SINGGASANA ROJOMAYIT
Part Akhir - Patiwongso [Tamat]
“Yang mati, ingin hidup untuk bertobat.. Yang hidup, lupa akan tujuannya…”
#bacahorror@ceritaht@bacahorror@IDN_Horor
PAGELARAN SEWU LELEMBUT
Part Akhir - Empat Nyawa [TAMAT]
Pagelaran telah berakhir, namun empat nyawa harus tetap berada di sana menanggung kutukan yang tersimpan di Leuweung Sasar
#bacahorror@bacahorror@IDN_Horor
KURUSETRA
Part Akhir - Legenda tentang masa depan
- TAMAT -
Ayo kita tuntaskan! Minta tolong bantu ninggalin jejak buat retweet, like sama komen ya.
Matur nuwun
@bacahorror@bagihorror@IDN_Horor@ceritaht#bacahorror
KURUSETRA
Part Akhir - Legenda Tentang Masa Depan
(Bagian satu)
Karena part ini panjang banget, jadi mohon maaf akan saya bagi jadi dua part ya, hari ini dan minggu depan.
buat yang nggak mau baca nanggung bisa dirapel minggu depan aja 🙏
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
KURUSETRA
Part 8 - Semesta yang Berbeda
#bacahorror@IDN_Horor@bacahorror@bagihorror
“Tanah meratap, langit merenung… Mereka yang tidak seharusnya berada di alam ini datang dan menari di atas kubangan darah. Harus ada yang mati…
Seribu nyawa, atau satu…”
Seorang kakek dengan tubuh yang kurus dan dan rambut putih yang tak terawat membuka matanya tepat setelah ilmunya mengambil alih tubuhnya untuk berucap.
Bekas jahitan masih menghiasi mulutnya. Namun walaupun ia bisa berkata, ia memilih untuk menyegel ucapannya yang selalu menjadi kutukan atas orang-orang di sekitarnya.
Mereka tak kasat mata, namun pengaruh mereka nyata. Cela, fitnah, kutuk, hingga kematian terjadi di antara manusia atas kuasa makhluk-makhluk terkutuk yang menuntut manusia untuk berakhir di jalannya.
***
KURUSETRA
Part 7 - Pulau Mayat
@IDN_Horor@bagihorror@bacahorror#bacahorror
“Pusat gempa terdeteksi berasal dari laut selatan pulau Jawa, warga diminta untuk berjaga-jaga akan datangnya gempa susulan yang berpotensi tsunami…”
Terdengar suara radio mengalun dari salah satu kapal pencari ikan yang melawan guncangan ombak di perairan laut selatan.
Beberapa gempa telah mengguncang, menyebabkan getaran yang terasa hingga ke pemukiman penduduk di sekitarnya. Meskipun warga pesisir merasa cemas akan dampaknya, kekhawatiran itu sedikit mereda saat mereka mengetahui pusat gempa berada jauh di selatan pulau Jawa. Namun tak demikian bagi sebagian orang yang peka terhadap petunjuk dari kejadian di laut selatan itu.
“Kita kembali ke darat! Pelayaran kita tunda sampai laut benar-benar aman!” Perintah seorang nahkoda kapal Nelayan yang menyadari bahayanya tengah laut pada saat itu.
“Tapi kita baru nebar Jala satu kali, Pak.”
“Jangan pernah meremehkan laut. Lebih baik rugi solar dan waktu dibanding harus mati,” Ucap Nahkoda itu sambil menatap sesuatu yang berada jauh di depan matanya.
Sebuah pulau…
Sepertinya hanya ia seorang diri yang menyadari bahwa pulau itu tidak seharusnya berada di sana, ia sadar sesuatu yang buruk akan datang dari pulau itu.
“Jangan ada yang membantah! Kita kembali!”
Kalimat itu sudah cukup jelas dan mereka pun membatalkan pelayaran mereka dan kembali ke daratan.
Saat pulau sudah terlihat, seorang anak buah kapal tertegun menatap sebuah batu karang. Ia menatap puncak batu itu dan menyaksikan ada sosok seorang pria berumur yang mengenakan baju hitam dan seorang pria yang mengenakan baju adat bali yang menatap ke arah pulau jauh di tengah laut itu.
“Kenapa, Mas? Kok bengong” Tegur awak kapal lainnya.
“I—itu, ada orang di atas karang..”
“Ngawur kamu, nggak ada perahu di sana! Lagian mana ada orang yang bisa naik ke karang tengah laut yang seruncing itu!”
