https://t.co/0px5RSFwj3
Alhamdulillah, Mahkamah Konstitusi melanjutkan sidang pembuktian untuk permohonan diskualifikasi Gibran.
Kami mengucapkan terima kasih atas putusan Mahkamah tersebut.
Selanjutnya kami mohon, agar terang semua masalahnya, Mahkamah berkenan menghadirkan ke persidangan:
1. Saudara Gibran Rakabuming Raka
2. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
3. Menteri Hukum
Mengapa ketiganya perlu hadir? Silakan simak penjelasan kami dengan mengklik link video di atas.
Salam Integritas!
Saya kadang minum berdiri, dan kadang pula dinyinyirin. Cara nyinyirnya pun unik: orang itu ambil gelas, minum di depan saya, tapi jongkok.
Saya bilang:
“Nabi pernah minum dengan duduk, pernah pula berdiri. Tapi saya belum pernah dapat riwayat nabi minum dengan jongkok.”
😅
Dengan berlanjutnya sidang ke tahap pembuktian, maka kami menyampaikan:
1. Terima kasih kepada Mahkamah Konstitusi.
2. Perdebatan soal prosedur lewat tenggang waktu, kedudukan hukum, kewenangan MK, putusan yang final, sementara bisa kita kesampingkan.
3. Kami memohon MK untuk memanggil guna didengarkan keterangannya:
* Saudara Gibran Rakabuming Raka
* Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
* Menteri Hukum
Salam Integritas!
Apoyaron la guerra ilegal de Estados Unidos e Israel en Irán. Pero PP y Vox están bien callados ahora y no apoyan las medidas para proteger a la gente de sus consecuencias.
Este martes también llevaremos al Consejo de Ministros una prórroga del ESCUDO SOCIAL hasta finalizar el año.
La mejor manera de reducir el coste de la vida es decir NO A LA GUERRA de Irán.
Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan ambang batas parlemen 4 persen tak memiliki legitimasi. Angka itu membuat suara pemilih partai dalam pemilu hangus. Hakim juga menyatakan ambang batas pencalonan presiden 0 persen.
Alih-alih menjalankan perintah hakim, para politikus malah mau menaikkan ambang batas parlemen dalam revisi Undang-Undang Pemilu. Mereka juga hendak menambahkan syarat pencalonan presiden.
Jika gol, jumlah partai akan menyusut, calon presiden akan kembali itu-itu lagi. Pemilu yang seharusnya menjadi sarana sirkulasi elite dan saringan calon pemimpin yang memberi harapan akan musnah. Bahkan ada gagasan pemilihan kepala daerah kembali ke DPRD.
Mengapa tidak bisa membayangkan, Salah Katakan Salah itu kata koentjinya, Konstitusi saja bisa diubah-ubah sesuai keinginan nafsu Bejad Penguasa mengapa memaksukkan Presiden atau Wakil Presiden tidak bisa - ini termasuk Salah satu pakar yang goblok atau Profesor #hening
Akan hadir pembukaan Gerakan UI Mengajar angkatan ke-16 di Fakultas MIPA UI jam 1 siang ini. Ada rekomendasi, kantin UI mana yg enak buat makan siang sesudah Jumatan di masjid UI nanti? :)
Saya tidak menonton live 100 tahun Gontor, saya baru simak barusan dan heran kenapa perayaan itu tidak viral.
Pondok Modern Darussalam Gontor baru saja menggenapkan usia satu abad pengabdiannya, namun perayaan itu tidak ditandai dengan karpet merah puja-puji untuk sang penguasa, melainkan dengan kepungan peringatan yang turun langsung dari langit. Ketika Presiden Prabowo Subianto melangkah memasuki tanah Ponorogo, atmosfer spiritual pesantren tidak sedang menyediakan panggung kenyamanan bagi syahwat kekuasaan. Sebaliknya, udara bergetar hebat saat lantunan Surat Al-Ahzab ayat 70-73 diperdengarkan tepat di hadapan wajah sang pemegang kuasa tertinggi negara. Ini bukan sekadar protokoler seremonial, melainkan sebuah bentuk adab tingkat tinggi—sebuah teguran sunyi yang dibungkus tradisi, tetapi memiliki daya ledak yang jauh lebih dahsyat daripada kepalan tangan demonstran di jalanan.
