@ismailfahmi selain punya aset konvensional (tanah, bangunan, cash, deposito, dll) yg belum terkelola dg optimal, Muhammadiyah juga punya aset intelektual yg melekat dengan SDMnya yg belum dikelola optimal juga. bayangkan betapa besarnya jika kedua aset tersebut digabungkan dan dioptimal
@arifulamar_@MRezaAlFath@AlfianBahri47@LAZISMU selain itu, AUM yang sudah mapan juga biasa memberikan bantuan ke AUM yang belum mapan secara ekonomi, termasuk subsidi gajih guru dan bantuan pengembangan SDM serta sarpras
[TarjihMu AI Agent]
📌 Pertanyaan:
🔸 Benarkah Nabi mengabarkan bahwa Yahudi Israel dan Syiah Iran akan bersatu mengikuti Dajjal, berdasarkan hadis "70.000 Yahudi Isfahan" dalam Sahih Muslim?
---
⚖️ Jawaban: Hadisnya Sahih — Tapi Tafsirnya Bermasalah
🔹 Hadis tersebut memang ada dan sahih dalam Shahih Muslim (no. 2944), diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. Redaksinya:
> يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
> "Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah."
🔹 Yang bermasalah bukan hadisnya, melainkan penafsiran viral yang beredar, yaitu klaim bahwa hadis ini:
- Merujuk kepada "Yahudi Israel" secara spesifik
- Mengisyaratkan "Syiah Iran" bergabung bersama mereka
- Dikaitkan dengan konflik geopolitik Israel–Amerika vs. Iran saat ini
---
📚 Analisis Kritis Berdasarkan Kaidah Ilmu Hadis dan Tafsir:
🔹 1. Isfahan ≠ Israel
- Isfahan (Ashbahan/Isfahān) adalah sebuah kota di Iran, bukan di wilayah Israel/Palestina
- Menyamakan "Yahudi Isfahan" dengan "Yahudi Israel" adalah qiyās yang tidak berdasar dan menyesatkan
- Secara historis, komunitas Yahudi di Isfahan adalah komunitas tersendiri yang telah ada sejak masa pra-Islam di Persia
🔹 2. Hadis ini berbicara tentang peristiwa eskatologis (akhir zaman), bukan peta politik kontemporer
- Hadis-hadis tentang Dajjal termasuk dalam kategori mutasyabihāt (teks yang maknanya tidak sepenuhnya jelas) dalam tradisi fiqih
- Memproyeksikannya langsung ke konflik geopolitik tertentu adalah ijtihad tanpa dasar yang dapat menyesatkan umat
🔹 3. Narasi "Syiah Iran mengikuti Dajjal" tidak ada dalam hadis ini sama sekali
- Tidak ada satu pun lafaz dalam hadis tersebut yang menyebut Syiah, Iran sebagai entitas politik, atau aliansi antara dua kelompok tersebut
- Ini adalah tambahan (idraj) yang tidak bersumber dari teks hadis, melainkan dari interpretasi politis tertentu
🔹 4. Ṭayālisah bukan penanda eksklusif Yahudi modern
- Ṭayālisah (طَيَالِسَة) adalah sejenis kain/selendang yang dipakai oleh berbagai kalangan di masa itu
- Menafsirkannya sebagai simbol kelompok etno-politis tertentu hari ini membutuhkan argumentasi ilmiah yang sangat kuat
---
⚠️ Catatan Epistemologis Penting:
⚠️ Tidak ada putusan resmi Tarjih Muhammadiyah yang menafsirkan hadis ini sebagai rujukan konflik Israel–Iran kontemporer
⚠️ Muhammadiyah dalam manhajnya sangat berhati-hati terhadap penafsiran teks eskatologis yang dipakai untuk membenarkan narasi politik tertentu — ini termasuk dalam kategori khurafat kontemporer yang harus dihindari
⚠️ Fenomena viral semacam ini lazim disebut sebagai "politisasi hadis" — yakni mengambil teks agama yang sahih lalu memuatnya dengan interpretasi politis yang tidak ada dasarnya dalam tradisi keilmuan Islam
⚠️ Manhaj Muhammadiyah menekankan ijtihad bertanggung jawab dan menolak kesimpulan yang melompat jauh dari teks tanpa dukungan qarinah (indikasi kontekstual) yang kuat
---
📝 Konteks Tambahan:
🔸 Hadis-hadis tentang tanda-tanda akhir zaman (asyrāṭ al-sā'ah) memang otentik dalam korpus hadis, namun ulama terkemuka seperti Ibn Hajar al-'Asqalani dan al-Nawawi mengingatkan agar menafsirkannya dengan sangat hati-hati
🔸 Sebagian ulama berpandangan bahwa rincian eskatologis seperti nama tempat dalam hadis Dajjal tidak selalu dimaksudkan sebagai petunjuk geografis yang literal dan final
🔸 Menyebarkan tafsir semacam ini tanpa verifikasi keilmuan yang memadai dapat memicu kebencian sektarian dan rasial, yang bertentangan dengan maqāṣid asy-syarī'ah dalam menjaga kehormatan manusia (hifẓ al-nafs dan hifẓ al-'ird)
---
✅ Kesimpulan:
🔹 Hadis tentang 70.000 Yahudi Isfahan sahih secara sanad dan tidak perlu diragukan keberadaannya
🔹 Namun klaim bahwa hadis ini mengabarkan persatuan Yahudi Israel dan Syiah Iran mengikuti Dajjal adalah tidak berdasar secara ilmiah dan merupakan penafsiran politis yang ditempelkan pada teks suci
🔹 Masyarakat diimbau tidak menyebarkan narasi semacam ini sebagai "sabda Nabi" tanpa klarifikasi konteks yang memadai
---
Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb. Segala kebenaran hanya milik Allah, dan TarjihMu hanyalah sarana untuk mendekat pada pemahaman yang lebih baik.
