Presiden terdahulu klo market ancur, rupiah melemah, dan rakyat udah berisik bakal cepet ditangani problemnya.
2013 parah banget rupiahnya tapi pak SBY take action jg saat itu jadi bisa ternetralisir
2015 budget berantakan parah, trus Pak Jokowi take action jg dengan manggil balik bu SMI.
2018 berantakan karena tariff Trump dan BI berani pre-emptive rate hike dan pemerintah adjust anggaran juga
Baru kali ini market ancur hampir 40% dan rupiah melemah terus tapi gak ada respon serius. Masih nyalahin BI, masih glorifikasi MBG, masih anti kritik tentang plesir ke LN, dll.
Problemnya itu. Global economy gk lagi baik2 aja. Spekulasi pasar saham gila2an dan credit issue mulai muncul. Kalau gaya kerjanya masih kayak gini.
Gw gak paham lagi mau seberapa hancur rupiah dan IHSG ketika nanti kejadian.
Pas lokasi rumah angkernya di Jepang, fee per malam ¥150.000 sekita Rp16,9jt.
Giliran rumah angkernya di Bekasi jadi cuma Rp4,2jt per malam😂😂
Nyesuain umr lokasi.
Bahkan industri perhantuan pun ada kebijakan location-based pay 😂😂
Justru krn blio paham soal 98, mk blio sdh memastikan 98 ga trulang:
>Kasih proyek ke parcok-parjo
>Kasih makan & kerjaan ke orang desil bawah via MBG & KOPDES
Memastikan ga ada yg kelaparan utk turun ke jalan. Can't you see?
Yg ngeluh itu middle-class yg mager turun ke jalan
Kejadian Agustus tahun lalu pecah pun itu outlier krn arogansi + nirempati pejabatnya yg nyentuh ke isu "harga diri"
Sejak saat itu, bisa dilihat, pejabat blunder jauh lebih cepat minta maaf dibanding sbelumnya
Semalam saya analisis ada kemungkinan Dadan MBG bukan dipecat tapi “diamankan”.
List potensi fraud BGN:
1. Infrastruktur TIK 5.000 SPPG: Rp 665 M -> penunjukan langsung
2. Sistem Informasi Gizi Nasional: Rp 600 M -> penunjukan langsung
3. Motor listrik 21.801 unit: Rp 1,2 T -> e-katalog, supplier tunggal
4. Tablet & perangkat IT: Rp 830 M -> e-katalog
5. Pakaian & kaos kaki: Rp 622 M -> swakelola Unhan
6. Sertifikasi halal: Rp 141 M -> diduga pemecahan paket, dilaporkan ICW ke KPK
7. Jasa akomodasi sosialisasi: Rp 18,2 M -> penunjukan langsung
8. Rekomendasi kebijakan gizi: Rp 10 M -> penunjukan langsung
9. Jasa EO (31 paket): tidak dirinci -> tanpa tender kompetitif
10.Pengelolaan opini publik: Rp 800 juta -> e-purchasing
Total teridentifikasi: >Rp 4 triliun.
Seskab Teddy Indra Wijaya .
Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi ,
merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu."
Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu.
Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN.
Yang "pribadi" cuma excess-nya.
Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%.
Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia.
Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang.
Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri.
Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global.
Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker.
Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air.
Soal sindiran "3 bulan":
Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat.
Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara.
Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat.
Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman.
"Speak truth to power," kata Dino.
Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.
Nggak. MBG sama Kopdes bukan yang bikin rupiah ambruk secara langsung. Tapi dua program ini turut bikin keuangan negara makin kepepet, dan itu berefek ke rupiah. Prosesnya gini: kalau pengeluaran negara jauh lebih gede dari pemasukannya, pemerintah harus ngutang lebih banyak lewat surat berharga. Investor asing yang pegang surat itu mulai ragu, karena makin gede defisitnya, makin mereka khawatir negara susah bayar utang. Makanya mereka jual, tukar ke dolar, cabut. Permintaan rupiah turun, dolar naik.
Mereka kan pantau terus berita kita, defisit APBN per April 2026 udah tembus Rp164,4 triliun, jauh lebih parah dibanding April tahun lalu yang cuma Rp4,3 triliun. Belum lagi dokumen APBN final 2026 tegas bahwa hampir sepertiga anggaran pendidikan, tepatnya Rp223,5 triliun dari total Rp769 triliun, digeser buat MBG.
