Sedikit cerita, pagi tadi gue beli kopi di salah satu coffee shop di Bali.
Gue duduk, dan mata gue langsung nangkep satu hal. Orang di sebelah gue pake jersey Sunderland. Reflek, gue langsung nanya buat konfirmasi. โWhere are you from?โ Dia bilang UK. Gue tanya lagi. "Which part?" Dia bilang Sunderland, sambil senyum, kayak udah tau bahwa gue nanya karena abis ngeliat jersey yang lagi dia pake.
Gue langsung nyambung soal Newcastle. Karena gue tau soal rivalitas mereka dengan Newcastle. Dia ketawa dan langsung semangat gitu. Dia cerita bahwa rivalitas itu udah diajarin sama bapaknya dari dia kecil. Kebencian yang bahkan udah dia warisi dari dia baru lahir.
Obrolan langsung masuk ke sepak bola. Dia nanya gue dukung siapa di Eropa, gue jawab Manchester United. Dia cuma senyum. Kayakโฆ โyeah, of courseโ ๐ semacam udah bisa nebak dari awal.
Orang ini udah cukup tua btw, umurnya sekitar 60an jalan ke 70. Kebetulannya, dia seasonal ticket holder Sunderland bertahun-tahun, sebelum akhirnya pindah dan menetap di Thailand dan sekarang lagi liburan dua minggu ke Bali. Tapi soal sepak bola, dia masih ngikutin semuanya, termasuk tim-tim lain di Championship, salah satunya Middlesbrough-nya Carrick.
Dia cerita gimana Carrick bawa Boro dengan gaya yang sama sekali bukan tipikal Championship yang direct dan fisikal. Dia main Build up dari belakang, ball possession, full-back aktif naik, kombinasi pendek di tengah. Di liga yang kebanyakan tim main long ball, Boro jadi salah satu tim paling enak ditonton menurut pendapat dia.
Dia ngomongnya meyakinkan banget gue liat-liat. Kayak lagi ngejual harapan. Dia bilang bahwa MU hanya peru bersabar sebagaimana Arsenal bersama Arteta.
Gue yang gak ngikutin Championship sama sekali, cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil nyilangin jari dalam hati.
Lucu juga sih. Gue lagi beli kopi, terus randomly dapet ceramah soal pelatih MU dari orang Sunderland berumur 60an yang udah pensiun di Thailand.
Semoga aja, kali ini harapan dari stranger di coffee shop tadi pagi lebih akurat dari ekspektasi gue sendiri ๐ญ
๐ท foto hanya pemanis.
Kronologi awal kisah asmara pelaku (Reyhan) kepada (korban) fara mahasiswi UIN Suska Riau
1. Mereka pertama kenal pas satu posko KKN, walau mereka berasal dari universitas yang sama, sosok reyhan ini dinilai kawan2nya anak yang introvert, calm, dan nggak banyak bicara, sedangkan fara anak yang ceria, humanis, murah bergaul dengan siapa saja.
2. Karena dianggap sangat pendiam, dan introvert, susah berinteraksi dengan kawan satu Tim KKN, maka si fara ini ngajak si reyhan ini buat ngobrol agar program kerja KKN bisa berjalan dengan kompak dan hasil yang baik.
3. Berawal dari sana, mungkin karna belum pernah dapat perhatian dari cewek, reihan pun jadi baper dan merasa nyaman sama fara, padahal dia tau si fara ini ada cowoknya.
4. Pertengahan sampai akhir KKN mereka terlihat sangat akrab, dimana ada fara di situ ada reyhan, padahal niat fara dekat sama di reyhan ini murni sebatas rekan kerja satu posko KKN.
5. Obsesi reyhan untuk memiliki fara mulau terlihat sejak berakhirnya masa KKN, dimana dia sering nungguin fara usai kelas kuliah, dan sering mendatangi fara di setiap saat, hingga akhirnya fara bersikap tegas, minta reyhan untuk menjauhinya, karena merasa risih dan dia juga sudah memiliki pacar.
6. Di titik inilah reyhan mulai kehilangan akal sehatnya, terlihat seperti orang yang mengalami ganguan jiwa, hingga pada akhirnya terjadilah peristiwa P3mb4c*kan ini.