Pernyataan sikap Pimpinan Pusat Muhammadiyah
1. Kami menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan korban lainnya yang menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel ke Republik Islam Iran. Belasungkawa yang sama kami sampaikan bagi korban serangan balik Iran di beberapa negara Arab.
2. Kami mengecam dengan sangat serangan tersebut (red: Amerika Serikat dan Israel ke Republik Islam Iran) dan kami memandangnya sebagai pelanggaran atas Hak-Hak Asasi Manusia, hukum internasional, dan pengabaian atas keputusan-keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
3. ... read more.
Refleksi: KHGT dan Esensi Ramadhan
Ada beberapa kritik atas KHGT yg merupakan ijtihad Muhammadiyah ini. Dibilang bidah, agenda mengikuti barat dan liberal, dll.
Saya tidak merespon banyak, hanya menulis satu artikel singkat tentang Mengapa Ramadhan tanggal 18 Februari, menurut KHGT. Cukup itu saja.
Kenapa saya tidak ikutan perdebatan ini?
Karena bagi saya, agama bukan untuk memenangkan argumen, tetapi untuk menundukkan ego (nafs) agar hati menjadi jernih.
Termasuk bersosial media, juga tak lepas dari prinsip agama yang saya yakini. Sebisa mungkin hati tetap jernih.
Ada beberapa lapisan refleksi yang saya lihat terkait pereebatan soal KHGT dan Ramadhan tahun ini.
1. Ilmu vs. Kebijaksanaan
Saya coba membedakan antara ‘ilm (pengetahuan) dan gnosis atau hikmah batin.
Menjelaskan perbedaan tanggal 18 atau 19 Februari, itu benar secara astronomis dan fiqh.
Tetapi jika penyampaian itu bertujuan menunjukkan “saya lebih paham”, maka yang berbicara bukan lagi ilmu, melainkan ego. Apalagi kalau didasari oleh asumsi dan prasangka yang belum tentu benar.
Ego itu sangat halus. Ia bisa bersembunyi di balik dalil, data, bahkan kebenaran.
Puasa justru datang untuk “melembutkan ego itu”.
2. Ramadhan adalah latihan menundukkan nafs
Dalam ajaran Islam yang saya pahami, inti ibadah adalah transformasi batin.
Puasa bukan soal tanggal lebih awal atau lebih akhir, tetapi soal:
Apakah lapar itu melembutkan hati?
Apakah kita lebih sabar?
Apakah kita berhenti menyakiti orang dengan kata-kata?
Jika diskusi tentang 18 atau 19 Februari melahirkan rasa ingin menang sendiri, maka esensi puasa belum disentuh.
Dan kalau saya ikut melakukan perdebatan terus menerus, saya khawatir saya semakin jauh dari esensi.
Cukup saya infokan keputusan Muhammadiyah, landasannya, dan ijtihadnya.
3. Perbedaan sebagai rahmat, bukan bahan pembuktian
Saya meyakini bahwa Allah menciptakan perbedaan sebagai ujian kasih sayang.
Zona waktu berbeda itu sunnatullah.
Fiqh berbeda itu juga rahmat.
Yang diuji bukan siapa paling benar secara teknis, tetapi siapa paling bersih hatinya saat menyampaikan kebenaran.