Yang pasti bikin mereka tambah heran, tentang Kopdes. 80 ribu koperasi desa dikasih pinjaman dari bank BUMN buat modal usaha. Normalnya kan koperasi yang nyicil utang itu tiap bulan. Tapi di aturan terbaru, yang bayar cicilan pokok plus bunganya adalah negara, bukan koperasinya. Jadi koperasinya minjem, tapi yang nanggung utangnya APBN. Koperasinya rugi atau males pun, utangnya tetap kebayar. Beban itu nempel tiap bulan, dari 80 ribu koperasi sekaligus. Apa ga geleng-geleng kepala itu investor dan ekonom global.
Pemerintah udah gerak sih, hanya dinamikanya tetap belum meyakinkan (bahkan lucu). Purbaya udah bilang bakal motong anggaran MBG, ga sampe seminggu dibantah sama BGN. BI juga udah naikin suku bunga, rupiah tetap tembus 17.845. Tapi tetap gw apresiasi 2 upaya itu, khususnya MBG kalau bisa diturunkan lagi dananya, atau kalau tidak mau, fokus arahkan ke sekolah-sekolah di pelosok yang muridnya benar-benar membutuhkan.
Terus apa yang selanjutnya pemerintah harus lakukan?
Menurut keyakinan saya ada tiga hal.
Pertama soal defisit. Yang perlu dilakukan: tunda ekspansi Kopdes ke daerah yang belum siap, daripada maksa jalan tapi malah nambahin defisit baru. Yang lebih penting, buktiin ke pasar bahwa defisit nggak akan jebol 3% sampai akhir tahun. Investor nggak butuh janji, mereka butuh lihat konsistensinya.
Kedua soal cadangan devisa. Per April kata BI, cadangan devisa kita tinggal $146,2 miliar, turun dari $156,5 miliar di awal tahun. Artinya dalam 4 bulan BI udah habiskan $10 miliar buat jual dolar langsung di pasar supaya rupiah nggak makin nyungsep. Masih ada lumayan banyak sih, tapi kalau terus dikuras dengan laju segini, ruang geraknya makin sempit. Yang harusnya dilakukan bukan cuma jual dolar terus, tapi genjot dolar masuk: tarik investasi asing langsung. Dan ini butuh lebih dari sekadar Prabowo keliling dunia.
Kalau kita lihat, dalam 18 bulan Prabowo udah 49 kali keluar negeri, hampir setara 4 bulan penuh hari kerja, dan selalu pulang bawa "komitmen investasi" triliunan. Tapi investor terbesar Indonesia sampai sekarang tetap Singapura, Hong Kong, China, bukan negara-negara yang dikunjungi. Komitmen bukan realisasi. Yang bikin investor beneran masuk adalah kepastian hukum, kemudahan izin usaha, dan konsistensi kebijakan, bukan foto bareng pemimpin dunia.
Ketiga, dan ini yang paling kontroversial, tentang gimana caranya mendorong jumlah ekspor kita. Mulai 1 Juni 2026 eksportir CPO dan batu bara wajib simpen 100% devisa hasil ekspornya di bank BUMN selama 12 bulan. Ekspor komoditasnya juga mulai masuk masa transisi lewat BUMN baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Untuk saat ini eksportir masih boleh pakai mitra/sistem lama sih, tapi dokumentasinya sudah harus lewat DSI. Baru mulai 1 Januari 2027 nanti seluruh transaksi ekspor sepenuhnya diambil alih DSI, sebagai eksportir tunggal batu bara, sawit, dan ferro alloy.
Tujuannya mulia: supaya dolar dari ekspor nggak kabur ke luar dan kebocoran devisa lewat transfer pricing bisa ditekan. Tapi gw tetap khawatir melihat proses eksekusi dan kecepatannya. DSI dibentuk dalam 3 hari: akta notaris 18 Mei, SK Kemenkumham 19 Mei, diumumkan Presiden 20 Mei, tanpa satu pun rapat publik, tanpa DPR, tanpa asosiasi pengusaha. Lalu sekarang satu entitas ini pegang seluruh hak jual komoditas strategis Indonesia ke luar negeri, tanpa audit independen, tanpa mekanisme pengawasan yang jelas. Ironisnya, ini persis modus transfer pricing yang mau diberantas, tapi sekarang yang melakukannya adalah negara sendiri. Kalau badan ini tidak transparan, kita tidak nutup pintu korupsi, kita cuma mindahin lokasinya ke satu titik yang lebih susah diawasi.
