Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang~
#ManifestasiKebaikan
Segelas kopi yang kita beli menjadi penghasilan bagi barista. Makanan
yang kita pesan menjadi rezeki bagi pedagang. Ongkos yang kita bayarkan menjadi nafkah bagi pengemudi. Waktu yang kamu luangkan menjadi penguat bagi seorang teman.
Ada orang miskin yang meninggal tanpa pernah merasakan impiannva. Ada orang kaya yang meninggal tanpa sempat membawa hartanya. Ada tukang bakso yang meninggal tanpa pernah tau siapa nama pelanggannya. Ada dokter yang meninggal setelah menyelamatkan banyak nyawa.
Kematian tidak pernah bertanya kita siapa, dan kita hanya sedang berjalan di waktu yang tidak tau kapan habis-nya. Kita hanya perlu menggunakan sisa hidup kita sebaik-baiknya, dan terakhir kita.
Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dasyat yang tak terduga yang timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya..
- Pramoedya Ananta Toer, dalam Novel Rumah Kaca
Orang yang kenyang gak akan ikutan rebutan makanan. Tapi orang serakah, biar sudah kenyang pun dia punya perut, akan terus merebut makanan. Ia berebut bukan karena lapar, tapi takut kehilangan kesempatan untuk mendominasi~
Semoga selalu ada ruang dalam diri untuk memaafkan luka-luka. Semoga selalu reda dendam yang melekat berulang. Semoga masih panjang waktu untuk kembali pulang pada rumah yang sebenarnya.
Jgn mematahkan sayap burung lalu meminta mereka untuk terbang, jgn mematahkan sebuah hati lalu memintanya untuk mencintai, jgn bermain api dan berharap kau akan baik-baik saja. Hdup adlh tentang memberi dan menerima, kau tak bisa berharap memberi yang buruk dan menerima yang baik
"Percayalah, di saat kamu ikhlas dengan keadaanmu, di situlah Allah merencanakan kebahagiaan untukmu. Allah mampu mengubah situasi paling terpuruk menjadi momen terbaik dalam hidupmu."
Syaikhuna KH. Maimoen Zubair
Hikmah-Hikmah Rumi, Matsnawi [04]
Kata Darwish, “Wahai jiwa yang berjalan di lorong-lorong hening kehidupan, pernahkah kau bertanya mengapa manusia begitu haus akan pujian? Mengapa setelah kenyang dari roti dan dunia, kita mencari nama baik, ketenaran, dan ucapan manis yang memuliakan diri?
Rumi membisikkan jawabannya dengan kelembutan seorang guru, “Karena Tuhan adalah Maha Pemurah yang mencintai pujian, dan engkau adalah cermin dari sifat-sifat-Nya.”
Maka jangan buru-buru mencela diri karena ingin dihargai. Akar dari keinginan itu adalah fitrah yang suci, yakni keinginan untuk dilihat oleh Yang Maha Melihat dan keinginan untuk dipuji oleh Yang Maha Memuji.
Namun, Rumi juga mengingatkan, jika engkau belum layak, pujian hanya akan menjadi "angin kosong" yang mengisi kantong rusak dan tidak akan memberi cahaya.
Maka, Darwish sejati tidak menolak pujian, tetapi menjadikannya cambuk untuk memperbaiki diri. Ia bersyukur ketika dihargai, namun ia juga takut, bila pujian itu lebih besar dari kenyataan jiwanya.
Dan bila ia mendapatkan syair-syair indah yang menyanjung, ia kembalikan semuanya kepada Sang Pemilik Pujian. Ia berbisik lirih dalam hati,
"Segala pujian ini hanya pantulan dari Engkau, Wahai Yang Terpuji."
Doa Darwish di malam ini:
"Ilahi, jadikan aku orang yang layak untuk setiap kebaikan yang dikatakan tentang diriku. Dan bila pujian itu belum sepadan dengan kenyataan jiwaku, maka perbaikilah aku, hingga kenyataan diriku melampaui pujian manusia."
Muh Nur Jabir
Di tengah pusaran individualisme dan pragmatisme, ketulusan seringkali disalahartikan sebagai kelemahan, dan kebaikan hati dilihat sebagai celah untuk dieksploitasi~
Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang~
— Emha Ainun Nadjib
Kita memiliki orang-orang yang akan tetap mencintai kita walaupun kita sudah menghancurkannya sampai berkeping-keping. Dan orang-orang yang tetap akan membenci kita walaupun kita sudah menyuapinya dengan madu murni."
— Sayyidina Ali Bin Abi Thalib
"Ada luka yang tak terlihat di tubuh, tapi membekas dalam jiwa. Namun, janganlah engkau mengutuk penderitaan, karena bisa jadi ia adalah pintu yang dibuka oleh Tuhan, agar hatimu lebih peka, agar doamu lebih dalam, dan agar hidupmu lebih bermakna."
-Ibnu Sina
Selain memaafkan sesama manusia, cobalah juga untuk memaafkan kehidupan ini. Karena kadang hidup menyajikan daging, namun yang kau dapat justru lengkuas.”
— Banggaber