PAGI ITU LANGIT DI BANDUNG DAN JAKARTA NAMPAK CERAH.
Di Bandung, kendaraan mulai memenuhi Jalan Dago dan Pasteur. Kampus-kampus mulai ramai, kafe membuka pintu, dan para pekerja bersiap memulai hari. Sekitar 150 kilometer di barat lautnya, Jakarta sudah lebih dulu sibuk. Kereta komuter penuh, gedung-gedung perkantoran di Sudirman mulai menyala, dan ribuan orang bergerak cepat mengejar waktu.
Tidak ada yang menyadari bahwa jauh di selatan Pulau Jawa, di zona subduksi tempat Lempeng Indo-Australia menekan Eurasia, sebuah patahan raksasa baru saja melepaskan energi.
Detik itu juga, gelombang pertama gempa—gelombang P—meluncur menembus batuan bumi.
Gelombang itu terlalu lemah untuk dirasakan manusia.
Namun tidak bagi ratusan sensor seismik milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang tersebar di sepanjang Jawa Barat dan dasar laut Samudra Hindia.
Sinyal pertama tiba di sensor-sensor pantai selatan.
Data mentah langsung mengalir ke pusat komputasi nasional. Server berkecepatan tinggi mulai memprosesnya.
Di dalam sistem itu, algoritma Artificial Intelligence yang telah dilatih dari jutaan rekaman gempa Indonesia langsung mengenali pola gelombang pertama. Dalam waktu kurang dari satu detik, model tersebut memperkirakan lokasi sumber gempa, kedalaman, dan magnitudo awal.
Simulasi cepat dijalankan.
Model propagasi gelombang menunjukkan sesuatu yang serius: guncangan kuat akan mencapai Bandung lebih dulu, kemudian beberapa detik setelahnya merambat ke Jakarta.
Keputusan dibuat secara otomatis.
Sistem peringatan dini nasional mengirimkan notifikasi darurat.
Ponsel di Bandung tiba-tiba bergetar bersamaan ...