Dear HR, Recruiter, Founder, Project Manager, etc
I'm currently open to any remote position available, especially web3 related stuff. Any kind of foreign currency is okay, as long as it's not IDR (Rupiah)
@Robiaji86@LambeSahamjja Yang kritis ke pemerintah adalah yang sebelumnya silent majority dan sebagian kecil orang yang dulu mendukung. Kita suara minoritas sebenarnya.
@reisenhawk@IrfanSofani Still better than not fixing anything. Pada akhirnya, di kondisi kayak gini, antara rakyat sama pemerintah harus saling untung2an, karena sama-sama manusia. Kita terlalu mencari2 mesiah
Clav really tried to 1v4 10/10s in Parisโฆ and got humbled in 0.2 seconds ๐ญ๐
Bro said 'donโt Google me' and still folded immediately... Paris really not going well for him๐
Saya punya kawan dari Muhammadiyah. Ini bukan tentang sakral-tidaknya Suro, tapi komitmen warga Muhammadiyah dengan keyakinannya.
Semua orang tahu NU itu sangat tradisional, bahkan sangat klenik (kecuali Nahdliyin urban, mungkin).
Suatu ketika, kawan Muhammadiyah saya menikah, dan hidup di lingkungan NU. Tentu saja ada tahlilan, maulidan, dan tradisi ketika istrinya hamil empat-tujuh bulan (istilah sini: mapati dan mitoni).
Nah, tibalah masa dimana istrinya benar-benar hamil, hingga usia kandungannya empat dan tujuh bulan.
Dia punya mertua yang cukup NU, bahkan meyakini tolak-balak yang formal: menyebar kembang di perempatan demi "buang sengkala". Makin besar kandungan istrinya, ada pula perintah untuk ruwatan.
Nah, kawan saya menolak anjuran orang tuanya (bahkan bisa dibilang perintah). Khurafat, katanya, persis seperti warga Muhammadiyah pada umumnya, lah.
Suatu ketika kita ngobrol, dan dia membicarakan itu. Dia nanya, apakah saya melakukannya. Saya jawab dengan tegas:
"Saya NU, GUSDURian, dan manusia yang cukup logis. Hanyasaja, saya tetap melakukannya.
Saya tahu tradisi ini semua karena lahir di lingkungan Jawa yang sangat kosmologis. Dan saya memang melakukannya: menyebar kembang rupa-rupa, dari mawar, melati, kantil, dan kenanga (lumrah di sekitar makam), dan ruwatan seperti "ngumbar kuthuk" (baca: melepaskan anak ayam).
Kawan saya ngotot bahwa hal ini tidak ada dasar Alquran dan Hadisnya. Tentu saja saya tahu, dan tidak menolak ulasannya. Tapi saya bilang begini:
"Setahuku, hal seperti ini hanya titen (apa ya bahasa Indonesia) orang-otang kuno. Mereka pernah eksperimen, dan ketika dilanggar malah anak mereka cacat."
Tahu gak apa yang dia lakukan? Merenung!
Hingga akhirnya saya ketemu lagi ketika anaknya lahir, dan ternyata dia benar-benar melakukannya. Saya nanya alasannya.
"Aku gak mau ambil risiko anakku bakal lahir cacat."
Hhe~
Dari sini kita tahu, kadang kasih sayang pada anak itu lebih kuat daripada ulasan Alquran dan Hadis.
Disclaimer: ini tidak bermaksud mengulas keyakinan, ya. Hanya cerita biasa.