Jadi balik ke pertanyaan awal tadi: emang kalau MBG dan Kopdes dihentikan rupiah bisa menguat? Jawaban singkatnya nggak, karena memang tidak sesimpel itu. Dan gw berharap pemerintah bisa notice tiga saran gw diatas. Karena selama defisit terus bengkak, cadangan devisa terus dikuras, dan kebijakan besar kayak DSI dibentuk dalam 3 hari tanpa kajian publik, pasar akan terus ragu. Yang akhirnya menghasilkan rupiah yang lemah, cerminan dari pemerintah yang juga kelihatan ragu-ragu...
Presiden kita ini benar benar tidak punya rem untuk tidak mengambur hamburkan uang negara. Coba istana jelaskan ke rakyat secara gamblang tentang hasil nyata dari tiap kunjungan yang dilakukan hampir tiap minggu melawat ke luar negeri? Berapa anggaran negara yg dihabiskan hanya untuk berpergian? Pantaskah itu dilakukan saat rupiah terpuruk terhadap dollar, harga saham merosot dan remuk di mata investor, serta banyak rakyat sedang kesulitan ekonomi karena harga harga kebutuhan yang makin mahal? Apa tidak ada orang di sekeliling presiden yg bisa menasehati agar pak Prabowo lebih punya empati, hingga mendahulukan bekerja berdasarkan prioritas dan akuntabilitas?
Studi menunjukkan 62% orang dewasa menyebut liburan keluarga usia 5–10 tahun sebagai kenangan yang paling berkesan. Kenangan tersebut bahkan lebih kuat dibandingkan acara ulang tahun dan acara sekolah.
Anak cenderung melupakan pengalamnnya sebelum usia 3-4 tahun, karena otaknya masih berkembang. Memori sudah lebih matang dan detail saat anak berusia 5-10 tahun, sehingga kejadian saat itu cenderung akan diingat sebagai memori pertama dan membekas hingga dewasa.
Pengalaman baru dan tidak rutin lebih mudah diingat, atau disebut juga efek von Restorff. Liburan membawa anak ke lingkungan baru, aktivitas berbeda, dan rangsangan sensorik yang kaya, sehingga akan lebih mudah diingat oleh anak.
Catatan:
Studi ini sebenarnya adalah survey populer yang dilakukan oleh U.S. Travel Association pada 2013, namun hasilnya didukung oleh penelitian-penelitian lain di bidang psikologi.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
1. Experiences, perspectives, and meanings of family vacations for children
2. The emergence of autobiographical memory: a social cultural developmental theory
Lihat? Kelas menengah dijadiin tumbal buat menyalamtkan ekonomi RI 💀
Pas BI naikin suku bunga, bank-bank itu biasanya gercep naikin bunga kredit, tapi lelet banget kalau suruh naikin bunga tabungan.
Buat kalian yang KPR atau cicilan kendaraannya udah masuk masa floating, siap-siap aja tagihan bulanan tiba-tiba bengkak.
Niatnya nyelamatin mata uang negara, tapi yang jadi tameng hidupnya ya dompet kelas menengah.
PHK JALUR SUNYI?
Perusahaan yang operasionalnya ngandelin utang bank bakal kelimpungan karena beban bunga membesar.
Ujung-ujungnya bos-bos bakal milih jalur efisiensi. Mulai dari hiring freeze (stop rekrut orang baru), potong bonus, sampai yang paling horor yah layoff massal.
Jadi, demi menahan Rupiah, pertumbuhan lapangan kerja yang dikorbankan.
Seperti kata ekonom, ini bukan obat mujarab. Kalau asing trust issue sama pasar Indonesia dan tetep ogah naruh duitnya walau bunga udah tinggi, kita bakal kena combo double.
Rupiah tetep nyungsep, cicilan terlanjur mahal, dan cari kerja makin susah karena ekonomi macet. Momen ini sering disebut sebagai jebakan stagflasi BTW.
