Dalam konteks filosofi transportasi publik, perbandingan antara Whoosh dan MRT Jakarta enggak apple to apple, Mul. MRT dirancang sebagai layanan massal yang disubsidi negara lewat mekanisme Public Service Obligation supaya semua lapisan masyarakat bisa mengaksesnya dengan tarif rendah, sementara Whoosh adalah proyek berbiaya tinggi dengan orientasi konektivitas antar-kota dan harga premium. Faktanya, sejak Whoosh beroperasi, jadwal KA Argo Parahyangan yang selama ini melayani rute Jakarta–Bandung dengan harga terjangkau dan tingkat keterisian tinggi sengaja dikurangi dari 14 perjalanan pulang-pergi menjadi sekitar 6-10. Padahal moda ini sudah terbukti efektif memindahkan pengguna mobil pribadi ke kereta reguler jauh sebelum proyek Whoosh hadir.
Ketika moda yang inklusif seperti Argo Parahyangan dikurangi demi memberi ruang bagi Whoosh, pemerintah justru melenceng dari prinsip pelayanan publik itu sendiri. Pembangunan seharusnya memperluas akses mobilitas rakyat, bukan mempercepat sebagian kecil pengguna dengan mengorbankan banyak yang lain. Dengan berkurangnya Argo Parahyangan, justru muncul kontradiksi. Proyek yang diklaim untuk mengurai kemacetan malah mengikis moda transportasi publik yang sudah berfungsi baik. Sudah lah, ini terlihat demi legacy solo gengs daripada Indonesia pride.
A mother joins thousands of protestors who are demonstrating against the government in Jakarta, Indonesia 🇮🇩.
At least one person has been killed and over 50 have been injured in the country's capital after days of unrest.
Mungkin ini alasan kenapa yang demo di Gedung DPR dilarang live,
Karena masyarakat jadi tau
Polisi sangat mengayomi dan melindungi 😅
https://t.co/0iEGajBTF5