita cicilan bunga utang terhadap penerimaan pajak sudah di 23%.
Bandingkan dengan India yang debt to GDP-nya 80% tapi debt service ratio-nya jauh lebih rendah karena tax ratio mereka jauh lebih tinggi.
India bisa bayar.
Indonesia makin tertekan membayar.
Dan ini sinyal paling mengerikan yang sudah muncul di jalanan:
Yanwar Rizki menyebut sesuatu yang sangat penting yang dia pelajari dari koleganya di BIN pada krisis 2008:
"Kalau kriminalitas naik artinya krisisnya sudah menyentuh rakyat biasa.
Tidak cuma di bursa."
Sekarang buka FYP. Penuh begal.
TNI ikut memburu begal yang kata mantan jenderal Tubagus Hasanuddin adalah hal yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia.
Itu bukan kebetulan.
Itu adalah sinyal yang sangat jelas bahwa tekanan ekonomi sudah menyentuh lapisan yang paling bawah.
Dan orang yang tidak punya pilihan lain mulai mencari jalan lain.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh diskusi itu:
Awalil Rizki bilang:
tidak ada yang menyelamatkan Indonesia dari krisis-krisis sebelumnya adalah kebijakan pemerintah yang sempurna.
Yang menyelamatkan adalah modal sosial solidaritas rakyat.
Waktu COVID penerimaan Baznas naik lima kali lipat.
Orang yang penghasilannya berkurang masih tetap berbagi.
Orang-orang saling menopang tanpa menunggu instruksi pemerintah.
Tapi modal sosial itu punya batas.
Pinjol sudah 103 triliun dengan NPL 5%.
Kartu kredit terus naik sejak 2024.
Tabungan masyarakat menipis.
Orang sudah tidak lagi menabung untuk masa depan mereka berhutang untuk makan hari ini.
Dan ketika batas itu terlampaui tidak ada modal sosial yang tersisa untuk menahan kejatuhan berikutnya.
Dan ini resep yang tiga ekonom itu rekomendasikan dan sangat berbeda dari yang dilakukan pemerintah sekarang:
Satu — komunikasi yang jujur.
Akui bahwa ada masalah.
Sampaikan langkah konkretnya.
Bukan denial.
Bukan sugar coating.
PM Singapura bisa melakukan ini.
Kenapa kita tidak bisa?
Dua — perbaiki fiskal segera.
Moratorium atau setidaknya evaluasi besar-besaran MBG fokus hanya pada 15% masyarakat yang benar-benar kekurangan pangan, bukan semua orang.
Tunda pembelian alutsista yang tidak urgent.
Setiap sinyal penghematan sekecil apapun akan dibaca pasar sebagai tanda keseriusan.
Tiga — jangan ganggu ekspor SDA.
Kebijakan ekspor satu pintu lewat Danantara boleh sebagai lembaga pencatatan untuk menangkap under invoicing.
Tapi kalau berubah menjadi tengkulak yang mengontrol harga itu akan membunuh penerimaan devisa kita yang paling vital.
Empat — data yang jujur.
Jangan sembunyikan angka.
Jangan sugar coat data.
Pasar tidak bisa ditipu dengan angka yang inkonsisten.
Dan setiap kali inkonsistensi data terbongkar kepercayaan yang hilang jauh lebih besar dari angka yang coba disembunyikan.
Rupiah melemah terus bukan karena Trump.
Bukan karena Soros.
Bukan karena tekanan eksternal semata.
Rupiah melemah karena pasar baik asing maupun dalam negeri sudah tidak percaya bahwa fiskal kita dikelola dengan benar.
Tidak percaya bahwa datanya akurat.
Tidak percaya bahwa komunikasi pejabatnya jujur.
Tidak percaya bahwa ada penjaga fiskal yang benar-benar independen ketika Menteri Keuangan sendiri bilang dia hanya alat dari kemauan presiden.
