Ibaratnya kalo lagi olahraga pertama kali ya. Badan pegel semua, ngerasa lemah padahal you’re getting stronger than before.
Di segala hal, when you’re getting better it feels like you’re getting worse. Merasa bodoh krn banyak gak tau. Perasaan bodoh dibutuhin di proses belajar.
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Akun beliau jadi perbincangan di threads.
Lihat aja nih, ada tutorial naik pesawat, tutorial makan di Solaria & masih banyak lagi.
Ini hal-hal basic sebetulnya yah. Tapi bagi sebagian orang yang belum pernah ngalaminnya, ini sangat ngebantu.
Pasti di antara kita ada yg belum pernah naik pesawat ya kan...?
Beliau juga menyampaikan dengan bahasa yang sederhana, yang menurut ku mudah di fahami oleh orang awam.
Mungkin bagi kita yang nonton kek ngerasa "apasih norak orang juga udah banyak kali yg naik pesawat" (contohnya).
Jangan salah, kadang bagi kita memang biasa aja, tapi diluar sana ada yang belum tau lhoh .
Terus ada lagi konten beliau yang pertama kali makan salmon. Dan ga cocok di lidah beliau ini, jadi salmonnya di masak lagi. Isi komentarnya beuhh, ada yang ketikannya jahat, cuma perkara ga cocok makan salmon mentah.. Kata aku mah yang ngehujat itu sok banget lu..
Ini nama akun Tiktoknya 👇🏻
"Anaknya Mas Joko"
Ini salah satu fitur gila dari ChatGPT untuk job hunter, cukup satu kali klik.
Kalian akan di carikan lowongan pekerjaan yang sesuai sama pengalaman kalian dan dibikinin ulang CV sama cover letter-nya.
Ini promptnya: Dengan menggunakan resume saya, identifikasi pekerjaan di LinkedIn yang paling sesuai dengan keterampilan dan pengalaman saya. Kemudian, buat versi CV yang sepenuhnya disesuaikan dan surat lamaran yang dioptimalkan untuk lowongan tersebut. Masukkan semuanya ke dalam tabel worksheet dan gunakan agentic mode.
Tt/vmuliana
Formula bisnis yang udah dipake berulang kali dan masih works:
1. Liat apa yang lagi rame di China
2. Bawa ke Jakarta
3. Kalau laku, bawa ke Jogja
4. Kalau laku, bawa ke Surabaya dan Bandung
5. Kalau masih laku, bawa ke kota-kota kecil di Jawa Tengah
6. Kalau masih laku, bawa ke luar Jawa
China itu basically test market terbesar di dunia. 1,4 miliar orang. Kalau sesuatu works di sana, kemungkinan besar works juga di Asia Tenggara.
Tinggal adjust harga dan selera lokal.
Cek storage iPhone lo sekarang.
Settings → General → iPhone Storage
Scroll ke bawah. Liat "System Data" atau "Other".
30GB? 40GB? 50GB+?
Lo gak tau isinya apa. Apple gak kasih tau.
Dan gak ada tombol "Hapus".
Tapi ada TRIK buat bersihin ini. Gini caranya:
Kemarin ada satu coffee shop yang bikin campaign "NGENTOT", katanya singkatan "Ngenal Total".
Menu kopinya dikasih nama-nama cewek.
Jadi pas barista nanya "mau pesan apa?", pelanggan jawab "mau pesan Nadia."
Lucu? Kreatif? Nggak sama sekali. Ini pelecehan yang dikemas jadi marketing.
Seolah-olah harga diri perempuan bisa dibeli seharga kopi.
Yang bikin gue lebih kesel: "permintaan maaf" mereka kayak ga niat gini.
Cuma tulisan doang. Ga ada video. Ga ada statement langsung dari yang bertanggung jawab.
Gak ada penjelasan kenapa ini bisa lolos. Gak ada akuntabilitas. Cuma damage control yang berasa template dan malah lanjut jualan.
How the fuck was this approved by the higher ups? Did they hire misogynist perverts?