- Ada orang-orang yang nunggu jam 20.01 biar tarif LRT turun jadi Rp10.000.
- Ada orang-orang yang bela-belain naik Busway sebelum jam 07.00 pagi biar hemat Rp1.500.
- Ada Ojol yang motornya disita petugas saat nganter makanan demi ngejar setoran.
- Ada yang checkout pas tanggal kembar (7.7, 8.8, dst.) demi gratis ongkir dan cashback.
- Ada yang numpang Wi-Fi gratis buat hemat kuota internet.
- Ada yang sengaja transfer lewat bank atau QRIS tertentu biar bebas biaya admin.
- Ada yang memilih bayar pakai metode pembayaran tertentu demi dapat cashback atau poin.
- Ada kurir yang tetap narik meski hujan deras karena kalau berhenti, penghasilannya ikut berhenti.
- Ada orang yang nunda makan siang supaya uangnya cukup sampai akhir bulan.
- Ada orang yang membandingkan harga di beberapa minimarket cuma buat hemat beberapa ribu rupiah.
- Ada orang tua yang menahan beli kebutuhan sendiri supaya uang sekolah anak tetap aman.
- Ada pedagang kecil yang tetap buka sampai larut malam berharap ada pembeli terakhir.
- Ada pekerja yang lembur bukan karena ingin, tapi karena butuh tambahan penghasilan.
- Ada keluarga yang menghitung pengeluaran harian sampai ribuan rupiah supaya kebutuhan bulanannya cukup.
- Ada orang yang rela antre panjang demi dapat sembako atau barang yang lebih murah.
- Ada orang yang berburu promo belanja karena selisih puluhan ribu sangat berarti.
- Ada pekerja yang jalan kaki beberapa kilometer demi menghemat ongkos transportasi.
- Ada orang yang menunda ganti HP atau motor karena uangnya diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.
- Ada yang bawa bekal dari rumah supaya uang makan bisa dihemat.
TAPI ADA JUGA ORANG YANG NUMPUK 74 KILOGRAM EMAS DIRUMAHNYA !!!
OH INDONESIAKU !!!
🚨Ian Wright, Roy Keane and Jamie Carragher debate the most painful World Cup eliminations of 2026.
🎙️ Host: “We’ve seen some huge nations crash out. Which elimination hurt the most?”
🗣️ Ian Wright: “For me, Brazil. Every World Cup they arrive with expectations of lifting the trophy. When Brazil go home, the entire football world feels it. They had quality all over the pitch, but Norway exposed them. That’s a result people will be talking about for years.”
🗣️ Roy Keane: “Portugal’s exit was painful in a different way. They had Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Vitinha… all that talent. But they never looked like a proper team. They kept passing around the box instead of hurting Spain. If you’re going to play Ronaldo, then play to his strengths. They didn’t, and they’re paying the price.”
🗣️ Jamie Carragher: “The hosts deserve a mention as well. The United States going out at home is disappointing. Mexico and Canada too. Three host nations with huge support, and only one of them made a real impact. You always want the home fans involved for as long as possible because it lifts the whole tournament.”
🎙️ Host: “So which one was the most painful?”
🗣️ Roy Keane: “Egypt. Without question.”
🗣️ Ian Wright: “I agree. They were two goals up against Argentina. They had one foot in the next round. Then the game completely changed.”
🗣️ Jamie Carragher: “And the refereeing is why people are still talking about it. The disallowed goal, the penalty decisions, the lack of consistency… Egypt will feel that football was taken out of their hands. Whether people agree or not, that’s the perception, and it’s left a bitter taste.”
🗣️ Roy Keane: “When supporters spend more time discussing the referee than the football, something has gone wrong. Egypt deserved the chance to decide that match on football alone. Instead, many people have walked away believing the game was handed over to help Argentina survive.”
🗣️ Ian Wright: “That’s why it’s the most painful elimination of this World Cup. Brazil lost because they were beaten. Portugal lost because they didn’t play well enough. But Egypt will always wonder… what if the game had simply been allowed to play out naturally?”
Berhenti Cuci Tangan!
Baik Nadiem maupun Febrie berada di perahu yang sama: mereka punya kesalahan nyata, gagal menjaga amanah, dan wajib bertanggung jawab secara hukum.
Nadiem Makarim tidak bisa lari dari karut-marut kebijakan, komersialisasi pendidikan, dan ruang gelap anggaran di kementeriannya dengan dalih diserang lawan politik.
Febrie Adriansyah tidak boleh menggunakan baju seragam korpsnya untuk mendikte opini bahwa penggeledahan brankas dolar di Jaksel itu hanyalah bentuk pembungkusan (framing) atau balas dendam koruptor.
