PERANG BINTANG?
Berawal dari mati lampu yg terjadi di banyak wilayah Indonesia beberapa waktu terakhir. Kortastipidkor Polri mengusut dugaan korupsi dan TPPU dalam pengadaan serta pemenuhan pasokan batu bara untuk sejumlah PLTU periode 2018–2026.
Penyidik menduga terdapat penyimpangan dalam kontrak, kualitas, kuantitas, hingga aliran dana yang diperkirakan menimbulkan kerugian negara dalam jumlah besar.
Dalam pengembangan perkara itu, pada 8 Juli 2026 penyidik menggeledah sebuah kafe di Cipete yang disebut berkaitan dengan Febrie Adriansyah.
Dari lokasi tersebut ditemukan sebuah brankas besar yang kini disita untuk kepentingan penyidikan. Hingga saat ini, penyidik belum mengumumkan isi brankas maupun menjelaskan hubungan barang bukti itu dengan konstruksi perkara.
Peristiwa ini langsung menyita perhatian karena Febrie bukan sosok biasa. Sebagai Jampidsus di Kejaksaan Agung, ia memimpin pengusutan sejumlah perkara korupsi besar seperti Korupsi BTS 4G Kominfo, Korupsi tata niaga timah, Korupsi tata kelola minyak mentah Pertamina, Korupsi fasilitas ekspor CPO, hingga terakhir kasus pengadaan Chromebook Nadiem Makarim.
Karena itu, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada perkara batu bara, tetapi juga pada relasi antarlembaga penegak hukum.
Di satu sisi, Polri melalui Kortastipidkor menangani penyidikan ini.
Di sisi lain, Kejaksaan Agung di bawah kepemimpinan Jampidsus selama ini justru menjadi ujung tombak pengungkapan korupsi besar.
Publik tentu berharap proses hukum berjalan berdasarkan alat bukti, transparan, dan bebas dari pengaruh rivalitas maupun kepentingan politik.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dalam perkara tersebut.
Kita tunggu info selanjut, lagi panas ini…
Sumber video: Metro TV
Ah gilaaakk.
Posko Hang tuah 😓
Kalo sebelum2nya ga pernah kesentuh apalagi ketangkap
Masak Kali ini lolos lagi?
Wajar klo publik curiga ada keterlibatan Jaksa Agung..
Udh dilaporkan brp kali tp tidak pernah diserahkan u/ diperiksa..
Ngeri nih klo smp Jaksa Agung jg keseret2..
Genderang perang sudah ditabuh!!
Kita gelar tikar, nikmati tontonan Kelas berat ini 😌
Guys, ada netizen yang cerita pengalamannya habis belanja di Kopdes dan cukup bikin mikir.
Awalnya dia datang dengan ekspektasi bakal dapat harga lebih murah dibanding toko sekitar. Maklum, selama ini narasinya kan Kopdes hadir untuk membantu masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal.
Tapi setelah belanja, menurut dia harganya kurang lebih sama saja, bahkan ada beberapa barang yang bisa ditemukan lebih murah di tempat lain.
Yang bikin dia heran, suasana tokonya sepi banget. Katanya pas masuk langsung disambut beberapa pegawai dan ada aparat TNI yang berjaga yang siap melayani.
Sampai dia bercanda, rasanya lebih ramai jumlah pegawainya daripada jumlah pembelinya.
Terus ada hal lain yang bikin pengalaman belanjanya agak ribet. Banyak rak belum dilengkapi label harga, jadi hampir setiap mau ambil barang harus tanya dulu ke pegawai. Akhirnya bolak-balik nanya harga satu per satu.
Menurut dia juga, barang yang dijual mayoritas produk pabrikan yang biasa ditemukan di minimarket. Barang UMKM lokal yang sering disebut-sebut belum terlihat.
Bahkan Minyakita yang biasanya dicari masyarakat juga tidak tersedia saat dia datang. Variasi barangnya pun menurut dia masih kalah lengkap dibanding warung Madura di dekat rumahnya.
Nah yang jadi pertanyaan besar sebenarnya sederhana. Kalau harga tidak lebih murah, pilihan barang tidak lebih lengkap, dan pengalaman belanja belum lebih praktis, apa alasan masyarakat harus beralih belanja ke sana?
