@PinkyGeesh Kalau ada 150 juta pounds + jual ugarte
Bisa dpt fernandes, anderson + ederson
Duit jual rashford, hojlun,onana, sancho bisa buat beli pemain posiis laen
@theultramilkkk Ada manager saya
Namanya Tatang Agus Salim. Cocok dia
Menkeunya komisaris saya, namanya Himawan Nugroho
Kalau MenristekDiktinya saya sendiri.
Menteri ESDM nya ayah saya sendiri.
Guys, Menkeu Purbaya baru mengucapkan dua kata yang menurut gua adalah pernyataan paling jujur sekaligus paling mengkhawatirkan yang pernah keluar dari seorang Menteri Keuangan Indonesia.
Survival mode.
Tapi Raymond Chin langsung menangkap kontradiksi yang sangat mencolok.
Orang yang sama ini beberapa waktu lalu bilang IHSG akan tembus 28.000 di tahun 2030.
Dari posisi sekarang di 7.100-an itu artinya harus naik hampir 300 persen dalam empat tahun atau 41 persen per tahun tanpa gagal sekalipun.
Dan orang yang sama ini sekarang bilang kita tidak boleh membuat satu kesalahan pun.
Kedua narasi itu tidak bisa benar secara bersamaan. Dan Raymond mempertanyakan apakah ini memang dua narasi yang punya fungsi berbeda survival mode sebagai conditioning untuk mempersiapkan publik menghadapi kebijakan pahit dan IHSG 28.000 sebagai harapan untuk menahan modal asing tidak kabur.
Soal angka-angkanya yang perlu dipahami dengan jelas.
Total utang negara sudah mencapai Rp9.637 triliun. Untuk tahun 2026 saja Indonesia harus membayar sekitar Rp599 triliun dan hampir Rp500 triliun dari angka itu adalah murni untuk membayar bunga.
Bukan untuk membayar pokok utangnya.
Uang pajak rakyat senilai hampir setengah triliun setiap tahun hangus hanya untuk ongkos meminjam.
Debt service ratio Indonesia sekarang hampir setengah dari pendapatan negara langsung habis untuk membayar kewajiban utang.
Dan hampir 20 persen dari pendapatan itu hanya untuk bunganya saja.
Dan ini diperparah oleh timing yang sangat buruk. Skema burden sharing COVID antara pemerintah dan Bank Indonesia yang dulu menyelamatkan kita di masa kritis 2020 sekarang jatuh tempo.
Sekitar Rp14 triliun dari skema itu harus dibayar ulang di 2026 tepat di saat kondisi fiskal paling tertekan.
Di saat yang sama kondisi eksternalnya juga memukul dari semua arah bersamaan.
The Fed menahan suku bunga tinggi sehingga asing lebih tertarik menyimpan uang di dolar daripada di aset Indonesia.
Ekonomi China sedang lesu padahal mereka mitra dagang terbesar kita.
MSCI menurunkan bobot Indonesia sehingga dana asing yang mengikuti indeks itu wajib mengurangi kepemilikan saham kita secara otomatis.
Dari tahun lalu saja asing sudah menjual bersih obligasi Indonesia senilai 6,4 miliar dolar.
Hasilnya rupiah tembus Rp17.200 per dolar level yang Raymond sebut sebagai batas psikologis.
Dan dalam 20 tahun terakhir rupiah sudah hancur 46 persen melawan dolar.
Kita memenangkan penghargaan yang tidak ada yang mau menang mata uang dengan performa terburuk di Asia melawan dolar tahun ini.
Soal MBG yang menjadi titik kontradiksi paling keras.
Di saat pemerintah bilang survival mode anggaran MBG membengkak sampai Rp335 triliun di tahun 2026.
Raymond membuat analogi yang sangat sederhana tapi sangat telak bayangkan seseorang yang bilang ke keluarganya kita harus hemat kita sedang survival mode lalu besoknya tetap memaksakan catering mahal setiap hari untuk sekeluarga.
Narasi itu tidak konsisten.
Dan ketidakkonsistenan narasi dari sebuah negara di mata investor asing jauh lebih berbahaya dari angka defisitnya sendiri karena investor akan bertanya apakah negara ini serius mau survive atau mau terus foya-foya pakai uang pinjaman?
Soal dampak langsung ke dompet rakyat yang paling sering tidak disadari.
74 persen dari total impor Indonesia adalah bahan baku dan bahan modal industri.
Bukan barang jadi.
Ini artinya setiap rupiah melemah ongkos produksi pabrik langsung naik dan beban itu dilempar ke harga barang yang kita beli sehari-hari.
Harga makanan kemasan naik.
Material perumahan naik.
Obat-obatan impor naik.
Semua pelan-pelan dan hampir tidak terasa tapi konsisten.
Kalau gaji Rp10 juta dan rupiah melemah 11 persen maka daya beli riil kalian berkurang hampir Rp1 juta tanpa ada potongan di slip gaji.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada pengumuman.
Tapi efeknya nyata dan Raymond menyebutnya sebagai pajak terselubung.
Soal Bank Indonesia dan Thomas Djiwandono yang disebut Raymond sebagai sinyal yang sangat tidak nyaman bagi investor asing.
Keponakan Presiden Prabowo masuk sebagai Deputi Gubernur BI.
Di mata investor asing ini adalah tanda tanya besar apakah BI sebagai institusi yang seharusnya independen menjaga stabilitas rupiah akan tetap independen atau akan dipakai untuk mendanai program-program pemerintah melalui skema burden sharing seperti yang dilakukan di era COVID?
Kalau BI dipaksa membeli surat utang pemerintah untuk mendanai program yang mahal maka senjata utama untuk menjaga stabilitas rupiah menjadi tidak tersedia.
Dan ketakutan itu sendiri sudah cukup untuk membuat investor kabur tanpa perlu menunggu hal itu benar-benar terjadi.
Soal apa yang harus dilakukan secara pribadi Raymond sangat terbuka tentang strateginya sendiri.
Dia sedang defensif. Memindahkan aset ke emas SBN dan mata uang asing. Hal-hal yang setidaknya tidak menggerus keuangan di tengah ketidakpastian ini.
Dan dia menaikkan premi asuransinya karena kalau terjadi sesuatu pada dirinya dia tidak mau seluruh uangnya ikut habis untuk biaya kesehatan.
Bukan pesimis. Tapi realistis.
Dan Raymond menutup dengan satu insight yang menurut gua adalah yang paling penting dari seluruh videonya.
Dia justru menghargai kejujuran Purbaya saat bilang survival mode.
Seperti PM Singapura Lawrence Wong yang bilang secara terbuka ekonomi Singapura akan minus kejujuran seperti itu jauh lebih baik dari harapan palsu.
Karena setidaknya dengan tahu kondisi yang sebenarnya kita bisa mempersiapkan diri.
Tapi kejujuran itu harus diikuti dengan tindakan yang konsisten.
bisa bilang survival mode di satu sisi sambil tetap mempertahankan program yang menghabiskan ratusan triliun di sisi lain.
Narasi dan tindakan harus sinkron.
Karena pasar tidak mendengar apa yang pemerintah katakan pasar melihat apa yang pemerintah lakukan.
cc:raymondchin