Nggak semua orang bakal paham serumit apa isi kepala lo, seremuk apa badan lo, dan sekacau apa isi hati lo. And that’s okay. Sometimes you’re just too tired to explain the lore. Jadi kalau hari ini cuma bisa survive sambil bilang “I’m fine kok” with zero convincing energy… yaudah, we listen and we don’t judge.
Maka akan ada hari hari dimana ketika ada masalah kecil dan kamu meledak, bukan karna masalahnya. Tp emosi itu merasanya punya kesempatan untuk keluar.
Lalu jika itu dianggap adalah karakter mu yg sekarang, mungkin mereka memang tak mengenal dirimu.
Emosi mu yg didiamkan berlalu oleh nya, akan menumpuk. Jika dia abaikan karna tau kamu akan kembali seperti semula tanpa validasi dan akan kembali baik. Itu bukan berarti emosimu selesai. Ini pola yg merusak dirimu, dengan akhir kamu akan merasa dirimu yg bermasalah.
Kalau sebelum bergelar ibu, seorang wanita adalah sosok yg lemah lembut ceria. Tapi setelah menjadi ibu jadi keras, dan mudah marah. Mungkin yg salah bukan orangnya, tp keadaan dan situsinya. Jd rangkulah. Bukan di beri 'label' sebagai sifat barunya.
menikah taruhannya nasib, melahirkan taruhannya nyawa, mengasuh anak taruhannya mental, ternyata perempuan bertaruh seumur hidupnya…
kalian hebat sehat selalu ya