Semoga hujan ini menjadi awal meredanya kabut asap dan padamnya titik-titik api di Kalimantan.
Semoga Allah melindungi masyarakat dan para relawan yang masih berjuang. 🤲🏻
Presiden yang mengorbankan mimpinya demi mimpi rakyatnya.
Saat ini kita punya presiden yang lebih mementingkan mimpinya dan mengorbankan mimpi rakyatnya😭
Mau gimanapun endingnya, Rodri tetaplah jadi pahlawan City buat menangin trofi UCL pertamanya dalam sejarah
Terlalu egois rasanya kalo sama sekali ga ngucapin makasih ke doi
So, thank you for the journey, Rodri🩵
PANGKORMAR (Panglima Korps Marinir) Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr Endi Supardi, S.E., M.M., https://t.co/5xRfSsGlyu.Opsla., CHRMP., CRMP
Mantap ...!!!👍💪✊
Pemimpin harus memiliki fondasi agama yg kuat dan pemberani juga membela seluruh rakyatnya
Buat yang punya bis 🙂🙂🙂. Tim TAQI dari Bogor mau ke Solo nih, ber 20-orang, di akhir Agustus ini kalau ada yang punya bis nyaman dan mau sponsorship, please kontak ke Tsis +62 851-1124-1453
Ada juga orang tahajjud itu bukan karna dia religius, banyak ibadah ini itu. Hanya sesimpel dia sadar, dia tidak punya kuasa atas hidupnya. Dan dia yakin, hanya Allah yang bisa membantunya. That's called iman, yang ada di benaknya
Bapak tua di ujung kampungku meninggal Selasa subuh. Tinggal sendirian belasan tahun, anaknya kerja di luar negeri, istrinya udah lama nggak ada.
Pas jenazahnya selesai dimandiin, yang ada di rumah itu cuma tiga orang. Pak RT, tetangga sebelah, sama tukang gali kubur.
Kain kafan udah siap. Keranda nunggu di halaman. Nggak ada yang bisa gotong.
Pak RT nulis satu pesan di grup WhatsApp kampung. Nggak panjang.
"Pak Sarno meninggal. Yang bisa bantu gotong, saya tunggu di rumah beliau."
Dia sendiri nggak yakin bakal ada yang dateng. Hari kerja, jam tujuh pagi, dan hampir nggak ada warga yang kenal Pak Sarno lebih dari sekadar kakek yang duduk di teras tiap sore.
Setengah jam kemudian, halaman rumah itu penuh.
Tukang bangunan dari proyek sebelah ijin setengah jam sama mandornya. Ibu-ibu warung tutup lapak. Anak-anak SMA yang harusnya berangkat sekolah ikut berdiri di barisan belakang.
Yang gotong keranda sampe gantian empat rombongan, gara-gara kebanyakan yang mau.
Waktu diturunin ke liang, yang ngelilingin kuburan lebih dari seratus orang. Nggak ada satu pun yang bisa cerita banyak soal beliau.
Anaknya baru nyampe tiga hari kemudian. Dia nangis pas dikasih liat fotonya, bukan karena bapaknya pergi, tapi karena nggak nyangka sebanyak itu yang nganter.
Kadang orang baru tau dia punya banyak tetangga justru pas dia udah nggak bisa liat sendiri.
Darmin, Bima
cc wnmei_at