Coba dipikir.
Cita2 pingin industrialisasi, bikin mobil dan ponsel sendiri
Tp belanja APBN Top 3 nya: BGN, TNI, Polri
Programnya: MBG, Kopdes, Gentengisasi
Budget R&D to GDP cuma 0,28%.
Preman di mana2. Kepastian hukum ga pasti.
Gimana industrialisasi dan investasi bisa jalan?
- Kemarin : terlemah dalam sejarah
- Hari ini : terlemah dalam sejarah
- Besok : terlemah dalam sejarah
Rupiah selalu mencetak rekor bersama Pak Prabowo 🔥🔥🔥🔥🔥
Ketika menyentuh 17.845, hari itu akan kita peringati sebagai hari Rupiah Merdeka
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
di saat rupiah anjlok 1 USD: 17.720, prabowo tetap pertahankan program MBG. sedangkan habibie memilih mengubur mimpinya untuk pesawat N250, demi stabilitas ekonomi indonesia.
"saya mengalah untuk menang, yang menang itu siapa? rakyat" (Habibie)
sederhana tapi prabowo ga bisa
Yang bilang Koperasi Merah putih ini akan rugi, banyak yang tutup karena sepi pembeli?
Anda salah besar.
Justru ini model bisnis paling menguntungkan nomor dua di dunia setelah dapur MBG.
Kenapa?
Karena kalau benar dugaan bahwa belanja harian pemda dan perangkatnya kelak diwajibkan ke KMP, maka risikonya bukan lagi ditanggung oleh logika pasar, melainkan oleh anggaran negara.
Jadi KMP (dan dapur MBG) tidak akan pernah rugi.
Yang rugi cuma kita, pembayar pajak yang dipaksa menanggung eksperimen bisnis negara yang menggerogoti APBN.
Padahal masih banyak kebutuhan rakyat yang jauh lebih mendesak, mulai dari sekolah rusak, puskesmas kekurangan alat, sampai pembangunan di daerah 3T.
Berarti bener, presiden kita sengaja dipaparin informasi yg asal bapak senang aja sama sirkelnya. Akhirnya dia tinggal di echo chamber-nya sendiri yg jadinya buta dan gak tau realita di masyarakat kayak gimana.
Dia taunya Indonesia baik-baik aja, kenaikan dollar gak berpengaruh apa-apa, harga kebutuhan pokok dianggap masih aman, lapangan kerja tersedia, dan kritik masyarakat dianggap sekadar noise media sosial.
SBY buruk, Jokowi buruk. Tapi mereka sama sekali gapernah ngomong kayak gini dalam forum resmi. Seorang presiden, pemimpin negara bicara dengan kapabilitas yang cuma seperti ini.
Orang-orang yang memilih dia karena kasihan atau karena apapun, kalian berdosa sekali untuk seluruh manusia di negeri ini. Bajingan kalian dan pilihan kalian. Bedebah.
"8+2 = 11"
"Sawit itu kan juga pohon, kan? Ada daunnya, kan?"
"Orang-orang pintar di Jakarta tidak peduli dengan nasib nelayan."
"Orang desa tidak ada yang pakai dolar kok."
Empat kalimat bodoh, dan yang melempar keempat kalimat bodoh ini adalah orang yang memimpinmu saat ini.
Dari tumbler, kotak bekal, air minum sampai kopi sekalipun, sebenarnya kita punya opsi yang lebih murah.
Tapi, kita sering terkena JEBAKAN MARKETING ✨
Cukup dibuai dengan kalimat:
"Tumblernya tahan panas/dingin lebih lama."
"Tidak semua air minum itu aman."
"Kopi kami grade premium."
Akhirnya rela ngeluarin 300K lebih banyak untuk tumbler. (Buat tahan dingin 24 jam, padahal minumnya abis dalam 6 jam)
Rela ngeluarin duit berkali lipat lebih banyak untuk air galon. (Katanya lebih aman, kayak minum brand lain langsung mencret aja)
Tapi ... itulah TUGAS MARKETING:
✨ MENANAM PERSEPSI ✨
Bikin masalah terasa ada.
Bikin keinginan ingin segera dijemput.
Padahal masalahnya tidak sebesar itu.
Keinginannya juga tak segitu perlu.