Inilah krisis yg kita hadapi di depan mata: Defisit Jaminan Kesehatan Nasional. Jumlah orang yg berobat jauh lebih banyak ketimbang orang yg bayar iuran. Tahun 2027 BPJS kita terancam gagal bayar.
Lalu apa solusinya? Tonton videonya sampai akhir.
🚨 new publication in @Journal_SEAJ :
We examined how Indonesian environmental NGOs produce counter-accounts for affected communities, and how these accounts speak back to SDGs and government accountability practices on agrarian issues. https://t.co/yqWhxYCW5j
Menurut gw pribadi, mending keberadaan IPDN itu ditinjau ulang deh…
Asal kelen tahu..
Ilmu-ilmu yang ada di IPDN itu udah diajarin di FISIP dan FIA di seluruh Indonesia.
Perbedaannya, IPDN itu ikatan dinas, biaya minim, dan juga semi-militer.
Lantas buat apa ada IPDN? Wong lulusannya juga jadi ASN. Anak FISIP dan FIA mah disuruh jadi ASN juga bisa.
Dan yang gw juga heran kenapa IPDN semi-militer?Padahal lulusannya itu ya jadi sipil semua…
Terus yang lebih ga nyaman lagi:
Tiap tahun, IPDN butuh ratusan miliar.
Kalian tahu ga? Berapa anggaran IPDN di 2026?
814 MILIAR!
Padahal tahun lalu hanya 517 miliar.
Mana masuk pos anggaran pendidikan lagi.
Dan ini diperuntukkan untuk 5-6 ribu orang praja..
Sayang banget menurut gw.
Duit 817 M itu bisa dipakai buat subsidi PTN-PTN di seluruh Indonesia.
Foto: Rakyat Merdeka dan Pos Jateng
We've tried running universities as if they are businesses and it hasn't worked. It seems quite urgent that they are restored as self-governing scholarly communities. But there's an issue about what that looks like. Individual scholars tend to be preoccupied with teaching ...
Bentuk politik jatah preman di Indonesia sudah tercatat sejak 1.000 tahun yang lalu. Sejarah Indonesia era kuno justru banyak hal yg menarik dr yang remeh temeh hingga yg besar tapi tidak banyak yang terungkap karena orang malas baca atau ga minat mengetahui isi prasasti.
Mirip dengan pemerintah kolonial Belanda ketika memutuskan mendirikan sekolah kedokteran dan teknik di Hindia Belanda: untuk menyediakan tenaga kerja murah.
Pemerintah kolonial sangat membatasi ilmu-ilmu sosial, hukum, atau politik pada masa awal karena dianggap berbahaya. Ilmu sosial dapat memicu pemikiran kritis tentang kesetaraan, hak asasi, dan kedaulatan negara.
Membangun infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan) dan menjaga kesehatan masyarakat membutuhkan tenaga ahli. Mendatangkan ahli dari Eropa sangatlah mahal. Oleh karena itu, Belanda mendirikan sekolah seperti STOVIA (kedokteran) dan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) untuk mencetak tenaga 'tukang' dan 'asisten' tingkat tinggi dari kalangan pribumi yang bisa digaji lebih rendah daripada tenaga kerja berkulit putih.
Pendirian sekolah kedokteran diawali oleh maraknya wabah penyakit seperti cacar dan pes di abad ke-19. Wabah ini tidak hanya menyerang pribumi, tetapi juga mengancam populasi orang Eropa dan produktivitas perkebunan yang menjadi sumber kekayaan Belanda. Para 'dokter Jawa' awalnya dilatih khusus sebagai mantri cacar untuk menjaga stabilitas kesehatan buruh di sektor-sektor ekonomi penting.
Setelah diberlakukannya UU Agraria 1870, modal swasta asing masuk besar-besaran ke Hindia Belanda. Muncul pabrik gula, perkebunan teh, tembakau, dan pertambangan yang membutuhkan penerapan teknologi. Sekolah teknik didirikan untuk memastikan mesin-mesin industri dan jalur kereta api tetap beroperasi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman teknisi dari Belanda.
Inilah pendidikan yang relevan dengan industri pada masa kolonial.