Publik tidak sebodoh itu. Berhentilah berpura-pura menjadi pahlawan yang teraniaya demi menutupi bobroknya integritas pribadi. Jangankan naik gaji 300%, diberi anggaran 1000% pun tidak akan pernah bisa membersihkan mentalitas pejabat yang sudah rusak sejak dari pikiran.
Jika terbukti bersalah, seret ke pengadilan. Jangan biarkan air mata buaya dan narasi "kriminalisasi" mencuci bersih tangan-tangan yang kotor itu!
Menjual narasi playing victim dan bersembunyi di balik tameng "kriminalisasi" adalah gaya paling pengecut untuk cuci tangan dari dosa jabatan.
Lelucon retorika Presiden Prabowo yang menaikkan gaji 300% demi menyumbat syahwat korupsi langsung runtuh total.
Penemuan brankas raksasa berisi dolar di balik tembok kafe Jaksel milik Jampidsus Febrie Adriansyah—terkait mega korupsi PLTU, Asabri, dan PT CBS-PT KNI—adalah bukti telanjang bahwa keserakahan tidak mengenal kata kenyang.
Sekarang, setelah boroknya dikuliti, apakah kita harus percaya pada tangisan "kriminalisasi"?
Sama sekali tidak. Pola menjijikkan ini persis seperti era Nadiem Makarim di Kemendikbudristek dulu. Setiap kali borok kebijakan dan skandal internal mereka digoyang, narasi yang dilempar ke publik selalu sama: "Kami dizalimi, kami sedang dikriminalisasi oleh oligarki!"
Belum pernah saya lihat selama ini bung Ray Rangkuti bicara seperti ini.
Mungkin dia sudah jenuh melihat kondisi negeri ini.
Hanya dengan seorang pemuda yg bernama Tiyo Ardianto bisa membuat seluruh penghuni istana terguncang.
Kenapa UN Sebaiknya Tidak Dihapus?
Setelah mendengarkan "Pahlawan Perlu Tanda Jasa" alias pertunjukan stand-up comedy spesialnya Abdur Arsyad.... saya jadi menyetujui perlunya Ujian Nasional (UN) di dunia pendidikan.
Ada beberapa argumen menarik yang disampaikan Abdur karena dia tidak setuju UN dihapus
1. Anggapan UN harus dihapus karena kerap dianggap tidak adil. Sekolah tiga tahun, tapi ditentukan kelulusannya dalam tiga hari. Itu memang tidak adil.
Tapi kalau demikian, disebut apa kehidupan kita ini? Kita selalu di-judge dalam waktu singkat.
Sebagai contoh, pembuatan film yang bisa bertahun-tahun, itu ditentukan dalam hitungan hari di bioskop. Kalau penontonnya sedikit, film-nya langsung turun layar.
Contoh lainnya, pertunjukan satu set Stand Up Comedy itu harus lucu di tiga menit awal. Kalau tidak, akan sulit sampai hitungan jam.
Contoh lainnya, pilot itu akan diapresiasi saat 8 menit ketika take off dan 3 menit ketika landing. Tidak peduli jam penerbangan sudah lama, kalau pilot membuat pesawatnya goyang luar biasa, pasti akan menuai kritik.
2. Anggapan UN harus dihapus karena membuat siswa stres. Pertanyaannya, yang membuat stres itu apakah UN-nya... atau orang tua, keluarga, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, kementerian pendidikan, masyarakat, termasuk kita semua?
UN kerap ditanggapi dengan berlebihan. Misal dulu, setiap jelang UN, ada saja momen siswa-siswa dikumpulkan, diajak refleksi berjamaah, sembari membayangkan orang tua meninggal.
Stres ini akhirnya membuat takut. Ketakutan itu bisa membuat kemampuan seorang siswa tidak keluar maksimal.
Ketakutan bukan hanya pada siswa, tetapi juga orang tua yang takut mendapatkan stigma negatif masyarakat.
3. Anggapan UN harus dihapus karena diuji dengan kemampuan atau pertanyaan yang sama. Justru menurut keyakinan Abdur, di sinilah letak adilnya.
Karena dari Sabang sampai Merauke, uji kompetensi dasar yang sama itu menjadi salah satu indikator pemerataan pendidikan di Indonesia.
Contoh, saat UN masih ada, pemerintah bisa melihat pertanyaan yang sama itu mungkin akan berbeda. Soal nomor 5 misalnya bisa jadi dapat dikerjakan oleh siswa di kota, tetapi tidak di desa.
Dari situlah, ada evaluasi mulai dari guru, bahan ajar, kurikulum, dsb. Harapannya, kemampuan dasarnya jadi merata.
