[Current read]
Rekomendasi bacaan ringan (self-help)
📚📖Jangan Jadi Manusia, Kucing Aja!
Oleh: Tanzilal Azizie
Available on ibi library
Beli buku fisiknya di sini 👉https://t.co/phdwmUSVxd
Aku lebih kaget waktu dia jadi aktor, image nya beda banget sama p.o rapper block b dan bastarz 🤣🤣
Mana yg ditonton hotel del luna.. yang jadi hantu gemes itu wkwkwkw
Waktu naik kereta Tokyo Metro kemarin, kami refleks mau ngasih kursi ke seorang nenek.
“Jangan,” teman kami langsung nahan.
Kami bingung. Di Indonesia, ngasih kursi ke orang tua itu kan lumrah.
Tapi kata teman kami, di Jepang nawarin kursi terang-terangan ke lansia malah bisa bikin tersinggung.
Masa iya sih? Kok aneh ya?
—
Setelah kami cari tahu lebih lanjut, ternyata memang gitu:
Survei pemerintah Jepang tahun 2020 nunjukin alasan nomor satu orang ragu ngasih kursi justru karena takut itu malah jadi gak sopan ke orang yang ditawari.
Survei lain di 2016 menunjukkan sekitar 6 dari 10 orang pernah nawarin kursi ke lansia, lalu ditolak.
Ada tiga akarnya:
1. Budaya gak mau ngerepotin orang lain (meiwaku).
2. Harga diri lansia yang gak mau dianggap renta.
3. Kebiasaan gak menonjolkan orang di depan umum (enryo).
—
Tapi tunggu, kalau kita tetap mau berniat baik ternyata ada caranya:
Berdiri diam-diam seakan kita udah mau turun, biar kursinya kosong tanpa bikin si lansia merasa dianggap lemah.
Pelajaran yang kami bawa pulang: maksud baik belum tentu diterima secara baik juga.
Di Indonesia, hormat berarti nawarin dengan jelas. Di Jepang, hormat justru berarti gak bikin orang ngerasa tua di depan umum.
Niatnya sama, caranya beda.
#BedaBudaya
Aku biasanya rajin nge preloved in buku, atau donasi buku yg udah gak kebaca ke perpus.
Sskarang dah malas, meanwhile checkout buku terus. Tempatnya dah gak muat, apa beli rak bu aja ya?
Aku baru nonton ep 1 dan ngerasa ini fiksi banget soalnya mentri pendidikan nya sagat baik dan malah berantem ma ketua dpr nya. Terus pas si ketua dpr aka calon presiden nya dapet rumor negatif langsung dipenjara. Aneh, kayak kemana buzzer buzzer yg membela nya, gak relate 🥲
Jadi inget 5 tahun lalu, melamar posisi admin di UIN, antrian mengular, pas sampe resepsionis, dokumen lamaran dah sampe 2 kerdus. Itu hari ke 2 dibuka pendaftaran. Bayangin bakal berapa banyak lagi sampe pendaftaran ditutup. Kaget bgt waktu itu wkwk langsung putus asa
Guys, ada berita hari ini yang menurut gue paling mewakili krisis yang sedang terjadi tapi paling jarang dibicarakan secara jujur.
Dika 20 tahun, lulusan SMK otomotif Bekasi sudah nganggur dua tahun.
Sudah kirim 120 lamaran.
Sudah datang belasan job fair.
Tidak pernah sekali pun diterima.
Bahkan tidak pernah dapat satu pun balasan.
Satu pun tidak.
Dan ini yang paling menyakitkan dari ceritanya:
Dika bukan pemalas. Dia aktif.
Dia kirim lamaran ke sales, operator forklift,
kurir bukan posisi yang butuh kualifikasi tinggi.
Dia datang ke belasan job fair sejak lulus 2024.
Dia bahkan pernah coba jualan makanan
tapi kondisi ekonomi tidak mendukung
dan akhirnya berhenti.
Sekarang dia masih bergantung uang saku orang tua.
Sementara ayahnya sedang sakit.
Sementara kakaknya masih butuh biaya kuliah.
Dan yang paling berat:
dia tidak tahu apa yang salah.
Karena tidak ada satu pun perusahaan
yang memberi feedback.
Tidak ada penolakan resmi.
Hanya sunyi.
"Enggak ada jawaban sama sekali."
Dan ini konteks yang harus dipahami:
Prabowo gibran berkampanye dengan janji 19 juta lapangan pekerjaan dalam lima tahun.
Itu kira-kira 3,8 juta per tahun.
Atau sekitar 316.000 per bulan.
Sementara di Jakarta Job Fair kemarin 37 perusahaan membuka 2.000 lowongan. Dua ribu. Untuk Jakarta kota dengan jutaan pencari kerja.
Dan Dika bukan anomali.
Dia adalah potret dari jutaan anak muda Indonesia yang menghadapi realitas yang sama:
lulus sekolah, tidak punya pengalaman,
tidak ada koneksi, tidak tahu apa yang salah
dengan CV mereka, dan tidak ada yang memberi tahu.
Dan ini yang paling pedas tentang janji 19 juta lapangan kerja:
Di mana lowongan itu?
Di mana 316.000 pekerjaan baru per bulan yang seharusnya tercipta?
Yang ada: job fair dengan 2.000 lowongan di GOR Senen. Dikerubungi ribuan pencari kerja.
Dan seorang anak 20 tahun yang datang dengan harapan sambil risau karena uang sakunya masih dari ayah yang sedang sakit.
Ini bukan soal Gen Z yang terlalu manja
atau tidak mau kerja keras.
Dika sudah kirim 120 lamaran.
Itu bukan pemalas.
Itu adalah seseorang yang sudah berjuang keras dan terus dihadapkan pada tembok yang tidak pernah terbuka.
Dan ini yang paling fundamental perlu dipahami:
Menciptakan lapangan kerja bukan hanya soal mengumumkan angka.
Bukan soal membangun pabrik di atas kertas.
Bukan soal investor asing yang datang foto dengan presiden tapi realisasinya tidak pernah diverifikasi.
Menciptakan lapangan kerja yang nyata butuh: investasi yang benar-benar masuk, industri yang benar-benar bergerak, UMKM yang benar-benar hidup, dan sistem yang menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja secara efisien.
Bukan job fair di GOR dengan 2.000 lowongan untuk jutaan pencari kerja.
Dika adalah angka nyata di balik semua statistik pengangguran yang sering dikutip dengan dingin. Dia adalah 20 tahun. Dia sudah berusaha. Dan sistem tidak memberi dia satu pun pintu yang terbuka.
Sementara di atas ada janji 19 juta lapangan kerja.
Ada pidato tentang pertumbuhan 8%.
Ada narasi bahwa fundamental ekonomi kita kuat.
Tapi di GOR Senen hari ini ada Dika yang datang dengan harapan terakhir. Dengan uang saku dari ayah yang sakit. Untuk memasukkan lamaran ke 2.000 lowongan yang diperebutkan ribuan orang.
Itu bukan fundamental yang kuat. Itu adalah jurang antara narasi dan realitas yang tidak bisa terus diabaikan.
Salut sama Wonpil dan konsistensinya untuk teguh pendirian ga bikin YouTube channel. My unbother king 😌 bro really said I love you very much but I won't let you know my personal life. That's my privacy and that's how I set my boundaries 👏🏻
.... jadi aku dah setua ini ya
Anak anak yang dulu nyanyiin chewing gum... yang dulu ngedatengin kelulusannya jisung, sekarang dah jadi ceo dan calon magister 😭😭