“Lha! Itu liat sendi….”
Saat menoleh kembali, sosok kedua pria itu sudah menghilang dari puncak batu karang itu. Awak kapal itu pun bingung. Saat itu ia hanya melihat sisa percikan api di sana.
“Ta—tadi ada di sana! Benar!” Awak kapal itu mencoba meyakinkan.
Temannya itu hanya menggeleng dan meninggalkan awak kapal itu. Ia kecewa, namun ia tidak ingin memikirkan apa yang ia lihat itu lebih lanjut, walau sebenarnya tidak ada yang salah dengan penglihatannya.
…
Mereka adalah Bli Waja dan Mbah Jiwo. Gempa yang terjadi adalah sinyal untuk mereka bahwa Trah Pakujagar sudah berhasil membangkitkan sang Ratu dan bersiap menyatukan kekuatan mereka.
“Jadi pulau itu bagian dari padang Kurusetra?” Tanya Mbah Jiwo.
“Bagian paling terkutuk, tempat dimana jasad dari berbagai makhluk bergelimpangan, kolam darah memerahkan tanahnya, dan nyawa-nyawa dikutuk di dasarnya,” Balas Bli Waja.
Mbah Jiwo menelan ludah membayangkan apa yang akan ia hadapi, tapi tidak ada pilihan untuk menyerah baginya.
Dengan bantuan wujud Rangda dari Bli Waja, Mereka pun melayang mencapai pantai pulau terkutuk itu.
…
KURUSETRA
Part 5 - Pusaka Waktu
Satu lagi sosok besar menampakkan dirinya dalam gejolak bencana gaib ini, sementara gejolak di Istana Indrajaya membawa mereka bertemu dengan sosok yang begitu dekat dengan Danan, Cahyo, dan Paklek.
@IDN_Horor@bacahorror#bacahorror
Part 1 : Persembahan untuk laut
https://t.co/19cRpwshUx
Part 2 : Jagal Mayat
https://t.co/8PL0fv4Mg6
Part 3 : Prasasti Batas Zaman
https://t.co/u0j3jpqFqL
Part 4 : Jejak Masa Lalu
https://t.co/cy95bP4EDT
KURUSETRA
Part 3 - Prasasti Batas Zaman
@IDN_Horor@ceritaht#bacahorror
PENDOSA DARI MASA LALU
Akar dari semua permasalahan manusia di dunia ini tak lepas dari hawa nafsu. Sebuah hasrat yang mendorong manusia untuk mencapai apa yang diinginkannya. Kepuasan adalah imbalannya.
Kadang begitu banyak hal yang dikorbankan hanya untuk menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar berarti di alam ini. Harta, kekuasaan, nafsu adalah fana. Tidak ada yang bertahan selamanya, semua akan musnah begitu seorang manusia telah mencapai akhir hayatnya.
Hanya amalan dan perbuatan baik yang mampu mensucikan roh kita lah yang patut diperjuangan. Karena sejatinya hal itulah yang memastikan apakah kita pantas untuk kembali berada di sisi Sang Pencipta.
Tapi jalan seorang manusia tidak semulus itu. Mereka tidak hanya sedang berpacu dengan kehidupan. Mereka makhluk-makhluk yang dilaknat dan tak lagi mendapat pengampunan tak rela melihat manusia mendapatkan tempat yang tak lagi bisa mereka gapai. Dengan berbagai cara dan muslihat, mereka menarik manusia untuk jadi bagian dari mereka ke dalam siksaan abadi.
“Umur manusia saat ini mungkin hanya seratus tahun, namun umur Iblis itu sampai hari kiamat. Jangan heran bila Iblis lebih pintar, lebih sakti, dan lebih kuat dari manusia..” Nyai Jambrong bercerita pada Guntur dan Dirga di belakang mobil truk kosong yang mereka tumpangi.
“Terus kenapa mereka tidak menghabisi manusia saja, Eyang? Kan mereka sekuat itu?” Tanya Dirga.
“Tuhan memberi berbagai batasan di alam ini untuk melindungi umatnya. Termasuk terpisahnya alam roh, alam manusia, dan dimensi lain adalah salah satu caranya. Walau sehebat itu, Iblis tidak memiliki kuasa untuk membunuh manusia. Makannya mereka menghasut dan memanfaatkan manusia untuk memenuhi keinginan mereka,” Jelas Nyai Jambrong.
