Mulai sekarang berpikirnya begini saja: kalau semua ini adalah bagian dari proses, artinya ada rencana yang telah Tuhan siapkan.
Semoga saja kamu diberi sabar dan senyum yang cukup untuk menikmati prosesnya.
"Kepandaian bukan kelicikan yang menyamar; kelicikan adalah kepandaian yang kehilangan moral. Kebodohan bukan kebaikan yang bernasib buruk; kebaikan tanpa kebijaksanaan hanyalah niat yang belum belajar melihat akibat."
“Mengajar anak-anak di TPQ adalah khidmah terbaik. Mengajar basmalah, fatihah dsb. Pahalanya akan terus mengalir hingga di alam kubur.”
KH. Djamaluddin Ahmad
Saya belum pernah melihat maupun mendengar, baik langsung maupun lewat video, bahwa Habib Luthfi Bin Yahya ngerasani orang dengan keburukannya.
Entah mau namanya disamarkan atau tidak, saya belum pernah mendengarnya keluar dari mulut Habib Luthfi secara langsung.
Tapi saya sering dengar secara langsung bahwa Habib Luthfi dijadikan bahan rasan-rasan, entah disebut namanya langsung atau disamarkan, oleh banyak sekali orang.
Kalau orang bodoh yang melakukannya, yaudah lah. Orang bodoh mau diapain lagi.
Tapi jika yang rasan-rasan ini ternyata orang alim, di panggung memakai jubah, gelarnya “kiai haji prof doktor”, bahkan mursyid thariqah, tentu saja saya mengelus dada.
Dulu sekali, sewaktu di kamar beliau, ada tiga syaikh dari luar negeri. Kami menemani dan tentu saja menyimak percakapan orang-orang alim ini yang sedang membicarakan Ibn Arabi.
Ketika tiga Syaikh ini pamit, kami menyeruput kopi, dan ngobrol sedikit dengan Habib yang berpakaian oblong putih, celana putih, berkalung tasbih coklat, dan berpeci putih.
Dilalah, di tengah percakapan, Habib pamit.
“Sik, yo.” (Sebentar, ya)
Beliau langsung berdiri. Menghadap kiblat. Siwakan sebentar. Lalu salat empat rakaat.
Disebut cepat, tidak. Disebut lambat, juga tidak. Ritme beliau salat itu pas.
Saya bersama Gus Aqil Wira Aji waktu itu. Sewaktu mau pamit, saya minta doa kefutuh. Gus Aqil minta doa padang ati (hatinya mungkin terlalu dark).
Hingga isu nasab bergulir, saya berjodoh lagi bertemu Habib Luthfi. Tentu saja melihat fitnah yang menyeret nama beliau, di dalam hati saya gregetan:
“Njenengan kok diam saja difitnah sampai begini, Habib? Apa gak mau bersuara? Mboya ngendhika, meski sedikit.”
Tapi jawaban Habib Luthfi cukup bisa dimengerti, dan menghentikan keinginan saya:
“Mau gimana lagi. Belum tentu istighfar-ku diterima. Siapa tahu dengan cara ini dosa-dosaku diampuni Gusti Allah.”
Melihat video salah satu tokoh ngerasani beliau, dalam hati saya mBatin:
“Lahaula wala quwwata illa billah.”
Saat membuka Facebook, saya diberi kenangan dua foto di bawah ini. Mungkin ini takdir, jadi saya unggah semuanya.
Karena beliau berdua punya karakter yang sama, tabassum. Murah senyum. Tidak hanya senyum, tapi senyum yang menenangkan.
Bagaimana pun, salah satu ciri khas Kanjeng Nabi adalah murah senyum yang bikin ayem.
Athalallahu baqa’ahuma. Amin.
Guys... stop nyeritain planning kelen dimasa depan ke siapapun, karena itu bisa memperbesar kemungkinan gagal.
Ini bukan mitos, ada penjelasan psikologisnya
Psikologku bilang, otak yang terus-menerus dalam mode waspada akan kehilangan kemampuannya untuk merasakan kebahagiaan kecil.
Mungkin itulah kenapa hal-hal yang dulu menyenangkan, sekarang terasa hambar dan tidak ada rasanya.
Rasulullah Saw pernah bersabda:
شرار أمتي الذين ولدوا في النعيم وغذوا به همهم ألوان الطعام وألوان البيان ويتشدقون في الكلام.
"Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang lahir dan tumbuh dalam kemewahan. Yang mereka pikirkan hanyalah aneka makanan, ragam retorika, serta gemar bertutur dengan dibuat-buat dan berlebih-lebihan." (HR. al-Hakim)
Tidak sedikit orang yang mengedepankan keindahan berbicara daripada memastikan isi ucapannya benar.
Padahal, retorika yang berlebihan bisa membuat orang lain kesulitan untuk membedakan antara perkara yang hak dan yang batil.
Sebab, sesuatu yang batil pun dapat terlihat benar jika disampaikan dengan kata-kata yang indah, suara yang meyakinkan, dan gaya bicara yang memikat.
Karena itu, jangan hanya terpukau oleh kefasihan lisan atau keindahan tulisan. Lihat juga apakah yang disampaikan benar atau tidak.
dr tirta : usaha dulu apa tawakkal dulu?
aldi taher : tawakkal dulu, baru dagang
dr tirta : rugi tetep bersyukur, untung tetep??
aldi : rugi itu di neraka bang. jadi kalo orang dagang, tiba tiba dia rugi, itu bukan rugi… tapi rezekinya segitu, syukuri.
dr tirta : 👏🏻👏🏻👏🏻
Sebagian para ahli hikmah berkata:
“Barang siapa dianugerahi empat perkara, maka ia tidak akan terhalang dari empat perkara lainnya:
siapa yang diberi kemampuan bersyukur, tidak akan dihalangi dari tambahan nikmat;
siapa yang diberi taufik untuk bertaubat, tidak akan dihalangi dari diterimanya taubat;
siapa yang diberi taufik untuk beristikharah, tidak akan dihalangi dari pilihan terbaik;
dan siapa yang diberi kemampuan bermusyawarah, tidak akan dihalangi dari kebenaran.”
—Uyun al-Akhbar
"Rezeki terendah adalah harta. Rezeki terbesar adalah kesehatan. Maka jangan dibolak-balik mempertaruhkan kesehatanmu demi mengejar harta."
Gus Baha'
@dawuhguru
الأم مدرسة الأولى, إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
ibu adalah madrasah (sekolah) yang pertama, jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.