Analogi lainnyanya.. kompetisi AFF itu Indonesia tidak pernah juara. Negara lain sudah pernah juara. Artinya, kita harus perbaiki sepak bola kita, bukan kompetisi AFF-nya yang dihapus.
=======
Abdur juga menceritakan tentang banyak sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah buangan, sekolah-sekolah ala Crows Zero.
Ketika UN masih ada, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya di bawah 50%. Ketika UN dihapus, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya selalu 100%.
Kenapa kelulusannya harus 100%? Karena kalau tidak 100%, Kepala Sekolah akan dipanggil Dinas Pendidikan. Karena tingkat kelulusan ini jadi indeks pengembangan manusia yang bisa dipakai sebagai bahan Pilkada.
Bayangkan sejak 2015, banyak siswa lulus tingkat SMA tapi sebenarnya tidak layak lulus. Lalu sekarang, kita mengeluh masalah bonus demografi. Orang stunting pemikiran di mana-mana, itulah hasil dari sistem pendidikan kita tanpa UN.
========
Menurut keyakinan Abdur, kembalikan Ujian Nasional-nya. Tapi kan tidak semua orang bisa matematika? Ya kita buat syarat: UN-nya itu ada, tapi mata pelajaran yang diujikannya itu dipilih oleh siswa berdasarkan bakat dan minatnya.
Hal ini pun sesuai dengan Kurikulum Merdeka yang tengah berjalan saat ini. Karena kelas 2 dan 3 SMA, siswa itu boleh memilih pelajaran yang dia suka. Artinya, kalau siswa sudah dipilih yang disuka dan dikuasainya, masa sih tidak mau UN? Se-bakat-bakat dan se-minat-minatnya seseorang, harus ada standar.
UN ini bisa juga linier dengan jurusan yang dia akan ambil di kampus. Misal, siswa mau kuliah film di IKJ, maka UN-nya adalah seni, bahasa, sejarah. Misal, mau kuliah MIPA di UI, maka UN-nya adalah matematika, fisika, kimia. Misal, mau jadi driver gojek, maka ujian SIM sana.
========
Abdur juga menyampaikan banyak guru yang mengeluh ketika UN dihapus, siswa-siswa itu tidak punya motivasi belajar.
Karena siswa tidak ada target, akhirnya tidak ada yang dikejar di sekolah. Jadinya tidak ada motivasi, tidak ada tantangan. Bayangkan, orang sekolah-tidak sekolah, belajar-tidak belajar, lulus juga akhirnya.
Jadi buat apa belajar?
*Ilusi Privasi Digital: Sekali Send, Kendali Hilang Selamanya*
(Analisis Dugaan Pelecehan Seksual Berbasis Digital dalam Perspektif Keamanan Siber)
Kasus dugaan Kekerasan Seksual Berbasis Gender Online (KSBGO) yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada April 2026 ini merupakan preseden yang sangat serius. Dari kacamata sosial dan hukum, ini adalah pelanggaran etika dan moral yang berat. Namun, jika kita membedahnya dari perspektif keamanan siber (cybersecurity), kasus ini mengungkap banyak realitas teknis tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan ruang digital, kerentanan data, dan penanganan bukti elektronik.
Kasus ini bermula dari percakapan bernada pelecehan di sebuah grup WhatsApp yang dianggap "aman" dan privat oleh para anggotanya. Namun, percakapan tersebut bocor ke ruang publik (platform X/Twitter) melalui tangkapan layar (screenshot). Insiden ini menjadi bukti nyata bahwa perlindungan sistem terenkripsi menjadi tidak berguna ketika eksfiltrasi data (kebocoran) dilakukan secara langsung dari perangkat milik individu yang ada di dalam lingkaran tersebut.
Berikut 5 Hukum Mutlak Ruang Digital yang Wajib Dipahami:
*1. Enkripsi Mengamankan Jalurnya, Bukan Orangnya*
Fitur End-to-End Encryption (seperti di WhatsApp) memang canggih untuk mencegah pesan disadap oleh hacker di tengah jalan. Tapi ingat, enkripsi tidak bisa mencegah teman di dalam grup melakukan screenshot. Sistem keamanan siber terkuat pun langsung runtuh oleh satu tangkapan layar.
*2. Sekali "Send", Kendali 100% Hilang*
Begitu Anda menekan tombol kirim, data tersebut bukan lagi milik Anda. Teks, gambar, atau stiker itu sudah otomatis tersalin dan berdiam di memori perangkat belasan atau puluhan orang di dalam grup. Anda tidak bisa menarik kembali apa yang sudah dicerna oleh perangkat orang lain.
