Tapi terlalu sepi di sini. Mungkin karena sudah lewat tengah malam?
Seharusnya ia memang beristirahat dan bukannya berkeliaran di tengah jalanan Mitras yang sepi.
@nyctophiys melihat langsung perubahan wujud Levi. Kedua mata hijaunya melebar, mulutnya terbuka dan ia seakan ingin berteriak. Eren tidak terlihat takut, sebaliknya, ia merasa begitu takjub.
"Rubah!" serunya, kembali mendekat. Eren menatap dari dekat, kemudian mencoba untuk menyentuh -
@nyctophiys dan manik hijaunya melebar antusias.
"Bolehkah?!" Eren langsung mendekat, menjulurkan tangannya untuk mengusap ekor sang paman. "Wah! Lembut sekali!" serunya dengan senyum lebar.
@nyctophiys Eren sudah akan protes lagi, dan hampir kembali merengek karena ingin mengusap ekornya. Lagipula tidak ada siapapun di rumahnya, jadi Eren merasa belum waktunya ia pulang.
Tapi sebelum melempar protes, ia mendengar Levi memberikan izin. Wajahnya berubah lebih cerah, -
@nyctophiys Eren terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya terlihat kecewa, dan ia sedikit menunduk. Ia hanya ingin tahu kenapa Levi memiliki wujud yang berbeda dengan orang lain.
Diminta untuk kembali pulang, Eren langsung menolak. "Tidak! Eren masih mau di sini," protesnya dengan pipi yang -
@nyctophiys pertanyaan!" Ia menaruh tusuk dango di atas piring, kemudian ikut turun dari kursinya dan melangkah mendekati.
"Paman, kenapa punya ekor? Eren boleh pegang?" tanyanya agak ragu, tapi penasaran. Ekor dan telinganya terlihat seperti bukan hiasan.
@nyctophiys Eren hanya menatap ketika kepalanya diusap. Ia ingin bertanya apa bedanya, karena ibunya selalu meminta Eren untuk tidak menyentuh makanan mentah. Tapi sebelum pertanyaan tersebut terlontar, ia berganti fokus pada Levi yang mengatakan akan pergi.
"Eh? Tapi Eren masih punya -
@nyctophiys ketika Levi mengatakan akan membawakan daging kelinci untuknya, tapi kemudian ia terdiam lagi sesaat. "Mentah? Tapi ibuku bilang harus makan daging yang matang!"
@nyctophiys Kedua alisnya terangkat setelah mendengar kalau rasanya seperti daging yang biasa ia makan. "Seperti ayam? Ooh!"
Sebetulnya ia masih belum yakin, bayangan kelinci yang melompat-lompat sambil bermain atau mengunyah wortel masih ada di pikirannya. Eren sudah bersemangat -
@nyctophiys "Benarkah?" Eren masih menatap, manik hijaunya menyiratkan rasa ingin tahu. "Rasanya enak?"
Eren masih tidak bisa membayangkan kelinci yang biasanya ia lihat sebagai hewan peliharaan, kini menjadi santapan.
"Eren mau coba, tapi kelincinya kasihan!" Dahinya berkerut -
@nyctophiys Eren mengangguk, melanjutkan makan dango sambil mengunyahnya dengan pelan. Ia menikmati makanannya dengan kedua kaki berayun di bawah kursi.
"Kelinci? Paman makan kelinci panggang?" Eren menoleh, kelihatan terkejut. Ia tidak tahu kalau kelinci juga bisa dimakan. Bukankah -