ㅤ
ㅤ
Namun, nadi tak pernah menjadi rumah bagi apa pun; ia hanya jalan yang terus mengalirkan hidup. Maka, jangan minta kujadikan kau denyut. Sebab, yang benar-benar ingin kuselamatkan tak akan kubiarkan selamanya bergantung dan menetap pada nadiku.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
MALAM BELUM LARUT, masih ada sisa-sisa kebengisan yang terbahak di pucuk jagat, menanti untuk kita telan. Laksana bayang yang menolak luruh kala petang t’lah lama turun, kau berdiri di ambang pintu.
@SelaksaRayu. Hari ini, kau datang lagi?
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
Aku t’lah terlalu lama mengenal racun untuk mengira setiap getirnya adalah sesuatu yang mesti kutelan, sesuatu yang sempat kita beri nama pengorbanan. Dan kau, Sukma, barangkali memang pernah jadi candu yang membuatku lupa caranya bernapas tanpa menoleh ke belakang.
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
Kau boleh menyebutnya iba; bagiku sisa tanggung jawab atas sesuatu yang pernah kutinggalkan dalam keadaan belum usai. Maka, kubiarkan hening menjawab. Sebab, kau benar, pintu itu masih terbuka. Aku tak sampai hati memadamkan pelita tiapkali tahu kau tengah tersesat.
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
“Perempuan gila.”
Dan aku sama gilanya denganmu, sebab warasku t’lah kau telan bulat-bulat sejak lama tanpa sisa. Sukma, kaulah satu dosa yang tetap ingin kutebus. Luka yang tak lagi milikku, namun tak sanggup kubiarkan bernanah seorang diri. Kau pun tahu itu.
ㅤ
ㅤ
Entah ia melupa segala tentangku atau sebaliknya, kuharap satu tanyaan dariku kelak mampu memantik secuil ingatan yang barangkali sempat @Suarbadai rekam dan simpan di kepalanya. Pun, aku ingin memastikan satu hal: ia datang tanpa bersama siapa pun.
“Sendirian? Habis latihan?”
Langkahku kemudian berhenti tepat di hadapan wanita itu, jarak yang tersisa tak begitu banyak. Cukup dekat, hingga aroma wewangian yang tak asing tertangkap penghidu. Maka aku kian yakin, aku tak salah orang. Tatapanku masih sama sejak pertemuan lalu, ketertarikan tak bernama.