“All governments suffer a recurring problem: Power attracts pathological personalities. It is not that power corrupts but that it is magnetic to the corruptible.”
― Frank Herbert
Sampai saat ini aku ga habis pikir mengapa siswa sekolah suka ikut les hanya untuk diajari mengerjakan soal. Padahal, yang lebih penting adalah memahami materi. Kalau benar-benar menguasai materi, soal apapun harusnya bisa dikerjakan tanpa perlu les.
Kok bisa pas, ya? Ada yang kesusahan cari kerja dan ada sebagian lainnya pingin keluar kerja.
Berat mana antara stress ga dapat-dapat kerja atau stress karena beban kerja?
Aku ga tahu apakah anak-anak sekarang masih pada suka baca buku atau lebih banyak scroll Tiktok?
Belajar tanpa membaca buku aku kira hasilnya akan sangat dangkal dan kurang solid.
Membaca buku membuat kita bisa belajar secara terstruktur, memahami konsep dengan alur yang runtut.
Bangsa ini terlalu rakus. Jadi, reformasi pun tidak menghasilkan perbaikan. Rakyat tetap diperas dengan berbagai macam skema pajak dan aturan absurd lainnya seperti perpanjangan SIM atau ganti plat nomor kendaraan. Kebijakan warisan Orba tidak ada yang berubah karena mengubahnya berarti kehilangan pendapatan.
Siang ini muter-muter cari gas, tiga Indomart kosong, akhirnya nemu di Alfamidi.
Pas dipasang, biasanya tekanan full sampai yang merah sekarang masih hijau tekanannya. Apakah isi gasnya kurang? Aku ha bisa memastikan karena ga sempat nimbang.
Saya bisa membaca kelas 2 SD. Untungnya bisa naik ke kelas 1. Bisa operasi pembagian waktu kelas 4 SD (porogapit). Meski demikian, saat SMA bisa mewakili olimpiade Fisika sekolah. Masuk fakultas teknik PTN tanpa pernah ikut bimbel sama sekali. Saya heran, mengapa anak-anak sekarang dipaksa bisa macam-macam sejak TK?