Dan kepercayaan tidak bisa dikembalikan dengan senyuman di kamera.
Tidak bisa dikembalikan dengan klaim pertumbuhan 5,61% yang tidak match dengan data pajak dan listrik.
Tidak bisa dikembalikan dengan janji rupiah ke Rp15.000 dalam 30 hari yang probabilitasnya 3-5%.
Kepercayaan hanya bisa dikembalikan dengan kejujuran.
Dengan data yang benar.
Dengan kebijakan yang konsisten.
Dengan pemimpin yang berani bilang:
kita sedang dalam kesulitan dan ini langkah konkret yang akan kita ambil.
Sampai itu terjadi rupiah akan terus bergerak ke arah yang sama.
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
Prabowo yang dulu kita kenal temperamental, kini lebih santai, seringkali mengkampanyekan ‘persatuan’, dan bahkan menyampaikan permintaan maaf. Strategi yang disebut oleh Nicole Curato sebagai toxic positivity.
Strategi sama yang digunakan Bongbong Marcos untuk memenangkan Pilpres Filipina pada 2022.
https://t.co/INsIfBvTIZ
tuan rumah tdk akan berunding dgn maling yg menjarah rumahnya, ini dikatakan tan malaka ketika kolonial belanda hendak masuk menguasai indonesia merdeka, nah kalian ini antek amerika yg mau mengkolonisasi iran ...mana sudi iran terima ajakan negosiasia antek penjajah
In 1972, Nixon bombed Hanoi at Christmas.
Operation Linebacker II.
Twelve days.
Hundreds of B-52 sorties.
Targets included hospitals, residential areas, and Bach Mai Hospital, a civilian medical facility struck multiple times, killing doctors and patients.
The world protested.
The images were everywhere.
Even American allies expressed horror.
Nixon called it "peace with honor."
The Vietnamese called it what it was: the desperate escalation of a power that knew it had lost, trying to bomb its way to a negotiating position that would allow it to leave without complete humiliation.
It didn't work.
The Paris Peace Accords were signed six weeks later, on essentially the same terms that had been available before the Christmas bombing.
Fifty years later, the grandchildren of the people who survived that bombing are signing contracts to build the infrastructure that will power Vietnam's future.
The grandchildren of the pilots are writing think pieces about concerning partnerships.
History's verdict on who made the right decisions is already written.
It was written on April 30, 1975.
It is being written again today, in the language of kilowatts and construction contracts and sovereign infrastructure decisions made without asking Washington's permission.
The arc of this story does not bend toward American preferences.
It bends toward Vietnamese determination.
It always has.
Sekolah yang Amerika Serikat hancurkan di Iran dengan menggunakan rudal jelajah Tomahawk (T-LAM) atau ordnance se-jenis itu ternyata digolongkan sebagai "military target" ya? Padahal setidaknya ada ±175 warga sipil yang menjadi korban meninggal dunia, sebagian besar anak-anak.
1) Mau anak kami sembuh dari batuk, makanya minum obat, beli di toko, kan udah ada BPOM yang ngawasin, udah aman lah ya. Tapi kena gagal ginjal, mesti cuci darah terus seumur hidup. Tinggal nama.
2) Mau ngilangin stres abis belajar bareng temen, jajan di Indomaret, duduk santai di kursi. Pegang pintu kesetrum gara-gara grounding listrik gak bener. Pulang tinggal nama.
3) Mau pulang kerja, abis lembur, pulang telat tengah malam, Alhamdulillah target tercapai. Di jalanan ketemu begal, geng motor, atau klitih tergantung daerah. Mereka bawa senjata tajam. Tinggal nama.
4) Mau liat klub sepakbola lokal, bareng anak buat ngajarin mereka sportivitas, sambil ngilangin stres. Di stadion ada keributan, aparat gak bisa deeskalasi, semprot gas air mata, semua orang kesulitan cari pintu keluar. Tinggal nama.
