Ia sempat terdiam mengambil satu tarikan nafas. Dinginnya malam terasa lebih menusuk daripada malam sebelumnya.
"... Ayo kita tutup gerbangnya dulu, Shakir."
Mendengar respon Chione yang tidak menolak pelukan darinya, membuat Shakir terkekeh.
"Awalnya aku sendiri merasa mereka akan sebal denganku. Syukurlah tidak," ujarnya sambil tertawa, "Sudah yuk berberesnya. Aku buatkan minuman ya untukmu."
Rasa sakit perlahan menguar, Chione menggenggam kain pembersih lebih erat dari sebelumnya.
"... Aku juga akan merindukan kehebohan anak-anak dalam kuil. Kuharap... mereka akan selalu berbahagia diluar kuil."
"Mhm. Kamu juga Guardian yang baik sekali. Hahh... Bakal kangen juga dengar celotehan mereka," sambungnya sambil tertawa kecil, kali ini sedikit terdengar pahit akhirnya.
"Semoga mereka juga sukses deh setelah mereka menemukan tujuan baru."
Tidak biasanya Shakir akan memberikan pelukan penghibur, namun Chione tak menolaknya, pun tak menoleh jua kepada lelaki dibelakangnya.
"Aku yakin akan hal itu. Terima kasih, Shakir. Kamu juga sudah menjadi Guardian yang sangat baik. Anak-anak sangat sayang kepadamu."
Shakir berhenti menyapu sejenak untuk mendengarkan Chione. Ia kemudian menyampingkan sapu yang ia gunakan untuk menghampiri wanita tersebut dan memberinya sebuah pelukan penghiburan.
"Mereka anak-anak yang baik, pasti ada tempat yang baik juga untuk mereka di luar kuil."
@bamboo__sword Ia sedikit bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut.
"Kami hanya avatar para dewa dan dewi mesir, Nak. Ketika dewa dan dewi mesir sudah meninggalkan tubuh kami... Kami bukanlah lagi para Guardians."