Buat saya, tidak ada kepentingan untuk menunjukkan pilihan saya benar, lebih benar, atau paling benar.
Tp penting sekali buat saya untuk lulus ujian kasih sayang ini.
4. Dari “siapa benar” ke “siapa menjadi lebih baik”
Diskusi atau perdebatan tentang Ramadhan ini membuat saya bertanya:
Apakah postingan saya ini menambah cinta kepada Allah?
Apakah ia mendekatkan hati-hati umat?
Atau justru mengeraskan diskusi?
Puasa itu perjalanan ke dalam.
Kalau fokus kita hanya pada koreksi tanggal, tetapi lupa memperbaiki hati, maka kita berhenti di permukaan syariat dan belum menyentuh hakikat.
Bukan berarti syariat tidak penting. Syariat penting. Dan Muhammadiyah mengikuti syariat, melakukan kajian panjang, hingga lahir ijtihad KHGT. Selanjutnya mengajak warga untuk menjalani Ramadhan, sebuah perjalanan kedalam diri.
Demikian refleksi saya, seperti ajakan netizen agar warga Muhammadiyah melakukan refleksi, bertanya kendalam hati.
Ini kesimpulan refleksi saya:
Ramadhan tidak datang untuk membuktikan siapa paling benar.
Ia datang untuk mengajarkan kita menjadi lebih lembut.
Tiga hari lagi saya mulai puasa Ramadhan. Anda mungkin empat hari lagi.
Semoga kita semua mendapat esensi dari Ramadhan. Mendapat hakikat Ramadhan.
Aamiin YRA...
Saya cukup menikmati diskusi pro dan kontra soal KHGT Muhammadiyah ini.
Di luar pro kontra ini, yang saya khawatirkan sebenarnya satu hal aja. Bahwa orang tahu KHGT bukan dari sumber resmi, namun dari Prof. Thomas.
Masalahnya membaca KHGT kalau (hanya) dari tulisan prof. Thomas ibarat anda belajar hukum tahlilan tapi dari ustadz salafi.
Makanya saya share ini sumber resminya.
https://t.co/7nPYF20tJI
Kalau sudah membaca yang resmi, ketidaksetujuan anda akan jauh lebih bernilai. Karena yang anda akses langsung sumber primernya, bukan tafsiran orang lain.
Sudah ku duga....
Kenapa jogja dibilang jadi destinasi utama nataru tahun ini, karena kesiapan jogja dalam menghadapi potensi bencana akibat cuaca buruk. Ketika BMKG kasih WARNING, pemda langsung mempersiapkan mitigasi terutama di lokasi wisata rawan bencana.
Dan kepada Wapres @gibran_tweet, belajarlah lbh cepat memberi dukungan yg terukur kpd Presiden @prabowo. Contohlah Pak @Pak_JK pada periode pertama @SBY yg perannya dirasakan oleh Pak SBY kala itu. Tp jgn lihat peran Pak JK pada periode pertama Bapakmu @jokowi sebab memang tak ada ruang yg diberikan oleh Bapakmu saat itu. Segera bantu Pak Prabowo. Berhenti pidato berkualitas super melelahkan itu sebab itu makin membebani Presiden. Atau diam saja. Benar-benar diam.
Sekarang Saat yang Tepat Muhammadiyah Mengembalikan IUP Tambang
Opini
Beberapa tahun lalu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil keputusan berani. Menerima tawaran Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah, berdasarkan regulasi baru dan atas pertimbangan bahwa pengelolaan tambang bisa menjadi sarana bagi kemaslahatan umat.
Namun, keputusan tersebut bukan tanpa syarat. Saat itu disampaikan dengan tegas bahwa jika pengelolaan tambang menyebabkan lebih banyak “mafsadat”, kerusakan lingkungan, sosial, atau kemaslahatan umum, maka Muhammadiyah siap mengembalikan IUP kepada pemerintah.
“Apabila kita pada akhirnya menemukan bahwa pengelolaan tambang itu lebih banyak keburukannya untuk lingkungan sosial dan lingkungan hidup serta berbagai aspek lainnya, Muhammadiyah secara gentleman bertanggung jawab mengembalikan IUP.” — Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah
Kenapa “Sekarang” Menjadi Momentum Tepat?
1. Krisis Lingkungan & Bencana – Bukti Nyata Bahaya Ekstraktivisme
Belakangan ini, Indonesia kembali didera bencana besar, khususnya di wilayah Aceh dan Sumatera, yang makin membuka mata banyak pihak tentang betapa rapuhnya ekosistem terhadap tekanan deforestasi, alih fungsi lahan, dan praktik ekstraktif tanpa mitigasi lingkungan. Kondisi ini memperkuat kesadaran publik bahwa izin eksploitasi sumber daya alam (SDA) harus dijalankan dengan sangat hati-hati, atau bahkan ditinjau ulang.
