Hobi tidur, bikin abai harga diri dan lemah, kecerdasan berkurang, pemalas, loyo, menelantarkan usia tanpa manfaat, membuat hati keras, alpa dan lupa mati. (Qodhi Iyadh dalam Asy Syifa bi Ta'rifi Huquq al Musthafa)
Untuk merubah hatimu lebih baik, sukses ruhanimu, tidak harus menunggu tahun baru. Karena setiap detik, hatimu, jantungmu, syaraf, pikiranmu, bahkan nafas dn jasadmu, selalu baru. Tidak ada yang berulang dalam hidup ini. Teruslah menapak ke depan setiap waktu. Allah itu harapanmu
Mulailah dari dirimu. Mulailah Dawamul Wudhu' (jika batal wudhu lagi) karena itu bisa memudahkan menyucikan hatimu dari kotoran nafsu. Kotoran nafsu jika dibiarkan akan membentuk sifat-sifat buruk.
Kebenaran pun kalau disampaikan dengan sombong akan kehilngan barokah dan Nur. Apalagi jika apa yang disampaikan belum tentu benar. Gelap.
Wujud kehilangan barokahnya adalah wujud kesombongan itu sendiri.
“Kalau Nilai Matematika Saya Merah, Apakah Saya Bodoh?”
Dulu, kecerdasan hanya dipersempit jadi satu jalur: jago matematika, sains, dan hafalan. Di sekolah kita, anak yang tak bisa berhitung tapi piawai menulis cerita atau bergaul hangat seringkali hanya dipandang “biasa”. Seolah kecemerlangan hanya boleh bernama angka.
Saya termasuk yang tumbuh dalam asumsi itu. Nilai matematika saya di ijazah SD: merah, 5. Di Tsanawiyah, saya sering bolos pelajaran itu dan enggan menyentuh PR-nya. Tapi guru saya sangat baik—tak pernah memberi nilai merah di rapor. Sampai sekarang, beliau masih hadir dalam mimpi saya. Dan dalam mimpi itu, saya masih gemetar menghadapi ujian matematika. Sedalam itu trauma yang ditinggalkan.
Namun hidup mengajarkan hal lain. Hari ini saya boleh berdiri di depan kelas—mengajar hukum, bukan menghitung integral. Bukan karena matematika tak penting, tapi karena itu tenyata bukan satu-satunya bentuk kecerdasan.
Howard Gardner memperkenalkan Teori Multiple Intelligences yang menolak gagasan bahwa IQ adalah tolok ukur tunggal. Menurutnya, manusia memiliki setidaknya 8 bentuk kecerdasan.
1. Logika-Matematika, seperti dimiliki ilmuwan & insinyur.
2. Linguistik-Verbal, yang kuat pada pengacara, jurnalis, & dosen.
3. Visual-Spasial, seperti arsitek & desainer.
4. Musikal, pada musisi dan penyanyi.
5. Kinestetik-Jasmani, yang dimiliki atlet dan ahli bedah.
6. Interpersonal, kecerdasan memahami orang lain—seperti guru & konselor.
7. Intrapersonal, kecerdasan memahami diri sendiri, khas filsuf & pemimpin bijak.
8. Naturalis, yang peka akan dunia alam—petani, aktivis lingkungan.
Jadi, tak ada definisi tunggal untuk “cerdas”. Anak yang tak pandai berhitung tapi bisa menulis cerpen, memainkan musik, berolahraga, atau memahami teman yang sedih—tetap cerdas, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Teori ini menantang sistem pendidikan kita agar lebih adil dan manusiawi. Agar anak-anak tak lagi dipaksa “memanjat pohon”, padahal mereka adalah “ikan yang bisa berenang dengan gemilang.”
“Jadi kalau gak bisa matematika, gak bisa gambar, gak bisa nyanyi, Abang bisanya apa dong?”
“Bisanya cuma bikin puisi dan kalimat cinta buat dirimu, Hon…”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Setiap kita berpotensi terjatuh pada hal yang sama; merendahkan orang lain, baik disengaja maupun tidak.
Disaat kualitas iman menurun, kontak dengan Sang Khaliq melemah, apa saja bisa terjadi.
Jadikan sebagai muhasabah bukan syamatah.
☕️🌹
Futuh-Nya ilmu.
Sebagian para wali menyebutkan : bahwa sebagian santri mengadu kepadanya atas sulit-Nya mendapatkan futuh ( terbuka) ilmu.
Lalu wali tersebut berkata : jika kau hendak membaca kitab , bacalah :
اللهم يامن مقاليد الامور كلها بيده * واليه يرجع الامر كله*