5) Mau beli martabak tengah malem karena laper. Ketemu polisi mabuk bawa senjata api. Ketembak. Udah gitu dibilang tawuran pula. Tinggal nama.
6) Mau jalan-jalan darmawisata bareng guru dan sekolah, sewa bis, aman lah ya mestinya udah memenuhi segala syarat makanya perusahaannya bisa nyewain. Ternyata bisnya gak dimaintenance dengan baik. Rem blong. Pulang tinggal nama.
7) Mau kerja di pabrik. Ambil kerja berbahaya di tempat smelter nikel. Pabrik kaya gini harusnya diawasin bener lah ya biar ada mitigasi. Yakin Insya Allah aman. Pabriknya meledak. Tinggal nama.
8) Mau berangkat kerja. Di depan ada truk bawa barang. Banyak jembatan timbang di sana sini, mestinya gak akan over dimensi dan overload lah ya. Gak akan lolos tuh dari jembatan timbang. Truknya rem blong karena ODOL, ambruk, ketimpa. Tinggal nama.
9) Mau belajar lebih tinggi, jadi dokter spesialis. Di kampus kena bully. Depresi. Udah gak kuat lagi. Tinggal nama.
10) Jadi PNS ngurus kerjaan Pemda. Dipanggil pengadilan buat jadi saksi ahli korupsi. Ilang. Pas ketemu kepala ilang. Tinggal nama.
Anaknya diberi makan, orangtuanya hilang pekerjaan. Walhasil satu keluarga terjaga dalam kemiskinan dan ketergantungan.
Kelak begitu musim pemilu tiba, suara mereka bisa dibeli dengan mudah. Itu pun dengan harga murah.
Demikian si bengis melanggengkan kekuasaannya. Di Somalia.
ALERTA! Media mengaburkan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator @KontraS Andrie Yunus.
Baca deh pemberitaan ANTARA. Kantor berita pemerintah itu dengan sengaja memuat pernyataan konyol seseorang yang katanya profesor. Tujuannya, agar pelaku penyiraman air keras dianggap oknum.
Terlihat jelas ini aksi bersih-bersih agar TNI bebas dari tanggung jawab. Lepas tangan.
Dari sudut pandang jurnalistik, berita tersebut jelas tidak netral. Isi berita full pernyataan seseorang bernama Profesor Kadri. Tidak ada narasumber lain. Subjektif.
Lebih aneh lagi, Kadri adalah dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Mataram. Apa urgensi guru besar di bidang Komunikasi mengurusi masalah hukum? Makin jelas tanda-tanda bahwa ini berita pesanan.
Bukan cuma ANTARA. Pernyataan Kadri soal kasus penyiraman air keras Andrie Yunus juga dimuat masif media mainstream. Beberapa media nasional serempak merilis berita serupa. Mencoba melepaskan TNI dari tanggung jawab. Membuat citra TNI tetap harum.
Apa kita harus bodo amat ketika warga sipil disiram air keras oleh TNI? Apa justru kita perlu marah? Jangan mengaku peduli kalau kalian cuma diam saat membaca ini.
Gue kasih tahu fakta lebih sakit lagi. Kantor Berita ANTARA adalah BUMN di bawah pengelolaan Danantara. Siapa penanggung jawab ANTARA? Dia adalah Pemimpin Redaksi Virgandhi Prayudantoro, kader Partai Gerindra.
Duit pajak rakyat cuma dipakai nyebokin tingkah rezim Prabowo Subianto? Gaji lu dipotong tiap bulan cuma demi memoles citra pemerintah. Apa iya gak marah? Kita harus tetap waras! #MESATU
Gue beberapa kali liat iklan provider yang menyediakan fitur anti spam dan scam.
Simpelnya layanan buat memblokir panggilan dan SMS penipuan secara otomatis.
Dan, BERBAYAR.
Padahal harusnya fitur gitu itu udah jadi defaultnya layanan mereka.
Kapitalis rakus macam babi.