@RuudBukanGullit@Gerindra Kalo ni partai dan presiden dan meenteringa sanggup seperti itu, gw rasa dunia besok kiamat. Ingat kata wowo 2030 indonesia bubar.
@Gerindra Ditahan buat biayai mbg (baca dibuat bancakan),, jalan2 keluar negeri dan program2 konyol lain ya? Nt setelah 1 tahun pun gw yakin banyak alasan ga dibalikin. Trus perusahaan mutar modal buat usaha pake pesugihan dan jual sate gagak.
Guys, ada cerita di balik pencopotan dua pejabat tinggi Kemenkeu yang menurut gue jauh lebih menggelikan dan lebih mengerikan dari yang diakui secara resmi.
Dan kuncinya ada di satu kalimat dari Purbaya sendiri ketika ditanya pers soal kenapa Dirjen Anggaran dicopot:
"Mungkin Anda tebak saja sendiri."
Kronologi yang perlu dipahami dulu:
BGN Badan Gizi Nasional mau beli 25.644 unit motor listrik untuk kepala SPPG dapur MBG.
Harganya Rp42 juta per unit.
Totalnya sekitar Rp1 triliun lebih.
Purbaya sudah menolak pengadaan ini.
Eksplisit. Jelas. Ditolak.
Tapi anggaran itu tetap lolos.
Tetap masuk.
Tetap dieksekusi.
Dan sampai akhirnya 21.081 unit sudah terlanjur datang sebelum semuanya terbongkar.
Caranya?
Ada celah di software milik Ditjen Anggaran Kemenkeu.
Dan lewat celah itulah pengadaan yang sudah ditolak Menkeu bisa tetap berjalan.
Dua pejabat tinggi dicopot dan ini yang paling menggelikan:
21 April 2026, dua Dirjen Kemenkeu dicopot sekaligus. Luky Alfirman sebagai Dirjen Anggaran.
Febrio Kacaribu sebagai Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal.
Keduanya pejabat senior.
Keduanya dicopot mendadak.
Dan ketika pers tanya Purbaya apakah pencopotan itu berkaitan dengan lolosnya anggaran motor listrik jawabannya bukan iya, bukan tidak.
"Tebak saja sendiri."
Dari seorang Menteri Keuangan.
Tentang kebijakan di kementeriannya sendiri.
Tentang pencopotan pejabat yang berada di bawah otoritasnya.
Yang paling miris dari seluruh cerita ini:
Pertama — motornya sudah datang.
21.081 unit sudah terlanjur dikirim sebelum ada yang berani bilang stop.
Uang sudah keluar.
Barang sudah ada.
Dan baru sekarang semua orang ribut.
Kedua — motornya identik dengan produksi China, dirakit di Cikarang. Di saat pemerintah gencar kampanye beli produk dalam negeri dan bangga-banggain Maung buatan Indonesia sampai dibawa pakai Hercules ke KTT ASEAN motor untuk program unggulan presiden sendiri beli dari mana?
Ketiga — ini bukan program kecil.
MBG adalah program prioritas utama Prabowo. Anggarannya ratusan triliun.
Dan di dalam program sebesar itu pengadaan senilai lebih dari Rp1 triliun bisa lolos tanpa sepengetahuan Menkeu hanya karena ada "celah di software."
Software. Celah di software.
Rp1 triliun lebih lolos karena celah di software.
Yang perlu dipertanyakan:
Kalau Purbaya sudah menolak siapa yang tetap menjalankannya?
Celah software itu ditemukan secara tidak sengaja atau memang dimanfaatkan?
Dan kalau memang dimanfaatkan siapa yang tahu celah itu ada dan siapa yang menggunakannya?
Karena kalau jawabannya hanya "salah software" maka dua Dirjen senior itu bisa bertindah tanpa purbaya tahu di belakang?
Tapi yang dicopot adalah dua Dirjen.
Dan Purbaya bilang tebak saja sendiri.
Gue sudah menebak.
Dan tebakannya tidak menyenangkan.
Program makan gratis untuk anak-anak Indonesia yang anggarannya dipotong dari berbagai pos termasuk pendidikan di dalamnya ada pengadaan motor listrik Rp1 triliun lebih yang ditolak Menkeu tapi tetap lolos.
Motornya sudah datang.
Dua pejabat dicopot.
Dan penjelasan resminya adalah celah software.
Ini bukan soal motor listrik. Ini soal seberapa dalam lubang yang ada di dalam sistem penganggaran negara ini dan seberapa banyak yang sudah lolos lewat lubang itu yang belum pernah ketahuan.
@LambeSahamjja@RuudBukanGullit Dan mendag kita masih berani mau himpun 1000T uang semua agama buat bantu kemiskinan? Di tolah mlah ngoceh ga percaya sama agama.... lah dana haji aja di korup, dana Alquran aja di korup, ini pun gelapkan dana org buat rukun haji kelima....
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
@SiaranBolaLive Kalo dianalogikan ke bola... Wowo skrg ibarat sebagai pemain dia juara waktu 98... skrg jd pelatih dia pun juara krn ada lagi mirip2 98.... mantap. Ga semua pemain bisa gitu.