@DokterTifa Secara hukum terkait keaslian dokumen yang mungkin tidak mereka saksikan sendiri proses pembuatannya. Kesaksian yang bersifat testimonium de auditu (hanya mendengar dari orang lain) tidak memiliki nilai kekuatan pembuktian.
@DokterTifa Dedek Uki, Dian Sandi, dan loyalis lainnya sering kali bertindak sebagai pelapor/pembuat opini pblk demi melindungi aktor utama. Sesuai cuitan Dokter Tifa, saksi pelapor inilah yg akan menjadi titik paling lemah di persidangan karena mereka hrs mempertanggungjawabkan kesaksianny
@Uki23 Definisi 'tulalit' yg sebenarnya ya orang yg ngeles terus tiap ditanya bukti fisik ijazah. Lu sibuk bikin konten nyerang pribadi buat nutupi ketakutan junjungan lu yg udh kebaca banget. Berani g tunjukin ijazahnya skrg? Klo nggak, ya lu yg 'tulalit'
@DianSandiU Kalau argumen hukumnya kuat, hadapi di persidangan dengan bukti. Berlindung di balik kata 'sudah telat' sambil bawa isu luar sidang itu cuma trik murahan karena panik nggak siap kalah argumen.
@sigitwid Gak usah sok bahas reformasi birokrasi bersih kalau urusan amplop suap jabatan Sekda kemarin cuma dianggap angin lalu. Retorika setinggi langit, tapi standar etika menterinya jebret di lapangan.
@DianSandiU Analogi penjilat tingkat dewa. Saking bingungnya nyari bahan buat ngehumas kemesraan elite, sampai urusan sepak bola dibawa-bawa buat pemanis narasi transaksional.
@dodok_jr@DianSandiU Argumen lu muter-muter di situ terus kayak komidi putar, tanda kalau lu emang nggak punya kapasitas buat bantah fakta kalau kader parpol lu nggak mandiri. Kalau sudah kehabisan bahan mending kita sudahilah ya.. 🙏
@dodok_jr@DianSandiU Lucu, berlindung di balik narasi 'takut blunder' demi memaklumi sistem feodal internal. Kalau parpol diisi orang-orang kompeten, mereka nggak bakal takut bicara. Ini mah emang aslinya nggak punya kemandirian bersuara, tapi dikemas pakai alasan sok taktis.
@dodok_jr@DianSandiU Ngapain juga sakit hati ditolak parpol yang buat bersuara aja harus nunggu remot kontrol ketum? Rakyat itu konsumen politik, wajar mengkritik produk yang cacat dan bohongi publik. Lagian pede banget ngerasa semua orang pengen masuk parpol robot itu.
@dodok_jr@DianSandiU Mereka jualan jargon 'Terbuka' itu ke netizen biar dapet suara di pemilu. Begitu ditagih konsistensinya, lu malah maklum kalau mereka disetir kayak kerbau dicocok hidung. Kasihan banget standar lu rendah banget dalam menilai fungsi parpol anak muda.
@ridwan_har@DianSandiU Setuju. Jualannya parpol modern dan anti-korupsi, tapi struktur internalnya dikelola kayak sistem komando sekte agama. Pengakuan mereka di atas itu bukti sah kalau jargon 'terbuka' mereka cuma sekadar pelicin biar dapat panggung kekuasaan.
@DedynurPalakka Lucu banget, kritik kebijakan dibilang hate speech cuma karena yang dikritik itu idola lo. Bedakan antara membenci identitas manusia dengan muak sama rekam jejak penguasa, Ded. Jangan gagal paham filosofi!