ada orang yang hidupnya sederhana banget.
naik sepeda onthel ke kampus.
nggak punya mobil. nggak punya rumah sendiri.
waktu dia mati pun, nggak ada harta yang ditinggal.
tapi organisasi yang dia bikin
melahirkan wakil presiden, menteri, ketua MK, dan puluhan elite republik.
namanya Lafran Pane.
dan lo mungkin belum pernah dengar namanya.
@maqdisasha Saya mau bikin negara Magelang raya.
Wilayahnya ex karesidenan kedu.
Ibukota Magelang.
Pelabuhan utama di purworejo/kebumen.
Bandara internasional di. Kab Magelang.
Temanggung, Wonosobo, kab Magelang jadi sentra pangan.
@Jateng_Twit Aku biasane tertib pajak.
Laporan pajak tiap tahun
Tapi wis 2 tahun iki wegah bayar pajak. Males banget.. Di rewangi tertib pajek..di bonusi opsen.
Dihadiahi dalan bosok.
Kerjo mangkat bengi was was.. Krono akeh klithih.. Kopet lah
2 hari di Surabaya.. Bener-bener "kota kedai kopi"
Dan kebanyakan selalu ramai.
Kayak "slow living" Banget disini. Pagi, siang, dan malam selalu ada yang sempatkan ngopi.
Dari cafe highclass sampai kelas sachetan selalu ramai.
Btw
Owner kedai kopi sachetan rata2 org klaten
Tidak ada tempat untuk orang pintar di Indonesia.
Indonesia tempatnya buzzer penjilat dan koruptor.
Orang pintar,orang jujur. Mending minggir saja dulu, negara ini bukan untuk kalian.
πππππππ
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.π«‘β¨