@itsamateurism yepp, viewnya lah bikin addicted wkwkw. semua latian rasanya kebayar bangett. harus liat langit malem di gunung. Life without signal bener2 menyenangkan anw
Jadi ini cerita tentang Perusahaan AI seperti Anthropic yang membeli jutaan buku fisik untuk dipindai sebagai bahan latihan model AI.
Langkah ini muncul karena internet sekarang semakin dipenuhi konten buatan AI, sehingga perusahaan khawatir model AI generasi berikutnya akan banyak belajar dari teks sintetis yang dihasilkan AI juga.
Mereka membutuhkan tulisan manusia asli dari buku lama karena dianggap memiliki kualitas, keragaman bahasa, dan pengetahuan yang lebih kaya.
Setelahnya buku dihancurkan karena yang dibutuhkan perusahaan adalah data digitalnya, bukan bentuk fisiknya.
Persoalannya muncul ketika buku yang dimusnahkan merupakan karya langka, atau arsip yang sulit digantikan.
what a slap in the face to “software is dead”
some people may think “agents will handle the maintenance”, but are you sure it’s cheaper buying tokens for the agents than just buying the software?
basic economics - if a piece of software takes $1m worth of tokens to make, one company can make it and sell to a million customers. with some profit margin baked in, each customer might get it at $5
if everyone makes the software by themselves, everyone will pay $1m of tokens each building the same thing over and over again. and for what? for a few vibe coders in the company to enjoy their five minute of fame and say “look! i can build jira”?
THIS IS F*CKING DISTURBING!!!🤯
A leaked Anthropic document just came out in court. Their own words:
"Project Panama is our effort to destructively scan all the books in the world."
Next line: "We don't want it to be known that we are working on this."
They planned to shred every book on the planet, in secret. And they almost got away with it.
It starts with theft. Anthropic stole 7 MILLION books from pirate sites to train Claude, because their CEO said paying authors was too much of a "slog."
Then the lawsuits hit and they needed a legal way to keep going. So they hired the ex-head of Google Books and sent him to publishers to ask for permission. Publishers said no.
That's when they found the loophole.
Buy millions of real, physical books. Cut the spines off with a hydraulic blade, scan the loose pages, and throw what's left in recycling.
One vendor offered to destroy 2 MILLION books in 6 months. That's 11,000 books a day.
Now the insane part.. destroying the books is what made it legal.
If you scan a book and keep it, that's a crime. If you scan it and shred it, that's fair use. A judge actually approved this, which means the shredder WAS the legal strategy.
They still paid $1.5 billion for the stolen books, the biggest copyright settlement in history. Works out to $3,000 per book.
And the scans are locked in Anthropic's private library forever. Nobody outside the company will ever see them. The authors got a shredded book and nothing else.
The part I can't stop thinking about is that a book on a shelf lasts 500 years without power, wifi, or a subscription, and the AI it was destroyed for gets thrown away in 18 months.
They killed something permanent to feed something disposable.
Komputer itu super cepat. Hape kamu jauh lebih cepat dari komputer desktop 20 thn lalu.
Tapi kenapa program yang dibuat di Indo makin lemot dan lambat?
Nah masalahnya mirip 🙏
Enough Internet Today
Jadi ada creator AI yang dapet request buat ditiruin karakter super hero favorit followersnya, dan ternyata mirip banget.
Mengejutkan bahwa AI udah secanggih ini, dan saya memutuskan untuk tidak lanjut scroll
Liat ini keinget, pernah diajak buat nunggu dulu di atas sambil liat view jakarta yg mau ujan dengan kilat petir gitu. Lupa sama siapa, cuma thanks punya pikiran yg sama buat berenti sejenak liat view itu
tpi beneran aku pny kucing 3 udh udh 6-7 tahun lah nemenin dri uangku pas pasan tp slalu aja gapernah kekurangan bwt beliin makan kucing malah klo lg duit ngepas minggu dpn makanan kucing abis tbtn daper rejeki bnyk..apa jgn2 kucing itu ikut mndoakan kita yh?
FOR YOUR INFORMATION: Stasiun Bekasi bakal jaaauh lebih megah lagi karena Summarecon Bekasi ikut berpartisipasi.
Stasiun Bekasi Ekstensi sebagai bagian Transit Oriented Development (TOD) resmi dibangun di lahan PT KAI di Jalan Juanda, samping Kantor Wali Kota Bekasi. Pembiayaan ditanggung PT Summarecon Agung Tbk dengan investasi sekitar Rp78 miliar dan ditargetkan selesai dalam 18 bulan.
Berdasarkan site plan, gedung TOD Summarecon Bekasi terdiri dari tiga lantai di atas lahan 4.765 m².
Proyek ini menghadirkan akses baru ke Stasiun Bekasi sekaligus integrasi dengan angkutan umum yang sudah ada maupun yang akan datang. Diharapkan mampu mengurangi kepadatan penumpang dan lalu lintas di Jalan Protokol Kota Bekasi.
Direktur Summarecon Agung Tbk Adrianto P. Adhi mengatakan, “Kita akan bangun dalam waktu 18 bulan. Dengan (nilai investasi) Rp78 miliar.” Ia menjelaskan, Stasiun Bekasi yang dibangun Kementerian Perhubungan saat ini memiliki fasilitas baik, namun pertumbuhan penduduk membuat kapasitas semakin padat. “Nanti kepadatan itu akan terpecah secara otomatis. Stasiun ekstensi akan melayani masyarakat dari wilayah selatan dan barat, sedangkan stasiun yang ada melayani wilayah utara dan timur.”
Kehadiran dua akses diharapkan mempermudah mobilitas pengguna kereta api dan mendukung pengembangan kawasan berbasis transit di Kota Bekasi.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan bahwa pembangunan harus berdampak luas. “TOD harus menghadirkan dampak positif bagi pengembangan usaha, dunia bisnis, termasuk pelaku UMKM. Buat apa kita memiliki konsep besar kalau tidak memberikan dampak ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan penghasilan dan daya beli masyarakat,” ujarnya.