"Kasian amat Grab-GoTo… nanti gak bisa survive gara-gara cuma boleh potong 8%!”
Sementara abang ojol tiap hari:
Hujan deras basah kuyup,
Panas terik gosong kulit,
Macet 3 jam cuma buat 1 order,
Bensin naik, cicilan motor nunggak,
Anak istri nunggu uang makan di rumah… Tapi yang kalian kasihani? Korporasi yang tiap bulan potong 20% lebih.
Kalian ini bukan pro-rakyat.
Kalian pro-dompet perusahaan.
92% untuk yang kerja di jalan.
8% untuk yang kerja di AC kantor.
Itu aja. Siapa yang sebenarnya “kasian”?
Abang ojol atau bos Grab-GoTo?
@idextratime Sayang si barca beknya sama kipernya aneh, apalagi comeback roma 2018
di psg juga gitu, andaikan lini belakang,tengah dan kipernya itu depannya si MNM bisa lebih serem
Stop panik soal stok BBM 20 hari!
(nyontek opening Hanif )
Sebagai informasi, impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz hanya +/-20%, sehingga penutupan Hormuz tidak akan memutus pasokan nasional secara total.
Yang menarik disimak justru statement Bahlil yang tampak sengaja melempar angka “20 hari” sebagai penanda kerentanan.
Tujuannya?
Supaya publik melihat 'urgensi' dan menerima percepatan penguatan kerja sama energi dengan Amerika Serikat (ART)
Polanya kira-kira begini:
1. Angka “20 hari” dipakai sebagai perangkat framing komunikasi publik untuk membangun sense of urgency dan mempersempit ruang resistensi terhadap langkah cepat.
2. Sesudah framing terbentuk, arah kebijakan yang ditekankan mengarah ke AS. Narasi ART/reciprocal trade dijadikan payung: penyesuaian neraca dagang dilakukan lewat peningkatan pembelian energi dari AS.
3. Efek yang dikejar adalah realokasi volume impor, penguatan kontrak, dan jalur pasokan dari AS terlihat wajar dan mudah dipertanggungjawabkan atas nama ketahanan energi.
4. Di saat yang sama agenda swasembada tetap ditampilkan (RDMP, biodiesel, cadangan strategis) sebagai lapisan legitimasi, sementara langkah paling cepat tetap pivot ke AS.
Intinya, angka “20 hari” dapat dibaca sebagai upaya mengarahkan opini publik agar penguatan kerja sama energi Indonesia–AS tampak sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar manuver dagang.
Untuk membuktikannya, silakan simak berita terkait di beberapa hari ke depan ☺️
Stop panik soal stok BBM 20 hari!
(nyontek opening Hanif )
Sebagai informasi, impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz hanya +/-20%, sehingga penutupan Hormuz tidak akan memutus pasokan nasional secara total.
Yang menarik disimak justru statement Bahlil yang tampak sengaja melempar angka “20 hari” sebagai penanda kerentanan.
Tujuannya?
Supaya publik melihat 'urgensi' dan menerima percepatan penguatan kerja sama energi dengan Amerika Serikat (ART)
Polanya kira-kira begini:
1. Angka “20 hari” dipakai sebagai perangkat framing komunikasi publik untuk membangun sense of urgency dan mempersempit ruang resistensi terhadap langkah cepat.
2. Sesudah framing terbentuk, arah kebijakan yang ditekankan mengarah ke AS. Narasi ART/reciprocal trade dijadikan payung: penyesuaian neraca dagang dilakukan lewat peningkatan pembelian energi dari AS.
3. Efek yang dikejar adalah realokasi volume impor, penguatan kontrak, dan jalur pasokan dari AS terlihat wajar dan mudah dipertanggungjawabkan atas nama ketahanan energi.
4. Di saat yang sama agenda swasembada tetap ditampilkan (RDMP, biodiesel, cadangan strategis) sebagai lapisan legitimasi, sementara langkah paling cepat tetap pivot ke AS.
Intinya, angka “20 hari” dapat dibaca sebagai upaya mengarahkan opini publik agar penguatan kerja sama energi Indonesia–AS tampak sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar manuver dagang.
Untuk membuktikannya, silakan simak berita terkait di beberapa hari ke depan ☺️
Sebelum jadi direktur Pertamina, Ibnu Sutowo adalah Mafia Tanjung Priok.
Pembantaian Tanjung Priok 1984 dilatarbelakangi permainan Mafia Tanjung Priok, menyebabkan rakyat setempat marah dan masuk ke gerakan Islam.
Sampai hari ini industri Indonesia dikekang Mafia Tanjung Priok.