Melalui ayat-ayat suci itu, peradaban pesantren seolah sedang menegakkan cermin besar untuk menguliti tabiat lisan kekuasaan hari ini. Kita telah terlampau lama dipaksa menonton panggung politik yang bising oleh luapan emosi, nada mengancam, dan diksi kasar yang merendahkan martabat rakyat seolah mereka hanyalah jongos yang bisa digertak sesuka hati. Tatkala negara merindukan kelembutan teladan dari seorang pemimpin, yang hadir justru qaulan ghalidza—perkataan kasar yang merobek psikologi kebangsaan. Gontor, tempat di mana adab diletakkan jauh di atas ilmu, dengan sangat benderang mengingatkan bahwa lisan yang tuna-etika dan mirip preman pasar adalah sebuah anomali memalukan di puncak kepemimpinan sebuah bangsa yang besar.
Dengarkanlah bagaimana kalam ilahi itu menghujat kemunafikan mereka yang mengaku beriman namun lisannya culas: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu..." Di sini letak benturan kerasnya. Di dalam ruang-ruang berpendingin udara di istana, para elite sibuk memoles statistik dan mendeklarasikan ilusi bahwa Indonesia sedang baik-baik saja. Namun di luar pagar kekuasaan, realitas berbicara dengan bahasa yang teramat perih: harga beras yang kian mencekik, badai PHK yang merontokkan masa depan keluarga, serta hukum yang mendadak lumpuh saat menyentuh lingkar jenderal, konglomerat, dan jejaring dinasti. Al-Ahzab sedang menelanjangi kepalsuan itu, menguliti watak manusia yang merebut amanah dengan rakus, tetapi perilakunya jatuh pada kelaliman dan kebodohan ekstrem sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."
Tragedi terbesar dari kekuasaan hari ini adalah hilangnya pendengaran sang pemimpin akibat tebalnya dinding pembisik. Istana telah bermutasi menjadi gelembung kedap suara yang dipadati oleh para pemuji bayaran, menteri pencari muka, dan laporan-laporan palsu "asal bapak senang". Jeritan rakyat yang lapar sengaja diredam agar tidak mengusik kenyamanan tidur penguasa yang mabuk sanjungan. Melalui pamungkas Surat Al-Ahzab, peringatan itu diketuk kembali bahwa ujung dari pengkhianatan amanah dan kebohongan sistematis ini adalah keruntuhan yang nyata: "Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan..."
Pesan spiritual dari rahim Ponorogo itu teramat benderang dan menghunjam langsung ke jantung kekuasaan. Bersikaplah takwa dan berkatalah jujur, sebelum amanah yang diagungkan itu berbalik menjadi laknat sejarah. Ketika sebuah institusi sekaliber Gontor memilih mengetuk kesadaran seorang kepala negara dengan otoritas tertinggi Kalamullah, itu adalah sinyal darurat bahwa krisis moralitas di tingkat elite telah sampai pada batas yang memuakkan. Diamnya sang jenderal di bawah naungan ayat-ayat suci hari itu adalah sebuah pengakuan paling puitis sekaligus tragis: sebab di hadapan pengadilan wahyu, tidak ada lagi retorika politik manusia yang sanggup membela diri.
ET Hadi Saputra, Jakarta.
Ketua buruhnya naik Alphard, buruhnya dibakar matahari di aspal.
Andi Gani - Presiden KSPSI. Bukan buruh pabrik tapi Eks Komisaris Utama BUMN PT PP, anak mantan Menteri Tenaga Kerja, wajah langganan baliho politik. Aksesnya lingkar istana, penderitaannya cuma di podium orasi.
Dia fasih teriak soal perut buruh, dari dalam kabin ber-AC 2 Miliar.
Jadi ini masih soal upah murah dan outsourcing, atau soal harga sebuah posisi tawar?
Buruh berjuang untuk hidup. Elitnya berjuang untuk kursi.
Jangan mau nasibmu dipanas-panasin, cuma buat jadi tangga dia naik lagi.
Salam dari Pengajar Muda angkatan ke-28 yg baru berangkat penempatan minggu lalu. :)
Alhamdulillah, Indonesia Mengajar masih rutin berjalan tiap tahun. Bangsa ini tidak pernah kekurangan stok anak2 muda hebat dan gigih.
PENGKHIANATAN TERHADAP RAKYAT ‼️
Enak betul jadi pengemplang di negeri ini. Rakyat nunggak BPJS, nunggak pinjol 500 ribu dikejar debt collector sampai ke kuburan. Pengemplang BLBI yang utangnya ratusan triliun, merampok uang negara di saat krisis 98, malah dikasih karpet merah: "anggap saja lunas".
