Ini dia bung, dari awal pas lihat khalayak pada rame ngecounter konsep omnibuslaw ketenagakerjaan, saya udah heran, cepet banget mereka memahami isi muatan substansi “draft” RUU tsb sampe menyimpulkan ini itu. 1 pertanyaan selalu klo temen bahas itu, “temenan ta koyok ngono?”
@B3doel___ Yang romantis adalah orang yang paling jahat di percintaan, beda dengan yang seadanya, gak pernah peka, gatau bahagiain cewe gimana, gatau cara mengerti pola fikir cewe gimana, itu yang setia. Cuma ya cewe nya biasanya yang tersiksa. Boro2 nyari lagi dah, yg ada juga bingung wkwk
Ketika anda berada di lingkungan yang enggan untuk maju, sering denial dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuat sendiri, rasanya seolah anda datang dari negeri utopia.
Dan disinilah kepala negara menunjukkan peran antagonis nya dengan mendahulukan skema planning and budgeting political based. Iya, program dan kegiatan yang normalnya sudah dianggarkan, akan kalah dengan program kegiatan dadakan yg belum tentu punya institusionalisme yang teruji
Kondisi perencanaan dan penganggaran NKRI saat ini: memang long term-growth oriented (terutama graduating poverty), tetapi…..! Sangat sentralistik, dan political based. Sistim Performance based budgetting sangat bisa diselingkuhi oleh kepentingan politik saat ini.
Ya, 0 rupiah anggaran untuk program dan kegiatan yang disusun dan direncanakan dengan matang. Dampak nya adalah bbrapa daerah berfikir keras utk “menambang” celah pungutan dan retribusi ke warganya, ada yg pajak UMKM jadi naik, ada yg memainkan PBB, dan lain2
Gaduh-gaduh soal nikel di Raja Ampat: Hasil analisis pelacakan ribuan kapal saya lakukan, semua hasil nikel2 itu pergi ke smelter yg ada di Weda, Halmahera. Yg dapat untung juga tentunya banyak. Jadi jangan kaget 🤟
@dhafinrizky@id_fm Hahaha, makhluk langka awakdewe, disaat bocah seumuran luwih seneng main winning eleven kene wes belajar algoritma, dolanan FM 05 karo CM 4
Sangat setuju dengan frame pengetahuan mas @hnirankara bahwa jokowi dan oligarki masih berkuasa, tapi mas hara menganggap “prabowo kalah dan diatur”. Sedangkan bisa saja menurut saya sebaliknya, semua yg terjadi saat ini karena prabowo “melawan dan menumbangkan mereka”
Presiden Tua Bangka dan Operasi Intelijen
Di tengah chaos kebijakan Indonesia pasca Pilpres 2024, sosok Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai presiden, menjadi target utama amarah rakyat karena kebijakannya yang dinilai bertentangan dengan semangat reformasi. Pada usia 73 tahun, Prabowo memimpin negara dengan latar belakang militernya sebagai pelanggar HAM, serta dengan kontroversi yang tidak pernah surut.
Pertemuan Prabowo dengan pemred-pemred melalui wawancara di Hambalang pada 6 April 2025, yang disiarkan oleh beberapa media, salah satunya Narasi Newsroom, menjadi titik balik yang kembali memicu keresahan publik. Dalam wawancara tersebut, Prabowo tampak kehilangan arah, seolah-olah ia kekurangan informasi penting, bahkan untuk isu sekrusial RUU TNI yang sedang mengguncang stabilitas sosial.
Publik pun mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang presiden, yang seharusnya memiliki akses tidak terbatas ke informasi negara, bisa tampil begitu tidak siap? Keresahan ini diperparah oleh fakta bahwa telepon seluler Prabowo selalu dipegang oleh ajudannya, Teddy Indra Wijaya, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kabinet.
Spekulasi liar pun bermunculan, apakah Prabowo sedang menjadi target operasi intelijen yang dirancang untuk "mengunci mati" dan melemahkan posisinya sebagai presiden?
Di balik semua ini, ada benang merah yang mengarah pada dinamika politik yang jauh lebih dalam, melibatkan Joko Widodo Jokowi, rival Prabowo dalam dua Pilpres sebelumnya, yang kini diyakini memiliki pengaruh besar atas kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024. Teddy dulunya adalah orang kepercayaan Jokowi yang kini berada di lingkaran terdekat Prabowo, sehingga memunculkan dugaan bahwa ada operasi intelijen yang sengaja menjadikan Prabowo sebagai boneka politik, sementara agenda Jokowi dan oligarki di belakangnya terus berjalan.
-Sebuah Esai Konspirasi-
@hnirankara Apakah narasi ini justru upaya memperkuat marwah oligarki dengan membangun opini publik?
Karena bisa saja sebaliknya, prabowo sedang memperkuat pasukan untuk lepas dari oligarki?