Tiga ancaman yang berbahaya: Rupa-rupa, paru-paru, pura-pura
.
Negerinya sedang menghadapi rupa-rupa bencana. Rakyatnya berpotensi punya paru-paru yang tidak baik-baik saja. Pemerintahnya malah pura-pura baik-baik saja
Jujur gw sebenernya gak percaya sama ramalan tapi pas didengerin kok bener. Kalian liat aja gaes video ramalan dari hard gumay ini pasti merinding dengernya.
Apalagi pas denger kalimat "disini ada kapal terbalik, ada gunung meletus" Aku langsung ke inget sama gunung Krakatau yang erupsi. Semoga ramalannya gak bener ya gaes dan semoga kita selalu di beri keselamatan.
Memposisikan ke diri sendiri sebelum melakukan sesuatu ke orang lain adalah cara terbaik untuk kita supaya nggak bertindak sesuka hati. Pahami kalau orang lain juga punya perasaan
Orang lain itu bukan pelayanmu, mereka memang tidak harus selalu ramah kepadamu. Tiap orang punya cara masing-masing menanggapi orang lain, termasuk menanggapi orang-orang asing.
Nggak ada kewajiban orang lain untuk selalu ramah dan baik padamu. Hidup itu seperti cermin. Kalau kamu datang baik ke tempat orang, mungkin kamu akan dapat tanggapan yang baik. Kalau kamu datang bawa senjata, teriak-teriak, mungkin kamu akan ditendang.
Semoga aku selalu ingat bahwa diriku ini kecil sekali di dunia ini. Jika pun ada kemudahan dan nikmat yang besar dalam hidupku karena Pemilik Aku yang baik saja.
Semesta cenderung berpihak pada hati yang lapang. Karena saat orang lain sibuk terjebak pada rasa sakit dan ingin membalas, kamu justru memilih menjaga damai dalam diri, tanpa selalu menuntut untuk dipahami.
Dan dari ketenangan itu, perlahan kamu menjadi seseorang yang terlihat lebih ringan, lebih indah, dan lebih mudah didekatkan pada kebaikan.
Tingkat tertinggi dari percaya diri adalah saat kamu tidak lagi bergantung pada semua orang harus menyukaimu. Kamu paham bahwa akan selalu ada yang mengagumi tanpa alasan, dan ada pula yang tidak mampu melihat nilai dalam dirimu, dan itu tidak mengubah siapa dirimu sebenarnya.
Apa pun respons orang lain, kamu tetap berdiri untuk dirimu sendiri, tanpa harus mengecil demi diterima. Karena yang paling memahami nilai dirimu adalah dirimu sendiri, bukan penilaian orang lain.
Dan di titik itu, kamu mulai memilih dengan sadar: bukan lagi mengemis untuk disukai banyak orang, tapi merangkul mereka yang benar-benar mampu melihat dan menghargai dirimu dengan tulus.
Kalau kamu nyakitin seseorang dan ngehancurin hatinya, tapi dia masih bisa ngomong sama kamu dengan energi positif dan tetap respect sama kamu, cukup bayangin aja seberapa hebat orang yang udah kamu sia-siain.
Karena nggak semua orang punya hati sebesar itu untuk tetap baik setelah disakiti, dan nggak semua orang sekuat itu untuk tetap menghargai seseorang yang pernah menghancurkan perasaannya.
Jadi kalau suatu hari dia memilih pergi, jangan tanya kenapa, tanya dirimu sendiri, kenapa orang sebaik itu sampai lelah bertahan.