Karena pada akhirnya masyarakat itu sederhana. Mereka nggak peduli nama programnya apa, siapa yang meresmikan, atau berapa besar anggarannya. Yang mereka lihat cuma: lebih murah nggak, lebih lengkap nggak, dan lebih mudah nggak.
Kalau jawabannya belum, ya jangan kaget kalau orang tetap memilih belanja di tempat yang selama ini sudah mereka percaya.
toko tidak hidup karena banyak seremoni atau banyak pegawai. Toko hidup karena ada pembeli yang datang lagi, lagi, dan lagi karena merasa lebih untung belanja di sana.
Inilah penjelasan dari Prof Ferry Latuhihin, knp Rupiah terus jatuh !
Penjelasan yg mudah banget dicerna dan dipahami 👍
---------------
Menkeu Rp 18.000
Saya sudah menonton lengkap ceramah/pidato pak Jusuf Kalla (JK).
1) Kalau kita menonton video tersebut secara keseluruhan dan meletakkan pidato tersebut pada konteks yang ingin dituju dan disampaikan: sebagai Kristen saya tidak melihat ada ucapan pak JK yang menyinggung.
Berikut penjelasannya:
2) Dalam video tersebut pak JK sedang berbicara dari sudut tokoh atau orang yang mendamaikan konflik Poso dan Ambon, selaku pelaku sejarahnya langsung.
3) Pak JK menjelaskan realitas dan fakta di lapangan ketika itu — yang beliau lihat, alami dan dengar sendiri — dimana “sentimen” agamalah yang membuat konflik tersebut jadi berkepanjangan, berdarah-darah dan memakan banyak korban. Karena kedua belah pihak sama-sama meyakini sedang “berjuang bahkan berperang dijalan suci”.
4) Gaya komunikasi Pak JK dalam ceramah tersebut aku melihat: memang berfokus pada pendekatan historis, sebagai pelaku sejarah langsung. Daripada sekadar menyebutkan istilah agama tertentu secara benar dan tepat. Karena memang ini bukan ceramah “akademik” tentang perbandingan agama.
5) Kalau mau tepatnya, kalau di Islam ada “mati syahid", kalau di kita Kristen mungkin lebih kurang disebut “mati sebagai Martir”. Itulah yang mungkin pak JK lihat ada di benak dan dipusaran 2 kelompok yang bertikai saat itu. Sama saja sebenarnya keduanya. Karena iman dan keyakinan-nya, masing-masing pihak rela menantang maut bahkan mati mengorbakan nyawanya untuk konflik ini.
6) Melalui pidatonya ini aku melihat, pak JK malah sedang mengingatkan kita kembali — generasi sekarang — tentang bahayanya radikalisme dan konflik berlatarbelakang agama. Inilah inti pidato pak JK.
7) Jadi menurutku, tidak perlulah kita umat Kristen tersinggung karena pidato pak JK tersebut. Karena pidato tersebut bukan mau menyerang ajaran agama kita. Pidato itu bukan ceramah yang mau membedah ada tidaknya “mati syahid” dalam ajaran Kristen? Bukan itu.
8) Fakta yang tidak bisa dibantah, konflik Ambon itu memang nyata dan benar ada. Poso juga. Dan yang bertikai sama-sama membawa keyakinan Agamanya ke pusaran konflik. Itulah yang membuat 2 kelompok yang bertikai jadi sama-sama teradikalisasi dan “ganas” (kalau istilahku). Berbeda dengan konflik dan kerusuhan umumnya.
9) Dan faktanya juga, yang mendamaikan konflik itu ya pak JK. Logikanya, kalau beliau mau menyerang agama tertentu, tidak mungkin dia dipercaya kedua belah pihak dan akhirnya bisa mendamaikan konflik tersebut.
10) Terakhir: sebagai penutup, mari kita lihat bagian lain dari pidato itu — yang satu kesatuan juga sebenarnya dengan video yang viral — dimana pak JK menegaskan bahwa tidak ada agama, baik itu Islam ataupun Kristen yang mengajarkan membunuh orang masuk surga.
Berikut saya kutip ucapan pak JK:
“Tunjukkan ke saya, agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga? Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada.”