Surplus BI itu bukan uang warisan bapakmu. Surplus BI Rp55 Triliun itu uang negara, hasil dari pengelolaan moneter. Bukan alat untuk pemutihan dosa konglomerat hitam. Kalau surplus dipakai untuk menghapus kewajiban pengemplang, itu namanya negara mensubsidi penjahat dengan uang rakyat.
BLBI bukan utang biasa, itu skandal kejahatan. Ini bukan kredit macet UMKM. Ini Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang dikemplang, dipakai untuk foya-foya, bukan untuk selamatkan nasabah.
Menganggapnya lunas dengan akrobat akuntansi adalah pengkhianatan terhadap sejarah dan penghapusan dosa secara sepihak.
Surat Terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tentang Imbauan Etika Kepemimpinan dan Penggunaan Penataan Tutur Kata di Ruang Publik
Bapak Presiden Republik Indonesia @prabowo yg saya hormati,
Sebagai bagian dari warga negara yg mencintai Republik Indonesia, saya menulis surat terbuka ini atas dasar kepedulian mendalam terhadap martabat kepemimpinan nasional dan masa depan etika berbangsa kita.
Amanat yg diletakkan di atas pundak seorang Presiden bukan hanya tentang mengelola roda pemerintahan dan pembangunan fisik, melainkan juga tentang menjaga etika, keteladanan, serta kehormatan dalam setiap tutur kata dan tindakan di ruang publik. Presiden adalah wujud representasi tertinggi dari karakter, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa.
Namun, dengan rasa prihatin yg mendalam, masyarakat akhir-akhir ini kerap menyaksikan penggunaan diksi, pilihan kata, maupun penyampaian dari Bapak Presiden di ruang publik yg tergolong kasar, emosional, dan kurang pantas.
Kami memahami bahwa dinamika pemerintahan dan tekanan tugas seorang Kepala Negara sangatlah berat. Namun, tidak ada alasan atau pembenaran apa pun—baik kekecewaan, kekesalan, maupun tingginya tekanan kerja—yg layak membenarkan seorang Presiden mengucapkan kata-kata yg mencederai kesantunan dan budaya Nusantara kita.
Setiap ucapan yg keluar dari seorang Kepala Negara memiliki bobot pengaruh g luar biasa. Ketika diksi yg tidak pantas diucapkan secara terbuka, hal tersebut tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan kekecewaan publik, tetapi juga memberikan preseden buruk serta contoh yg tidak mendidik bagi generasi muda bangsa ini.
Oleh karena itu, melalui surat terbuka ini, dengan penuh rasa hormat namun tegas, kami mendorong Bapak Presiden untuk melakukan evaluasi dan koreksi diri, menyadari dampak dari setiap tutur kata di ruang publik dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada rakyat Indonesia atas ketidaknyamanan yg telah ditimbulkan dan berkomitmen penuh untuk senantiasa mengendalikan emosi, menggunakan bahasa yg santun, bermartabat, serta mencerminkan keluhuran etika kepemimpinan nasional dalam setiap kesempatan.
Surat terbuka ini disampaikan bukan atas dasar kebencian, melainkan sebagai bentuk teguran tulus dan kecintaan rakyat kepada institusi Kepresidenan serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami merindukan sosok pemimpin yg tidak hanya tegas dalam bekerja, tetapi juga anggun dan menjadi teladan dalam bertutur kata.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk, hikmah, dan kesabaran kepada Bapak Presiden dalam memimpin bangsa yg besar ini.
Terima kasih atas perhatian Bapak Presiden.
Hormat saya,
Azzam Mujahid Izzulhaq
Cc: @KemensetnegRI@setkabgoid
Ya Rahman Ya Rahim Rahmatilah Gontor
Ya Aliim Ya Khabiir Tambahkanlah ilmu pada Gontor
Ya Hayyu Ya Qayyum hidupkanlah jiwa Gontor
Ya Maalikal Mulki kokohkanlah integritas Gontor
#UBN
“Saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera. Itu sumpah saya….
…Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.”
Ada masalah apa Prabowo dengan pakar? Atau lebih tepatnya: dia ada masalah apa?
Kenapa bicara dengan rakyatnya sendiri, seperti mau mengunyah-nguyah mereka?