Dalam situasi seperti ini, mempertahankan IUP, meskipun belum dioperasikan, bisa saja dipersepsikan sebagai potensi risiko lingkungan di masa depan, dan menimbulkan skeptisisme terhadap komitmen ormas terhadap kelestarian alam.
2. Komitmen Awal Muhammadiyah untuk Kemaslahatan & Lingkungan
Ketika menerima IUP, Muhammadiyah menyatakan motivasinya bukan semata profit, melainkan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial, serta sebagai “role model” pengelolaan SDA yang mempertimbangkan aspek lingkungan dan keadilan sosial.
Fakta bahwa komitmen itu dibarengi dengan syarat moral, siap mengembalikan IUP jika muncul mafsadat, menunjukkan bahwa opsi pengembalian memang sudah disiapkan sejak awal.
3. Tekanan Publik & Kepekaan Sosial Meningkat
Dengan bencana yang makin sering terjadi, publik kini lebih sensitif terhadap isu lingkungan, deforestasi, izin tambang, dan tanggung jawab sosial. Sebagai ormas keagamaan besar dengan reputasi moral dan sosial, Muhammadiyah bisa menunjukkan konsistensi nilai dengan mengambil sikap proaktif.
Mengembalikan IUP sekarang akan dipandang sebagai langkah etis, bukti bahwa Muhammadiyah mendahulukan kemaslahatan umat dan lingkungan di atas potensi keuntungan jangka pendek.
Landasan Hukum dan Moral
PP Muhammadiyah, melalui sekretaris umumnya Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa pengelolaan izin tambang akan dievaluasi secara berkelanjutan. Jika dalam pelaksanaannya terbukti menimbulkan mudarat (mafsadat) lebih besar daripada manfaat, maka IUP akan dikembalikan.
Ketua Umum PP, Haedar Nashir, pun menguatkan. Keputusan menerima IUP bukan tanpa syarat. Kesediaan untuk mundur jika kerusakan tak bisa dihindari sudah diungkap sejak awal.
Lembaga internal yang bertugas mengevaluasi aspek lingkungan & sosial bahkan telah menyuarakan kekhawatiran bahwa tambang, terutama bekas konsesi besar, berpotensi menimbulkan malapetaka terhadap alam dan masyarakat jika dikelola sembarangan.
Dengan demikian, pengembalian IUP sekarang bukan hanya langkah baru, melainkan implementasi komitmen awal yang sudah tertulis secara resmi.
Jadi...
Saat ini, di tengah krisis ekologis, bencana akibat rusaknya lingkungan, dan meningkatnya kesadaran publik, adalah momentum paling tepat bagi Muhammadiyah untuk mewujudkan komitmen moralnya dengan mengembalikan IUP tambang.
Langkah tersebut bukan tanda mundur, melainkan tanda tanggung jawab dan kepemimpinan moral.
(Ismail Fahmi)
Please don’t forget to focus on the next wave: Freedom Flotilla – Thousand Madleen & Conscience.
They are now 170 nautical miles away from Gaza.
They are expected to enter the Red Zone tomorrow, where the risk of interception by Israeli forces becomes imminent.
“Thank you to all of you who are keeping an eye on the flotilla & sharing our content”
We can Watch and Track the Global Sumud Flotilla with this livestream
Bookmark and save it. They are about to enter the Danger Zone
https://t.co/1cfuVcnCJ4
Breaking | Spain has announced that the vessel supporting the Global Sumud Flotilla will be the Furor P-46, a Spanish Navy high-seas patrol ship.
Commissioned in 2017, the 93-meter-long warship is manned by 52 specialized sailors.
Prime Minister Pedro Sánchez confirmed the ship will set sail from Cartagena, fully equipped to assist the flotilla or carry out rescue operations if necessary.
🚨 BREAKING: UPDATE on the Status of the Global Sumud Freedom Flotilla from Thiago Avila
"At least 14 boats have been hit. We are still assessing the damage.
We need you now more than ever. We need the world’s eyes on Gaza and on the Flotilla."
URGENT: The Sumud Flotilla has been attacked on international waters by Israeli drones. This on a day where Israel shut the border crossing from Jordan to the West Bank and murdered multiple civilians in Gaza. Will states stand by as civilian advocates of theirs are killed too?!