✍️
Pak Tua Luhut & AHY,
Berdebat Kampungan…!
by Faizal Assegaf (kritikus)
Akting sangar, sok jagoan seolah bakat dan sekaligus hobi Luhut Binsar Panjaitan. Modus minim senyum, Pak Tua getol beradegan mata melotot pada mereka yang berbeda politik.
Sikap arogansi Luhut sudah menjadi watak. Ihwal norak dan tendensius tersebut, acap kali muncul merusak nurani dan akal sehat publik. Norak lantaran makin tua, martabat kian merosot.
Dengan setumpuk jabatan, Luhut merasa paling perkasa. Berbicara semaunya. Hantam sana, hajar sini, demi memuluskan aneka hajat. Wajar menyulut amarah dan kebencian rakyat.
Luhut ngotot memaksa sederet kebijakan yang dinilai culas dan tidak adil. Tentang skandal lahan sawit, subsidi kendaraan listrik, nyerocos Capres harus orang Jawa, intrik kudeta Golkar dan masih banyak lagi.
Yang terbaru dan memicu pro-kontra, Luhut tiba-tiba nongol menuding AHY Ketum Demokrat kampungan. Sentilan itu terkait respon Luhut soal partai Demokrat yang tengah berperkara di Mahkamah Agung (MA).
Walhasil, saling baku hantam opini terjadi antara Luhut, AHY dan loyalis Demokrat. Sikap Luhut dinilai sangat lancang dan kurang ajar. Lantaran selaku Menko Marves terlibat obok-obok partai.
Sebaliknya, Luhut mungkin merasa selaku politisi Golkar dan sekaligus tukang pukul Istana. Terusik karena AHY menuduh rezim Jokowi berupaya menjegal Demokrat melalui tangan MA.
Walhasil, Luhut hangus digoreng. Disebut jauh lebih kampungan dari AHY. Setidaknya, Luhut kali ini turun ke level paling terendah. Pak tua terlibat debat kusir dengan kaum muda jejaring medsos.
Tentu saja bikin SBY dan para elite Demokrat tertawa, melihat lawakan politik Luhut. Mestinya, Luhut tahu diri, menjadi tua wajib bersikap lembut dan bijak. Bukan tambah ganas dan kampungan.
Mirip lagu yang terkenal di kalangan anak-anak muda: Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.
**
Jokowi membuka ekspor pasir laut yang dilarang di era Megawati. Berisiko merusak lingkungan dan menenggelamkan pulau kecil.
Simak edisi terbaru Koran Tempo, hanya di https://t.co/JSPrmxFxEM
#korantempodigital#KoranTempo
Touchdown Pacitan, squad LavAni memulai latihan persiapan pertandingan persahabatan di GOR LavAni. Rasane kangen tenan dolen ten mriki, Pacitan “Paradise of Java” 🌊
#LavAniDiPacitan#LavAniForever
Kita mengira dengan flexing mobil bagus, barang mahal, rumah gede maka orang akan kagum
Setelah baca fenomena “Man in the Car Paradox” di buku Psychology of Money, gue jadi mempertanyakan validitasnya
Yuk pahami fenomena ini, penyebab orang flexing dan 3 alternatifnya
Utas🧵
1. Menarik yg disampaikan Prof Denny Indrayana melalui twitnya ttg informasi bakal ditetapkannya Sistem Proporsional Tertutup oleh MK dlm Pemilu 2024. Juga menarik, mengait PK Moeldoko di MA yg digambarkan Partai Demokrat sangat mungkin diambil alih Moeldoko *SBY*
10. Pandangan saya, untuk pemilu 2024 tetap menggunakan Sistem Proporsional Terbuka. Setelah pemilu 2024, Presiden & DPR duduk bersama utk menelaah sistem pemilu yg berlaku, utk kemungkinan disempurnakan menjadi sistem yg lebih baik. Dengarkan pula suara rakyat *SBY*
9. Saya yakin, dlm menyusun DCS, Parpol & Caleg berasumsi sistem pemilu tidak diubah, tetap sistem terbuka. Kalau di tengah jalan diubah oleh MK, menjadi persoalan serius. KPU & Parpol harus siap kelola “krisis” ini. Semoga tdk ganggu pelaksanaan pemilu 2024. Kasihan rakyat *SBY*
8. Ketiga, sesungguhnya penetapan UU ttg sistem pemilu berada di tangan Presiden & DPR, bukan di tangan MK. Mestinya Presiden & DPR punya suara ttg hal ini. Mayoritas partai politik telah sampaikan sikap menolak pengubahan sistem terbuka menjadi tertutup. Ini mesti didengar *SBY*
7. Kalau MK tidak memiliki argumentasi kuat bahwa Sistem Pemilu Terbuka bertentangan dgn konstitusi sehingga diganti menjadi Tertutup, mayoritas rakyat akan sulit menerimanya. Ingat, semua lembaga negara tmsk Presiden, DPR & MK harus sama-sama akuntabel di hadapan rakyat *SBY*
6. Pertanyaan kedua kpd MK, benarkah UU Sistem Pemilu Terbuka bertentangan dgn konstitusi? Sesuai konstitusi, domain & wewenang MK adalah menilai apakah sebuah UU bertentangan dgn konstitusi, & bukan menetapkan UU mana yg paling tepat ~ Sistem Pemilu Tertutup atau Terbuka? *SBY*
5. Pertanyaan pertama kpd MK, apakah ada kegentingan & kedaruratan sehingga sistem pemilu diganti ketika proses pemilu sudah dimulai? Ingat, DCS (Daftar Caleg Sementara) baru saja diserahkan kpd KPU. Pergantian sistem pemilu di tengah jalan bisa menimbulkan “chaos” politik *SBY*
4. Ada 3 hal yg ingin saya sampaikan berkaitan dgn sistem pemilu yg hendak diputuskan MK. Mungkin ini juga pertanyaan mayoritas rakyat Indonesia & mayoritas partai-partai politik. Saya pikir para pemerhati pemilu & demokrasi juga memiliki kepedulian yg sama *SBY*
3. Jika yg disampaikan Prof Denny Indrayana “reliable”, bahwa MK akan menetapkan Sistem Proporsional Tertutup, dan bukan Sistem Proporsional Terbuka seperti yg berlaku saat ini, maka hal ini akan menjadi isu besar dalam dunia politik di Indonesia *SBY*
2. Prof Denny Indrayana adl mantan Wamenkumham & ahli hukum yg kredibel. Karenanya, saya tergerak berikan tanggapan ttg sistem pemilu yg akan diputus MK & PK Moeldoko di MA yg ramai diisukan Partai Demokrat bakal dikalahkan & diambil alih oleh Kepala Staf Presiden Moeldoko *SBY*
1. Menarik yg disampaikan Prof Denny Indrayana melalui twitnya ttg informasi bakal ditetapkannya Sistem Proporsional Tertutup oleh MK dlm Pemilu 2024. Juga menarik, mengait PK Moeldoko di MA yg digambarkan Partai Demokrat sangat mungkin diambil alih Moeldoko *SBY*
Betul dan pelaksaan awal jaman Bapak SBY, saya konsultan disana pada waktu pelaksanaan awal. Benar mangkrak jaman Ahok kmd dilanjutkan Pak Anies. Pak Heru gunting pita.
Sodetan Ciliwung mangkrak jaman ahok krn kalah gugatan warga lalu mulai lagi 2021 oleh Anies, menteri PU & menteri PPN.. Heru tinggal gunting pita
Retweet keras gaes biar pada tau kelakuan buzzer tukang klaim!! https://t.co/sxQP5YmSe4