11) Ucapan diataslah sebenarnya inti dari pidato/ceramah pak JK. Mau agama apapun, tidak ada itu masuk surga kalau membunuh. Apalagi membunuh saudara sebangsanya sendiri. Baik di Islam atau Kristen, tidak ada namanya mati syahid kalau membunuh orang tak bersalah!
12) Terkait laporan polisi yang sudah masuk, menurutku tidak perlu dilanjutkan dan diperpanjang. Karena memang dari ucapan pak JK tidak ada “mens rea” nya. Tidak ada kandungan niat jahatnya untuk memojokkan, menjelekkan apalagi menista agama Kristen. Karena pidato itu memang bukan tentang agama atau ajaran agama tertentu. Tapi tentang konflik berlatarbelakang agama yang tidak boleh lagi terulang di bangsa ini.
13) Kedua pelapor aku kenal baik. Sahat dan Gusma, keduanya orang baik, terpelajar, generasi terbaik dan pemimpin muda yang ada di Kristen Protestan & Katholik saat ini. Aku yakin akan ada penyelesaian yang baik terkait masalah ini.
14) Sekali lagi: inti keseluruhan pidato pak JK bukan tentang menyerang ajaran agama, dalam hal ini Kristen. Tapi tentang konflik yang tidak boleh lagi terulang.
Demikian sikapku
Hormatku,
JANSEN SITINDAON
Citra Polri kembali diuji oleh dugaan tindakan represif oknum anggotanya terhadap masyarakat sipil. Yosep B. Martua, seorang warga yang tengah memperjuangkan keadilan, melaporkan oknum Kanit Harda Polda Kaltim berinisial Ipda F ke Mabes Polri dan Polda Kaltim atas dugaan penganiayaan dan penyalahgunaan wewenang pada Selasa (07/04/2026). Insiden ini bermula saat Yosep mendatangi ruangan Harda untuk memberikan keterangan terkait laporan dugaan penipuan yang melibatkan oknum BPN. Di sana, Yosep mencoba mempertanyakan dasar hukum penghentian penyidikan (SP3) atas kasus laporan Doni Silaban yang telah mangkrak selama tiga tahun, di mana Yosep juga merupakan pihak yang dirugikan. Namun, alih-alih mendapatkan penjelasan transparan, Yosep mengaku mendapatkan perlakuan kasar. Oknum Kanit tersebut diduga naik pitam, mengusir rekan-rekan Yosep yang hadir sebagai saksi, hingga melakukan kontak fisik berupa dorongan, tendangan, dan pukulan ke arah kepala. Selaku pihak korban, Yosep Gultom (Yosep B. Martua) menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat melukai hati masyarakat yang hanya ingin mencari keadilan. "Saya datang dengan baik untuk menanyakan hak saya atas kejelasan hukum yang sudah menggantung selama tiga tahun. Tapi yang saya terima justru tindakan represif. Saya didorong, ditendang, bahkan dipukul. Saya menangkis pukulan itu sampai cincin saya rusak. Ini bukan cerminan Polri yang mengayomi," ujar Yosep dengan nada kecewa. Yosep menambahkan bahwa pihaknya telah resmi menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban oknum tersebut. "Saya sudah laporkan secara daring ke Mabes Polri dan laporan pidana ke Polda Kaltim. Kami meminta perlindungan hukum kepada Bapak Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Bapak Kapolda Kaltim Irjen Pol Nanang Avianto (atau pejabat berwenang). Masih banyak polisi baik, jangan sampai oknum seperti ini merusak institusi," tegasnya. Kejadian ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terkait transparansi proses SP3 dan etika pelayanan publik di kepolisian. Hingga berita ini diturunkan, pihak Polda Kaltim belum memberikan keterangan resmi terkait laporan dugaan penganiayaan tersebut.
Harus adil dong , dulu Ahok tidak ada Dialog dialog , tidak ada Tabayun , para pelapor juga tidak peduli dengan Video utuh Ahok ,mereka hanya fokus potongan Video Ahok .
Hadeeehhh...📍📍📍
Terang-terangan begini tapi @KPK_RI@KejaksaanRI@BPKPgoid pada mingkem, rakyat di paksa percaya dengan semua kebobrokan tang di pertontonkan.