Trump: Saya-lah yang Menempatkan Jolani
Di video ini, Trump berkata, "Presiden Suriah, yang pada dasarnya saya tempatkan di sana, melakukan pekerjaan yang luar biasa. Dia orang yang keras; dia bukan anak baik-baik. Anak baik-baik tidak akan bisa melakukannya. Tetapi Suriah sedang bersatu, benar-benar bersatu dengan baik, dan sejauh ini dia sangat baik kepada Kurdi.”
Siapa Presiden Suriah? Tak lain eks-ISIS (pernah dipenjara AS di Irak selama 4 tahun), lalu ke Suriah bergabung dengan Al Qaida dalam proyek penggulingan Bashar Assad. Nama aslinya konon Ahmed Al Sharaa, selama "berjihad" ia nama samaran Abu Mohammed al-Jolani.
Awalnya, kelompoknya bernama Jabhah Al Nusra (Al Qaida cabang Suriah) dan resmi masuk daftar teroris oleh PBB. Lalu, JN ia ganti nama jadi Hay’at Tahrir al-Sham (HTS). Setelah akhirnya mereka menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, HTS ia bubarkan. Jihad dan khilafah apa kabar? Ya ga ada kabarlah. Dia ganti jubah jihadnya dengan jas dan dasi. Ia bersalaman dengan pemimpin negara-negara Barat.
Sikap terhadap Israel? Kadang ngomel-ngomel dikit, karena Israel terus merangsek masuk menguasai sejumlah kawasan di Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan dan Gunung Hermon, dimana jarak tembak Israel dari sana cuma 40 km ke Damaskus. Tapi terhadap Israel, tidak ada jihad. "Suriah tidak bisa perang lagi, dan musuh yang dihadapi saat ini adalah Iran dan Hizbullah," kata Jolani ke wartawan.
Saya (dan banyak rekan di medsos) sudah sejak lamaa.. sejak 2012 nulis soal agenda AS menggunakan proxi jihad ini. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Awalnya, karena ada media online pendukung jihad menobatkan saya jadi "tokoh Syiah" dalam semalam, friend FB berkurang nyaris 2000. Lalu berlanjut tekanan dan intimidasi jahat, di dunia nyata maupun maya, bahkan juga kerugian bisnis.
Tapi di saat yang sama, saya menemukan teman-teman sejati. Yang tetap setia, tetap mau berteman, dan memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing. Banyak yang bersama saya dan melindungi saya, dengan berani menggelar acara-acara bedah buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo, meski kemudian digeruduk fans "jihadis." Pernah minta tolong polisi di sebuah daerah, eh malah kami yang disuruh bubar.
Untuk mereka semua, saya ucapkan terima kasih banyak. InsyaAllah semua kesulitan yang pernah kita lalu, ga sia-sia, pahalanya dicatat rapi oleh malaikat. Begitu juga, semua fitnah, caci-maki, dan kata-kata jahat kalian para Wahaboy, juga dicatat dan akan ada hitungannya di hari akhir nanti. Saya percaya, kebenaran pasti akan terungkap, cepat atau lambat.
Sebenarnya sih kebenaran soal Suriah ini sudah lama terungkap, tapi masih banyak yang pura-pura ga tau. Sekarang setelah Trump mengaku, entah apa lagi alasan mereka.
Sebenarnya, Trump ini sama saja dengan Bush, Obama & Biden; sama-sama diam-diam memanfaatkan Al Qaida untuk proyek mereka. Bedanya, Trump blak-blakan, sementara yang lain menutup-nutupi dengan jargon HAM & demokrasi.
CATATAN: Saya mengungkap siapa yang berada di balik proyek Al Qaida & ISIS ini, tapi di saat yang sama, saya juga menyatakan bahwa MEMANG ADA umat Muslim yang bergabung atau fans organisasi teror berkedok jihad ini. Solusi untuk masalah ini, dalam pandangan saya, ada di dua level ini: kita menyebarluaskan pemahaman antiradikalisme tapi juga memahami peran AS & Israel dalam proyek terorisme ini.
Jadi, beda ya, dengan "pejuang antiradikalisme" versi genk Tel Aviv, yang sok iye aja teriak-teriak soal "toleransi," tapi giliran terorisme Israel dikritik, mereka berbalik ngatain saya "pendukung terorisme Hamas."