Sumber: ttk. Been
Apapun pendapat kita terhadap tokoh era Reformasi seperti Gus Dur, Megawati, Amien Rais, dan bahkan Wiranto, kita harus bersyukur karena menghindari Bad Ending.
Bad Ending I adalah Tutut Presiden 2003.
Bad Ending II adalah Myanmar.
Keduanya bisa saja terjadi sekaligus.
Pada 1991, Tommy Soeharto mengetuai Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC).
Ketika mendengar kata "cengkeh", gantilah kata itu dengan "rokok". Cengkeh adalah bahan utama rokok selain tembakau.
BPPC diberikan monopoli total terhadap jual beli cengkeh nasional.
Petani cengkeh harus jual ke BPPC. Pabrik rokok harus beli ke BPPC.
Siapa yang menentukan harga jual dan harga belinya? Yang menentukannya adalah Tommy Soeharto.
Dalam beberapa periode, Tommy menentukan bahwa BPPC membeli cengkeh dengan harga Rp 250/kg.
Padahal, harga tersebut jauh di bawah harga produksi cengkeh. Para petani cengkeh menjerit dan mengalami kebangkrutan massal.
Pada periode yang sama, Tommy lalu menjualnya ke usaha pabrik-pabrik rokok seperti Djarum dan Bentoel dengan harga Rp 10.000-12.000/kg.
Tommy selalu berusaha membeli cengkeh dengan harga serendah mungkin dan menjual cengkeh dengan harga setinggi mungkin. Bentoel hampir bangkrut. Djarum juga jadi kesulitan keuangan dan hampir terpaksa membekukan PB Djarum.
Gap antara harga beli (Rp 250) dengan harga jual (Rp 12.000) semuanya diambil dan ditumpuk Tommy dalam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Harga beli tidak konstan, melainkan berfluktuasi dengan ekstrem di berbagai daerah dan waktu dengan sesuka hati Tommy yang berkuasa liar seperti Caligula pada masa awal Kekaisaran Romawi.
Tentu saja, hanya karena Tommy memasang harga asal-asalan, bukan berarti industri rokok akan mau dan mampu membelinya.
Seringkali, Tommy sebagai ketua BPPC malah gagal menjual cengkeh ke industri rokok yang sudah krisis.
Cengkeh pun menumpuk tinggi tak laku di gudang-gudang BPPC. Terjadi oversupply cengkeh nasional.
Harga cengkeh anjlok, padahal Tommy masih bebal ingin menjual tumpukan cengkeh-cengkeh yang semakin berjamur di gudangnya dengan harga setinggi langit.
Untuk memastikan bahwa harga cengkeh kembali naik, Tommy menggunakan kekuasaan negara untuk memaksa petani cengkeh membakar suplai cengkeh mereka.
Jika cengkeh milik petani cengkeh dibakar dan petaninya bangkrut, akan terjadi kelangkaan cengkeh, kemudian Tommy akan dapat menjual cengkeh yang saat ini tak terjual dengan harga sangat tinggi.
Dalam hal ini, Tommy secara terang-terangan meniru Hak Ekstirpasi VOC, yaitu datang dengan kapal membakar perkebunan rempah di pulau-pulau Indonesia untuk menaikkan harga rempah di dunia.
Apabila petani cengkeh protes karena suplai cengkehnya harus dibakar secara random, kebijakan VOC terhadap petani yang berani-beraninya protes juga diterapkan.
Kegilaan seperti ini terus terjadi selama hampir satu dekade.
Permainan liar Tommy terhadap perdagangan cengkeh se-Indonesia ternyata bukan hanya menghancurkan petani cengkeh dan industri rokok sekaligus, melainkan juga menganjlokkan penerimaan cukai rokok yang diterima pemerintah.
BPPC dibubarkan di zaman Habibie seminggu setelah Soeharto tumbang.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
A mother joins thousands of protestors who are demonstrating against the government in Jakarta, Indonesia ๐ฎ๐ฉ.
At least one person has been killed and over 50 have been injured in the country's capital after days of unrest.
pesan sebelum tidur
apapun yang terjadi hari ini lupakanlah, buang jauh-jauh energi negatifmu, maafkanlah orang-orang yang menyakitimu hari ini, itu semua demi kesehatan mentalmu.