Saya sih, akan selalu ngmg:
Akui saja, relijiusitas orang Indonesia itu sebagian besar cuma sebatas ritual saja. Ga sampe ke tahap relijius nilai. Ga ada internalisasi nilai-nilai agama. Cuma ritual aja. Terus menganggap diri paling relijius dan seringnya merasa punya hak buat ngejudge orang lain 😌
Bahkan, secara nilai, banyak negara lain yang jauh menginternalisasikan nilai-nilai agama dibanding kita 😅
Ini ada tulisan bagus dari orang Bali sebagai jawaban atas narasi di bawah.
“Sing Beling Sing Nganten”: Framing Jahat Terhadap Tradisi Bali
Pertama-tama, perlu ditegaskan pada bagian paling awal tulisan bahwa ini bukanlah usaha untuk denial. Bahwa ada beberapa laki-laki Bali yang punya pandangan “Sing Beling Sing Nganten” harus diakui itu adalah fakta. Masalahnya adalah generalisasi, seolah-olah pandangan tersebut mewakili Bali secara keseluruhan. Tulisan ini hanyalah usaha perlawanan atas framing dan generalisasi tersebut.
Kedua, secara “landasan sastra”, Hindu sebenarnya mengatur hubungan pria dan wanita yang belum terikat pernikahan dengan cukup ketat. Dalam kitab kompodium hukum Hindu, Manawadharmasastra VIII.357-358 dinyatakan sebagai berikut:
“Upācarakriya kelih, sparco bhusaṇa vasasan, saha khatvasanaṁ caiva sarvam saṁgrahanam smṛiam. Ṣṭriyam sprceda dece yah sprsto va marsayettaya parasparasyanumate sarvam saṁgrahanam smṛtam”. (Memberikan sesuatu yang merangsang wanita yang bukan istrinya, bercanda cabul denganya, memegang busana dan hiasannya, serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang harus dianggap sama dengan berzinah. Bila seseorang menyentuh wanita yang bukan istrinya pada bagian yang terlarang, atau membiarkan menyentuh bagian itu, walaupun semua perbuatan itu dilakukan dengan persetujuan bersama, haruslah dianggap berzinah).
Ketentuan tersebut tegas, clear, tidak multi tafsir. Tidak ada umat Hindu yang menafsirkan ajaran tersebut secara berbeda dan kemudian merasa tindakannya dibenarkan oleh tafsir yang berbeda tersebut. Bahwa kemudian ada yang melakukan hal berbeda, itu adalah pilihan masing-masing. Dan karena tidak ada pihak lain yang dirugikan, masyarakat cenderung permisif dan menganggap hal tersebut urusan privat. Masyarakat biasanya memang tidak bergunjing. Menikah bulan Januari kemudian melahirkan di bulan Juni tahun yang sama, masyarakat tidak menjadikannya rumpian sinis penuh judgement dosa. Barangkali, inilah salah satu bedanya. Masyarakat Bali sangat menghormati wilayah privat sepanjang menyangkut urusan pribadi dan diberlakukan di wilayah pribadi. Karena itu pulalah Bali menjadi compatible untuk iklim pariwisata, dimana orang dengan berbagai budaya datang melancong. Dari yang berpakaian terbuka, setengah terbuka, setengah tertutup sampai yang tertutup, semua diterima, tanpa judgement.
Ketiga, Bali adalah wilayah yang kaya dengan perbedaan. Setiap wilayah bahkan sampai lingkup terkecil seperti banjar atau desa, memiliki kekhasan tradisi masing-masing. Pandangan dan tradisi di satu desa bisa jadi berbeda dengan pandangan dan tradisi desa tetangga terdekatnya, dan ini hal yang sangat biasa. Tidak ada tendensi untuk merasa paling benar sambil menghakimi yang berbeda sebagai pendosa. Penulis memiliki beberapa teman yang sudah menikah beberapa tahun dan belum memiliki anak. Keluarga-keluarga di desa penulis masih sangat tradisional dalam memandang pernikahan, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci. Kesucian itu ditandai dengan ritual pernikahan yang khusuk dimana salah satu prosesinya adalah pengantin wanita memegang kain yang kemudian kain tersebut ditusuk dengan keris oleh pengantin pria. Jadi framing “Sing Beling Sing Nganten” tidak laku di desa penulis.
