Kalau 'ambil positifnya' digunakan —tidak tepat guna— untuk membungkam pandangan lain, misalnya. Satu hal yang memiliki 99 keburukan tetapi punya satu kelebihan positif. Akhirnya, tetap saja 'ambil positifnya'. Ya tenggelam.
Mulai bosan dengan kalimat 'ambil positifnya' saja. Seolah seburuk apa pun, selama ada positifnya tidak boleh dikritisi dan diprotes. Kalau sudah begitu, buat apa isi kepala diciptakan?!