Yang mau mempelajari apa yang terjadi di Suriah, bagaiman peran para "jihadis" dan AS dan Israel, baca buku saya, unduh di https://t.co/eTGq7YAqPy
Ini pernyataan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Rio Firdianto yang mengklaim penyebab banjir dan longsor di Sumut bukan karena penggundulan hutan (29 November 2025) https://t.co/FttXVRyrTP
Video Lama Zulhas saat Jadi Menteri Kehutanan Kembali Viral Pasca Banjir Sumut Bawa Gelondongan Kayu
Video lama Zulkifli Hasan kembali viral seusai banjir di Sumatera Utara membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar. Video itu merupakan cuplikan film dokumenter "Years of Living Dangerously" yang dibuat oleh aktor Hollywood sekaligus aktivis lingkungan Harrison Ford pada 2013 lalu.
Dalam video itu Ford terlihat menegur Zulhas yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ford terlihat kesal karena Zulhas menanggapi persoalan deforestasi di Taman Nasional Tesso Nilo dengan nada bercanda. Ford bahkan memperingatkan Zulhas bahwa apa yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo bukan hal yang lucu. Ia mendesak Zulhas untuk mengambil tindakan nyata terhadap maraknya pembalakan liar di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau kala itu.
Video lama Zulhas itu kemudian banyak dikaitkan dengan tragedi bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Video itu kembali viral seusai munculnya gelondongan kayu dalam jumlah besar terbawa arus banjir. Kayu-kayu itu diduga terbawa arus dari kawasan hulu yang mengalami pembalakan lahan.
Terkait hal itu politisi PAN Ahmad Yohan menyebut tuduhan Zulhas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas bencana banjir dan longsor di Sumatera tidak berdasar. Ia mengatakan tuduhan itu hoaks bahkan mengarah ke fitnah. Menurutnya sangat tidak relevan bencana banjir yang terjadi pada tahun 2025 dikaitkan dengan kebijakan Zulhas saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan pada 2009-2014. Yohan menilai ada rentang waktu panjang sehingga tidak masuk akal jika mengaitkan bencana banjir dengan kebijakan Zulhas saat jadi Menhut.
“Tudingan itu tidak berdasar, hoaks, bahkan mengarah fitnah. Tidak relevan bahkan tidak masuk akal mengaitkan bencana banjir saat ini karena kebijakan beliau saat menjabat Menhut pada periode 2009-2014,” papar Yohan dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (30/11/2025). (ist)
#BanjirBandang #Sumatera #GelondonganKayu #Zulhas #ZulkifliHasan #HorisonFord #Deforestasi #TessoNilo
Setelah menumpas PKI, rezim Orde Baru kemudian menghabisi PNI dan NU. Dengan begitu Soeharto dapat berkuasa selama tiga dekade.
https://t.co/TFUjwRqXfZ
Munculnya pengusulan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah menimbulkan reaksi berantai dari berbagai pihak, khususnya karena adanya dilema sejarah yang belum terselesaikan.
Salah satu suara penting dalam perdebatan ini datang dari salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri.
Kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut menyatakan keberatan jika negara memberikan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada
Soeharto.
#nahdlatululama #nuonline #nuonline_id #gusmus #soeharto #pahlawan
Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, dinilai kental dengan muatan politis. Pakar sejarah dari Universitas Padjadjaran (Unpad) menilai figur Soeharto masih sangat kontroversial, sehingga penetapan gelar pahlawan dikhawatirkan justru akan menimbulkan masalah baru.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Prof. Kunto Sofianto, Ph.D mengatakan, dorongan pemberian gelar pahlawan kepada Pak Harto tidak terlepas dari konstelasi politik saat ini, terutama dengan adanya Presiden Prabowo Subianto sebagai mantan menantu Soeharto dan Fadli Zon yang dikenal sebagai pengagum Soeharto.
"Memang Soeharto itu di awal-awal Orde Baru kan menyelamatkan juga negara dari keterpurukan ekonomi dan politik, terutama. Inflasi sampai 300%," ujar Kunto kepada https://t.co/rlyOPGjVlP, Sabtu, 8 November 2025.
Menurut Kunto, sosok pahlawan idealnya adalah figur pemersatu yang patut diteladani semua kalangan, bukan sosok yang justru menimbulkan polemik baru.
***
Julkifli Sinuhaji/PRMN
Selama Orde Baru, NU sulit sekali berkembang, kecuali kiai-kiai yang pindah ke Golkar. Pemilu kala itu hanya formalitas; ideologi dilumpuhkan. https://t.co/3uswPomZH2