Keempat, peristiwa “hamil di luar nikah” bukanlah monopoli Bali. Penulis sudah mencoba melakukan searching berkali-kali dengan berbagai keyword yang netral, nama Bali bahkan tidak muncul di 2 halaman paling depan situs pencarian. Ada daerah-dareh yang mendominasi pemberitaan dengan kasus-kasus yang mencengangkan. Artinya, di jaman yang semakin terbuka dan modern ini, dimana para remaja memiliki daya jelajah pergaulan yang begitu luas, kasus hamil di luar nikah (bahkan di beberapa daerah menimpa anak-anak SMA/sederajat) sudah terjadi di banyak provinsi atau kabupaten/kota, dari berbagai etnis dan suku.
Con’t…
rasisme bali ke jawa itu rasisme paling ironis di nusantara.
pertama, org bali modern itu keturunan ORANG JAWA MAJAPAHIT. byk keluarga/kawitan bahkan masih bs trace asal leluhurnya yg di jatim.
lalu, supply2 esensial bali bergantung ke jawa. dr listrik smp daun buat ibadah. 🙂
A massive fire is burning in a gas pipeline following an explosion this morning in Gampong Blang Rubek, Lhoksukon District, North Aceh Regency, Aceh Province, Indonesia 🇮🇩 (May 22)
Presiden paling bodoh, paling tone deaf, paling NPD dan ntah lah udah gatau lagi mau nulis apa.
Semoga disulitkan sakaratul mautnya. Diadzab dunia akhirat.
Aamiin
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Kan orang Betawi itu suku baru yah yang mana campuran dari suku-suku Indonesia. yang keliatan Sunda, Jawa, Melayu, China, Arab dan Portugis. Selalu ada catatan bahwa orang bali dikirim ke Batavia, tapi gak pernah ada trahnya, trus aku liatlah Barong Landung and oh ini ternyata
Halo teman-teman, ada yang tau info job freelance untuk copywriting atau brand strategies kah? bisa riset juga. Kalau ada boleh info yaa, ada yang lagi membutuhkan pekerjaan untuk kebutuhan keluarganya yang mendesak. terima kasih
Peringatan Darurat 🚨🚨🚨
Komisi III DPR RI dan Pemerintah telah menyetujui Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR yang rencananya akan digelar Selasa pekan depan (18/11) untuk disahkan.
Jika RUU KUHAP disahkan, maka semua orang berpotensi menjadi korban. Semua bisa diamankan, ditangkap, dan ditahan tanpa kejelasan. Semua bisa digeledah, disita, disadap, dan diblokir hanya berdasarkan subjektivitas aparat.
Semua bisa diperas, semua bisa dikuasai polisi, semua bisa direkayasa menjadi tersangka.
Semuanya yang disebutkan tadi bisa terjadi karena RUU KUHAP dipaksakan untuk disahkan dengan tergesa-gesa.
Mari kita pantau bersama dan desak Presiden untuk menarik draft RUU KUHAP agar tidak disahkan dalam waktu dekat!
Ngeliat ini diposting di IG tapi komen2 dari warga Bali-nya sendiri miris banget.. Pada ignorant dan justru menghujat movement ini.
Pantesan Bali selalu jadi sasaran empuk propaganda pariwisata dan selalu jd korban manipulasi rezim.
“Nak mule jaen idup di Bali” my ass 😅
sorry to say this but the police in indonesia are really useless. i have been at the police station for an hour, and no officer has come to talk to me. even the police sitting near me are just watching movies calmly .. what the .. hell 😅
@barengwarga massa aksi sudah dipukul mundur, ada beberapa orang yang tertangkap intel. situasi pecah ketika mobil komando aksi yang adalah mobil sewaan ilang mengembalikkan mobil. ketiadaan satu komando ini lah yang membuat massa mulai rusuh. ada beberapa korban luka dan korban gas air mata