moco ngeneiki ya mergo kuliah. lalu dibahas di kelas. ngeroso kagum sekaligus ngeroso congok pol, pomaneh pas kelas poetry mbahas puisi2 yg budaya & konteksnya uwadoh teko awakndwe. idk but it made me feel humbled instead of feeling elite. the more i read, the more i feel stupid.
nyesel karena sempet underestimate anak-anak sd nonton pesta babi
kataku kemarin, “kayaknya kurang cocok anak sd dikasih tontonan kaya gini, menurut aku akal berpikir mereka belum sampai untuk mengerti, dan khawatirnya nimbuin rasa takut.”
tapi ngeliat responnya bener-bener speechless. terharu.
semoga generasi alpha kita punya kesempatan untuk tinggal di negara yang benar-benar berpihak sama rakyatnya.
bisa ga sih narasi nadiem ini stop kemana-mana, fokus ke kriminalisasinya aja
iya dia harus dibela karena kena kriminalisasi tapi gausah white washing selama dia jadi menteri juga bjir
Aduh, bener banget nih.
Di usia 20-an dan 30-an, kita harus mulai nemuin lagi hobi dan minat di masa kecil.
Kenapa kaya gitu?
Ada beberapa alasan, diantaranya:
- Rediscovery Joy
Waktu kecil, kita bebas eksplorasi tanpa mikir soal produktivitas atau hasil. Menghidupkan kembali kegiatan ini bisa jadi sumber kebahagiaan murni yg ga terikat tekanan dewasa.
- Stress Relief
Aktivitas masa kecil seringkali bikin kita lupa waktu dan masalah. Kembali ke hobi lama bisa jadi cara alami buat ngurangin stres, tanpa perlu liburan mahal.
- Self-Discovery
Minat lama bisa kasih petunjuk soal potensi dan passion yg terpendam. Siapa tau, di balik hobi lama itu ada jalan karier atau proyek besar yg menunggu buat dikejar.
- Inovasi:
Banyak inovasi muncul dari kombinasi hobi lama dan kemampuan baru. Kreativitas bisa mekar saat kita gabungin hal-hal yg kita suka dari dulu dengan skill masa kini.
Jadi, apa hobi kamu waktu kecil? Udah coba mulai dieksplor lagi belum?
I love talking to them whose mind is stimulating mine. When we talk abt something, the discussion doesn't stop at that thing only.
Even just a song, even just a movie, even just a book, even just a law of science.
I love people who see thing deeper than what it actually looks.
“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?”
Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: https://t.co/arK81yQJNS
Me, dikasih foto doang, be lyke,
"Serius ini aja? Ga ada lagi yg bisa digali?"
Give me his LinkedIn page, give me his blog link, give me his Twitter account, anything. But not only photos please. I need more.
I need to know how his brain works.
Selalu ingat sama kalimat cantik dari buku the alchemist by Paulo Coelho yaitu:
“when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
Kalimat ini bener-bener ngasih afirmasi positif tiap kali aku mulai ngerasa lelah karena kalimat itu mengingatkanku bahwa satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya.
Let me introduce: Gus Baha (Baha'uddin Nursalim).
One of Indonesia's most respected Muslim intellectuals. He preaches in a regional language: Javanese.
Audience: millions of Indonesian Muslims, many of whom don't speak Javanese.
FYI, Indonesia has 718 regional languages.
Kalau diminta untuk menciptakan kampanye baru soal membaca buku, saya akan mengusulkan ini: “Normalisasi membeli buku yang bukan BEST SELLER.”
Saat memasuki toko buku besar seperti Gramedia, sedari dulu saya cenderung menghindari rak paling mencolok dengan label Best Seller. Bukannya sok beda atau apa, hanya saja ada perasaan mengganjal tiap kali saya melihat satu judul buku bertengger di rak best seller selama berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun.
Mari kita ambil contoh novel Laut Bercerita, yang setidaknya sudah dipajang di rak Best Seller sepanjang tahun 2021–2026. Saking larisnya, novel tsb bahkan sudah cetak ulang lebih dari 115 kali. Pertanyaannya, mengapa novel itu begitu laris? Oke, katakanlah isinya bagus. Lalu apa? Di luar sana masih banyak novel bagus lainnya.
Salah satu teori yang dapat menjelaskan fenomena larisnya Laut Bercerita adalah Efek Bandwagon (Bandwagon Effect) yang muncul di Amerika sejak abad ke-19. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial di mana seseorang cenderung ingin menjadi bagian dari mayoritas. Generasi sekarang mungkin lebih akrab dengan istilah fear out of missing out (FOMO), tapi secara konsep sedikit berbeda.
Perilaku kita yang punya kecenderungan untuk membeli buku yang sudah populer dan dipajang di rak Best Seller adalah contoh paling tepat dari Efek Bandwagon. Sering kali kita tak sadar bahwa keputusan kita membeli buku bukan lagi soal preferensi pribadi, melainkan sudah jadi tren ikut-ikutan. Paradoksnya terletak pada hilangnya orisinalitas dalam keputusan membeli sesuatu karena didorong oleh popularitas massa.