Dirga dan Guntur mengangguk mengerti. Setiap setan dan roh yang mencelakai manusia hampir seluruhnya memiliki ikatan atau hubungan dengan manusia sebelumnya walaupun mungkin manusia tersebut sudah mati. Salah satu yang menjadi masalah di alam ini adalah mereka yang melakukan perjanjian gaib dan akhirnya mati meninggalkan sosok setan perjanjian itu bergentayangan di alam ini.
“Kalian pernah dengar tentang perang Kurusetra?” Tanya Nyai Jambrong.
Dirga menggeleng, namun Guntur mengangguk.
“Tanah dimana perang Baratayuda terjadi kan, Eyang? Dimana titisan-titisan para dewa ikut andil dalam perang tersebut.”
Nyai Jambrong mengangguk. Ia menceritakan bahwa perang itu mengorbankan begitu banyak nyawa dan melepaskan begitu banyak kekuatan. Jasad makhluk dari berbagai ras terbaring dan terkubur disana dengan pusaka-pusaka yang mampu menggetarkan bumi.
“Perang Baratayuda itu kisah nyata, Eyang? Kayaknya nggak masuk akal,” Balas Guntur .
“Banyak misteri di masa lalu yang tidak bisa dijamah oleh manusia, Tur. Entah itu perang Baratayuda atau perang lainnya, tapi sisi lain padang Kurusetra menyimpan semua dendam dari peperangan itu,” Jelas Nyai Jambrong.
Dirga mencoba mencerna perbincangan itu. Ia jelas merasakan besarnya masalah yang mereka hadapi saat ini.
“Memangnya seburuk apa hal yang berhubungan dengan padang Kurusetra, Eyang?” Tanya Dirga.
“Kalian ingat betapa mengerikannya kerajaan Setra Gandamayit yang kita lawan dulu?” Ucap Nyai Jambrong.
Guntur dan Dirga mengangguk. Mereka tidak akan lupa pertarungan yang hampir menghilangkan nyawa mereka di Jagad Segoro Demit dulu.
“Sekarang bayangkan sebanyak apa kerajaan dari berbagai ras yang bertarung di padang Kurusetra. Dan bayangkan berapa banyak makhluk dari berbagai ras yang mati dengan masih membawa dendamnya disana.. Raksasa, Wanamarta, Dedemit, berbagai makhluk yang tidak kita ketahui.
Dan Trah Pakujagar berniat membangkitkan dan memanfaatkan kekuatan mereka,” Jelas Nyai Jambrong.
Mendengar perkataan itu, Guntur dan Dirga pun merinding. Mereka merasa tidak mungkin bila manusia harus berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti itu lagi. Mungkin itu artinya sama dengan kiamat.
“Hal itu nggak akan terjadi, Eyang. Kita akan cari keberadaan Mas Cahyo dan kembali menyelesaikan ini semua seperti biasa,” ucap Guntur.
Kali ini Nyai Jambrong memalingkan wajahnya.
“Bersiaplah untuk semua kemungkinan..” Ucapnya.
Dirga sangat jelas membaca gelagat Nyai Jambrong. Ia yang biasa galak dan banyak berceloteh kini terlihat serius. Ia tahu sesuatu yang membuat Nyai Jambrong bisa seperti ini, jelas bukan hal yang sembarang.
“Tenang Eyang, Tuhan pasti memberi kita jalan. Jangan sampai hal ini membuat Eyang murung terus seperti itu..” Ucap Dirga.
“Bukan, Dirga. Bukan itu saja yang membuat eyang tidak tenang..” Ucap Eyang.
“Lantas apa lagi, Eyang?” Tanya Dirga.
Nyai Jambrong menggerakkan rahangnya dan wajahnya benar-benar kesal.
“Eyang lupa bawa gigi palsu eyang. Bisa repot kalau Eyang nggak bisa makan..” ucapnya.
Mendengar ucapan itu seketika wajah Dirga melongo aneh, sedangkan muka guntur sudah terlihat kecut.
“Tenan, to. Wis nggenah ora usah ditaktoke..” (Bener, kan! sudah bener nggak usah ditanyain)
Keluh Guntur sambil membuang muka. Mendengar ucapan Itu Nyai Jambrong pun memelototi Guntur. Guntur yang merasa terancam menggeser pantatnya menjauh dari Nyai jambrong hingga ke ujung belakang.
***
@meydikurniaa @nyctophileygxx @djuogja @ILHAMRIZX@arsalyapi Cen setia kok, wong wingi jare meh ngejak nunggu samsudin pembuktian, ket saiki isih setia nunggu og wkwk