Apakah @FIFAcom Berpolitik juga terkait JIS ..?! Jangan mentang2 dekat dgn presiden @FIFAcom terus mau "dikondisikan" JIS gak masuk standart @FIFAcom ....
Tuan "Terhormat" @erickthohir Sikapmu terkesan memaksakan diri dari situasi ini...!!??🙄🤔😲
Secara umum tak ada pandangan umat yang berbeda pendapat soal itu, tapi juga bukan berarti kemudian harus terus menerus menyebut-nyebut sesuatu yang tidak diperlu disebut.
Itu kan sama halnya dengan orang yang sama sekali tidak bermaksud menyebut @islah_bahrawi tidak tampan, tapi setiap kali menyebut nama ditambahkan sebutan “yang tidak jelek”.
Siapa bilang saya tidak menjawab, ?, justru saya menjawab pertanyaan anda karena santun dalam menyampaikan komentar.
Ini sekaligus sebagai klarifikasi atas ribuan akun yang langsung saya blokir karena sudah bodoh, tak berahlak pula.
Saya coba jawab ya.
Supaya anda memahami dinamika politik yg terjadi dimasa kolonial Belanda menjadi rezim penguasa di negeri ini dulu, maka akan saya berikan sedikit gambaran tentang keadaan pada rezim dimasa kini.
Sebenarnya anda tak perlu terjebak dengan fakta sejarah bahwa Habib Usman bin Yahya ditunjuk sebagai Mufti Batavia oleh Ratu Wilhelmina, mengapa..?
Anda kenal Habib Lutfi bin Yahya..?
Beliau adalah salah satu Habaib yang berada dalam lingkaran rezim saat ini. Beliau diangkat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Padahal dimasa rezim saat ini kalangan Habaib di diskreditkan sedemikian rupa seakan-akan mereka adalah ekstrem kanan yang harus diwaspadai, intoleran, radikal, anti NKRI, dstnya dstnya.
Apakah Habib Lutfi bin Yahya disebut pengkhianat oleh para habaib lainnya yang berada diluar lingkaran rezim dan kelompok oposisi pemerintah..?. TIDAK..!!.
Anda tau mengapa..?
Karena umat yang ta’dzim pada para Habaib dan Ulama itu tau dan sadar sesadar-sadarnya, bahwa keberadaan Habib Lutfi, perjuangannya, tindakan dan pikiran-pikirannya dalam lingkaran kekuasaan politik rezim telah menyelamatkan banyak hal buruk yang mungkin bisa terjadi pada bangsa dan negara ini.
Anda bisa melihat bagaimana polarisasi didesign sebegitu sistematisnya agar antara habaib dengan Nahdlatul Ulama dan organisasi-organisasi underbownya saling dibenturkan, diadu agar saling membenci satu dng lainnya.
Apa yang terjadi jika Habib Lutfi tidak berada disana…?
Tak perlu menunggu September untuk bilang bahwa kekuatan-kekuatan tanpa entitas Komunis dan Liberal akan bertepuk tangan menikmati baku hantam antar umat yang terjadi.
Mereka yang menuduh rezim ini dikuasai kelompok pro komunis sekalipun tak berani mengatakan Habib Lutfi menjadi pengkhianat karena membela kepentingan rezim, apalagi melabel sebagai pro komunis. Sekalipun beliau diberi Penghargaan, Gaji dan Jabatan dari rezim berkuasa.
Lalu mengapa untuk fenomena masa lalu dan masa kini yang nyaris serupa itu oleh pihak tertentu disikapi berbeda..?
Apakah mereka tak menyadari atau setidaknya memahami bahwa fenomena Habib Usman bin Yahya dimasa lalu lebih kurangnya mirip dengan fenomena Habib Lutfi di masa kini..?
Sebenarnya tau dan paham, namun syahwat politik kedengkian lebih mewarnai pikiran-pikiran kotor mereka terhadap kalangan Habaib.
Mereka jadikan fenomena-fenomena tersebut sebagai amunisi untuk menebar citra buruk pada habaib yang tidak kecil andilnya pada perjuangan kemerdekaan negeri ini.
Pada setiap masa, akan ada saja pandangan dan ijtihad dari kalangan ulama atau habaib yang membuat penguasa tersenyum karena merasa diuntungkan, namun bukan karena ijtihad mereka dibeli.
Habib Jindan bin Novel bin Jindan dalam sebuah ceramahnya pernah mengatakan, “Dakwah dengan cara menebar caci maki bukankah dakwah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW”.
Hal yang sama juga terjadi kala Al-Habib Ali Aljufri menyampaikan fatwa bolehnya mengucapkan “Selamat Natal”.
Apa yang disampaikan keduanya tentu saja membuat kelompok Pro Liberal tersenyum gembira dan para pengasong radikal-radikul berjingkrakan.
Apakah kedua Habaib tersebut “dibeli” oleh penguasa ? Tidak.
Walaupun pendapat keduanya mungkin saja berbeda dengan pendapat jumhur ulama atau mayoritas habaib lainnya.
Pada dasarnya, propaganda kedengkian dan kebencian harus dilawan dengan kontra narasi yang mencerdaskan dan membuka wacana berpikir umat, karena jika umat yang sadar diam, maka kesesatan berpikir akan ditelan bulat-bulat oleh umat yg lengah dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang pantas diterima.
Retweet jika anda setuju!.