ㅤ
ㅤ
Halo, Kak @instingtif@mctamorphmagus@dryonwet
Terima kasih telah ikut serta dalam Lomba Cerpen Ruang Reka 2025 bersama Serangkai Kata. Terus berkarya ya teman-teman!
ㅤ
ㅤ
ㅤ
“Baiklah. Saya akan bacakan isi dari amplop terakhir."
"Yap! Selamat untuk pemenang Juara Harapan Kesatu! Notatanpapena (@lustyesa) dengan karya Kembalinya Burung Ababil!”
ㅤ
ㅤ
Akhirnya, ia mengangkat amplop terakhir. Damar tersenyum lebar, tak sabar membagikan pengumuman. "Jujur, ini saya yang buka amplop aja jadi ikut deg-degan. Apalagi kalian ya!"
ㅤ
ㅤ
“Selanjutnya, Juara Harapan Kedua,” ujarnya, kali ini dengan jeda yang sedikit lebih panjang. "Hayoo ... siapa yaaaa?"
“Selamat kepada T.I.M.U.R (@srikandiagni) untuk tulisannya Si Hitam di Pekarangan!” seru Damar bersemangat.
ㅤ
ㅤ
“Baiklah, seluruh tamu undangan yang terhormat. Kami umumkan, Juara Harapan Ketiga jatuh kepada ...
Nakula Barasadewa (@sangkasara) dengan cerpen berjudul Luluh Lantak Turunan!”
ㅤ
ㅤ
“Setiap tahun, kami selalu terkesan oleh keberanian para penulis dalam menyuarakan hal-hal yang personal, berani, dan orisinal. Malam ini, kami akan memberi apresiasi khusus bagi tiga karya yang menempati posisi juara harapan.”
ㅤ
ㅤ
“Kami, Serangkai Kata, merasa sangat beruntung bisa kembali menjadi rumah bagi begitu banyak karya yang datang dengan ciri khas dan napas masing-masing penulisnya. Terima kasih atas semangat dan kepercayaan kalian untuk menitipkan cerita kepada kami.”
ㅤ
ㅤ
Damar tersenyum kecil, lalu menambahkan, “karena, di Serangkai Kata, kita nggak pernah berhenti di titik.” Ia menatap ke arah timnya, lalu mengangguk pelan.
ㅤ
ㅤ
Ia berhenti sejenak. Senyap, tapi hangat.
“Jadi kalau ada satu hal yang saya ingin kita semua bawa pulang malam ini, itu adalah: percaya. Percaya bahwa kita bisa menulis, percaya bahwa kita bisa tumbuh, dan percaya bahwa kata-kata kita berarti.”
ㅤ
ㅤ
“Batu loncatan menuju versi terbaik dari dirinya sendiri.”
“Bayangin kalau semua orang mengambil kesempatan itu. Betapa kayanya dunia literasi kita nanti.”
ㅤ
ㅤ
“Saya sering baca antologi karya penulis pemula. Tulisan-tulisannya beragam, kadang sederhana, kadang polos, kadang sarat makna. Namun, justru di situ saya merasa bangga. Karena setiap tulisan di buku itu adalah langkah pertama milik seseorang."
ㅤ
ㅤ
"Saya tahu nggak semua tulisan langsung sempurna. Tapi, seperti kata Mark Manson, banyak orang ingin sukses, tapi hanya sedikit yang mau bersusah-susah karenanya.” Senyumnya muncul lagi. Nada bicaranya melambat, seperti seorang teman yang bercerita dari hati.
ㅤ
ㅤ
“Karena menulis dan menerbitkan buku bukan lagi masalah privilege, tapi usaha kita mengambil kesempatan.” Damar menatap sekeliling. Nada suaranya kini menghangat.
ㅤ
ㅤ
“Dari sanalah Serangkai Kata Project lahir.”
“Saya sengaja menamainya project, bukan publisher. Karena saya nggak mau gerakan ini jadi sekadar penerbit. Saya mau ini jadi ruang , tempat orang-orang bisa menulis dan menerbitkan buku tanpa harus ‘dipilih’ oleh siapa pun.”
ㅤ
ㅤ
"Bukankah setiap orang punya hak yang sama untuk menulis, untuk bercerita, untuk punya buku sendiri?”
Suasana mulai hening. Semua mata tertuju padanya.
ㅤ
ㅤ
Ia berhenti sejenak. Nada suaranya lembut, tapi tajam.
“Pasar buku memang punya logikanya sendiri. Ada genre yang laku, ada tema yang disukai. Namun, saya selalu tergelitik dengan satu hal: siapa yang menentukan kualitas seseorang sebagai penulis?"
ㅤ