*3. "Orang Dalam" Adalah Ancaman Terbesar*
Kebocoran percakapan atau data ke publik sangat jarang terjadi karena peretasan dari luar. Hampir selalu, kebocoran berasal dari dalam lingkaran itu sendiri—entah karena ada yang sengaja menyebarkan, atau perangkat salah satu anggota dipinjam orang lain. Jangan jadikan "kepercayaan" sebagai gembok keamanan Anda.
*4. Jejak Digital Lebih Kejam dari Jejak Fisik*
Obrolan lisan di warung kopi bisa hilang terbawa angin, tapi ketikan di dunia maya adalah barang bukti permanen. Meskipun Anda sudah memencet delete for everyone atau membubarkan grup, jejaknya tetap abadi dan bisa diangkat kembali melalui forensik digital, cache, atau cadangan sistem (cloud backup).
*5. Ilusi Ruang Privat*
Grup "tertutup" sering kali memberikan ilusi bahwa kita bisa bebas bicara tanpa konsekuensi. Kenyataannya, internet tidak memiliki ruang kedap suara. Ruang privat di platform digital terhubung dengan hukum publik. Apa yang Anda ketik adalah rekam jejak integritas Anda yang terekam selamanya.
Lessons Learned: *Perlakukan setiap ruang digital, se-privat apa pun labelnya, sebagai ruang publik yang diawasi. Jika Anda tidak berani mengucapkan suatu kalimat secara lantang di depan umum, jangan pernah mengetiknya di atas layar*.
~ Aulia Postiera @apostiera
(Cyberity Network)
Sorry, kenapa tunjangan kehormatannya malah naik dan banyak elemen tambahan ya?
Dan tunjangan rumah ini kan awalnya wacana, belom terlaksana. Mereka tau orang Indo males ngitung angka, tapi sebenernya ini masih naik
Gaji sebelumnya 54.051.903
Gaji sekarang 65.595.730
Brengsek
Demon Slayer: Infinity Castle's international reign continues 🔥
🇰🇷 South Korea presales have exceeded 814,000+ tickets. Overtaking Spiderman: No Way Home and Doctor Strange in the Multiverse of Madness.
🇮🇩 Hits #1 Movie spot in Indonesia.
🇲🇾 Biggest anime release ever in Malaysia.
🇵🇭 Biggest Opening Day in the Philippines, with a massive ₱50.4 million.
🇭🇰 #1 spot in the Opening Day box office record for Japanese Films with $25.3M.
🇫🇷 Booked out the largest cinema in Europe, La Grand Rex, in under a minute. 10,000+ ticket requests, with ~2800 seats available.
🇺🇸 Breaks anime presale records and Fandango website with $10M In Advance Tickets.
🇦🇺 IMAX tickets already sold out in Sydney, Australia.
#鬼滅の刃 #DemonSlayer
Sungguh ini negeri yang gila. Keterima PTN itu harusnya momen membahagiakan, tapi justru kalimat pertama yang keluar dari mulut mereka
"kita gimana bayarnya?"
Semoga ada rejeki dari arah yang tak disangka-sangka.
@Ben3atha Alhamdulillah dari dulu udah konsisten boikot dan minimalisir produk terafiliasi. Insya Allah itu jadi jalan partisipasi yg mudah dukung Palestina. Smg istiqamah!
rangkuman berita indo yang gua inget taun 2025 ini:
- presiden anti kritik, omon2, ketinggalan jaman
- mantan presiden kita finalis occrp
- wapres planga-plongo, jadi juri lomba AI pula
- korupsi dimana-mana (paling tinggi nyentuh 5,9 kuadrilliun)
- koruptor hukuman nya lemah dan beberapa bahkan menjabat lagi
- sistem meritokrasi bullshit
- PHK dimana-mana
- dana pendidikan dan kesehatan dipangkas, dana kementrian malah ditambah
- program MGB ga bergizi
- efisiensi bullshit (rapat di fairmont, minum equil, tunjangan jabatan kelas atas kaga dipangkas, celana dalem tni bayarnya pake uang pajak rakyat)
- RUU TNI udah disahkan bahkan belom dipublikasi draft akhirnya (kemarin2 sulit di akses kita yg digaslight)
- danantara macem judi
- coretax bermasalah
- rupiah melemah, IHSG turun, saham anjlok, investor kabur
- IKN mangkrak (pernah tutup sehari macem dufan)
- deforestasi semakin tinggi, ujan dikit langsung banjir
- subsidi dicabut, bansos 1 taun ke depan ditiadakan
- polisi pedofil, pembunuh, pemalak
- opresi militer di papua yang ga kunjung kelar
- banyak nya ormas dan pungli gajelas
- PPN naik 12% (walopun akhirnya gajadi karena demo)