📷 KITLV / Leiden University Libraries
Di tengah kekalutan kondisi ekonomi-geopolitik, sambil berjuang di jalan masing2. Semoga hadis ini terus menjaga optimisme perjuangan kita untuk menolak pasrah dan diam dalam mewujudkan kebaikan yg kita yakini.
Seekor hiu paus secara tak sengaja terjaring nelayan yang sedang mencari ikan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang pada hari Kamis Jumat (10/4/26).
Meski membutuhkan perjuangan ekstra, hiu paus tersebut berhasil dilepaskan ke habitatnya dengan aman.
Keren banget nih buat nelayan Sendang Biru ❤️❤️❤️
.
.
🎥 nicolahendi_ / km_mutiara
Ada usulan bagus dari anak SMK di Kudus, bahwa selama 1,5 tahun ia sekolah, jatah MBG-nya diberikan mentah ke gurunya saja
Saya setuju.
Dan jika ini jadi gerakan, MBG kedua anak saya pun akan saya minta mentahannya, supaya langsung diberikan ke gurunya.
Kalian bagaimana?
Tiga Pemeluk Agama Ibrahim yang Hobi Bertikai
Bayangkan Tuhan membuka percakapan, bukan dengan perintah, tapi dengan sumpah yang hangat: “Demi tin dan zaitun, demi Ṭūr Sīnīn, demi negeri yang aman.” (QS. At-Tīn [95]:1–3). Ini bukan sekadar pembuka puitis. Ini seperti kode lintas iman.
Tin dan zaitun mengarah ke tanah Syam, ruang spiritual Isa. Ṭūr Sīnīn adalah Sinai, tempat Musa menerima Taurat. Dan negeri yang aman itu Makkah, pusat risalah Nabi Muhammad. Tiga simbol, tiga tradisi, tiga saudara, satu panggilan: listen carefully—ini pesan langit untuk kalian semua, anak-anak Ibrahim.
Lalu punchline-nya universal: “Kami ciptakan al-insān dalam bentuk terbaik.” (QS. At-Tīn [95]:4). Diksinya al-insān (bukan Muslim, bukan Yahudi, bukan Nasrani). Semua manusia. Artinya, martabat itu default setting kita.
Tapi plot twist: “lalu Kami kembalikan ke serendah-rendahnya.” (QS. At-Tīn [95]:5). Bukan karena Tuhan berubah, tapi kita yang rusak. Ketika iman jadi identitas kosong, ketika “kebenaran” dipakai buat menghapus yang lain. Sejarah Abrahamik pun pernah jatuh di titik ini: saling klaim, saling benci, bahkan saling melukai.
Perselisihan ini nyata. Lihat deh video satir dari akun aref.merhi, yang, kalau kita paham, harusnya sih nampol kesadaran kemanusiaan kita yah.
Terus ada exit clause di ayat berikutnya: “kecuali yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tīn [95]:6). Iman itu bukan label, tapi relasi hidup dengan Tuhan. Amal saleh bukan sekadar ritual, tapi aksi nyata: adil, welas asih, jaga manusia dan bumi. Ini yang bikin nilai kita naik lagi.
Lalu pertanyaan yang agak nyeletuk tapi dalam: “apa lagi yang bikin kamu dustakan hari pembalasan?” (QS. At-Tīn [95]:7). Hari ketika semua klaim diuji, semua luka diadili. Dan penutupnya: “Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?” (QS. At-Tīn [95]:8). Dia nggak bias label. Yang dinilai itu hati dan perbuatan.
Surat ini seperti DM dari langit: kita semua diciptakan mulia jangan jatuh karena ego kolektif. Balik ke fitrah. Iman yang hidup. Amal yang nyata. Keyakinan yang merangkul, bukan memukul.
Selamat Jumatan dan selamat hari Paskah 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Anak perempuan sebaiknya tidak berjilbab terlalu dini. Alasannya bukan agama, tapi kesehatan.
Studi menunjukan anak-anak di Indonesia kekurangan vitamin D. Prevalensi ini terjadi lebih banyak bagi anak perempuan terutama di sekolah islam.
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah karena jilbab yang mengurangi eksposur anak perempuan terhadap matahari.
Faktor lainnya, sebenernya perempuan di asia punya behaviour menghindari sinar matahari. Ditambah lagi, anak-anak di Indonesia ini berkulit gelap dan masih banyak yang malnutrisi.
https://t.co/brLfzT5gZz